Gus Yahya Tekankan Pemikiran KH Wahab untuk Hadapi Perubahan Dunia dan Arah Perjuangan NU
Ketua Umum (Ketum) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) K.H. Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya mengajak warga Nahdlatul Ulama (NU) kembali memahami pemikiran K.H. Abdul Wahab Chasbullah dalam menghadapi perubahan dunia. (Foto: NU)
Editor: A. Rayyan K
GEBRAK.ID, JOMBANG — Ketua Umum (Ketum) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) K.H. Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya mengajak warga Nahdlatul Ulama (NU) kembali memahami pemikiran K.H. Abdul Wahab Chasbullah dalam menghadapi perubahan dunia.
Menurut Gus Yahya, Kiai Wahab tidak sekadar memikirkan bagaimana mempertahankan tradisi dan warisan yang sudah ada. Pendiri NU tersebut juga memikirkan langkah yang harus ditempuh ulama dan umat Islam ketika menghadapi perubahan zaman.
“Mbah Wahab itu melihat dunia berubah. Dan kemudian beliau berpikir ulama dan umat Islam ini di tengah dunia yang berubah ini harus melakukan apa? Bukan hanya soal harus mempertahankan apa, tapi apa yang harus diperjuangkan ke depan,” kata Gus Yahya dalam keterangan yang diterima di Jombang, Jawa Timur, Minggu (16/8/2026).
Gus Yahya menyampaikan pandangan tersebut saat menghadiri bedah buku mengenai pemikiran dan biografi K.H. Abdul Wahab Chasbullah di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.
Gus Yahya menilai cara berpikir Mbah Wahab tetap relevan untuk menjadi inspirasi NU dalam menentukan arah perjuangan organisasi di tengah perubahan sosial dan global yang terus berlangsung.
Menurut Gus Yahya, semangat tersebut juga perlu menjadi bagian dari pelaksanaan Muktamar Ke-35 NU. Agenda besar organisasi itu akan berlangsung di lingkungan pesantren yang menjadi salah satu tempat penting dalam perjalanan perjuangan K.H. Abdul Wahab Chasbullah.
Muktamar Ke-35 NU akan menjadi momentum khusus karena berlangsung pada tahun ke-100 dalam penanggalan Masehi. Selain itu, kegiatan tersebut berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, tempat Kiai Wahab dimakamkan.
“Saya kira muktamirin dan warga NU yang berpartisipasi di dalam muktamar ini harus ingat, ini adalah muktamar di pesantren pendiri dan Mbah Wahab ada di sini, makam beliau ada di tengah-tengah pesantren ini. Jangan sampai siapa pun yang menginjakkan kaki di atas bumi Tambakberas ini lupa kepada Mbah Wahab,” ujar Gus Yahya.
Terkait mekanisme pemilihan kepemimpinan PBNU, termasuk gagasan penggunaan ahwa maupun konsep lainnya, Gus Yahya mengatakan seluruh usulan dapat dibahas dalam forum muktamar.
Gus Yahya menekankan bahwa setiap gagasan harus berangkat dari kepentingan organisasi dan kemaslahatan jamiyah Nahdlatul Ulama, bukan kepentingan politik atau kepentingan jangka pendek.
“Terserap apa pun gagasan yang diajukan, itu tidak masalah sepanjang niatnya sungguh-sungguh untuk kemaslahatan NU. Kita bisa mendiskusikan apa saja asal niatnya adalah untuk kemaslahatan jamiyah, bukan untuk kepentingan-kepentingan jangka pendek tapi untuk kemaslahatan jamiyah NU,” katanya.
Gus Yahya juga menjelaskan bahwa Muktamar Ke-35 NU tetap akan berjalan berdasarkan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) yang berlaku saat ini.
Jika forum muktamar nantinya menyepakati perubahan AD/ART, ketentuan baru tersebut tidak serta-merta menjadi dasar pelaksanaan Muktamar Ke-35. Perubahan itu baru akan berlaku sebagai dasar penyelenggaraan Muktamar Ke-36 NU.
“Yang ada itu yang menjadi dasar. Kalau nanti di dalam muktamar ini ada keputusan untuk membuat perubahan-perubahan di dalam AD/ART, maka itu akan berlaku pada muktamar yang akan datang, Muktamar Ke-36,” ujar Gus Yahya.
PBNU dijadwalkan menggelar Muktamar Ke-35 NU pada 27–31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang.
Presiden RI Prabowo Subianto dijadwalkan menghadiri pembukaan muktamar tersebut. Forum ini diperkirakan menjadi salah satu agenda penting bagi NU dalam menentukan arah organisasi sekaligus merumuskan langkah menghadapi perubahan zaman.
(Sumber: PBNU)
