Gunung Anak Krakatau Erupsi 4 Kali Sehari, Kolom Abu Tembus 300 Meter, Status Siaga Dipertahankan

1786929330526

Aktivitas Meningkat Fluktuatif, Masyarakat dan Nelayan Diimbau Jauhi Radius Bahaya 3 Kilometer dari Kawah. (Foto:pvmbg)

Editor: Dinar Kencana

GEBRAK.ID,JAKARTA– Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK) di perairan Selat Sunda mengalami peningkatan signifikan pada Minggu (16/8/2026). Dalam kurun waktu kurang dari 12 jam, gunung api yang berstatus Siaga (Level III) ini tercatat mengalami empat kali erupsi, dengan kolom abu tertinggi mencapai 300 meter di atas puncak.

Kepala Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau, Andi Suwardi, mengatakan rangkaian erupsi terjadi pada pukul 09.12 WIB, 14.32 WIB, 17.06 WIB, dan 20.09 WIB. Tinggi kolom abu pada tiga erupsi pertama berturut-turut teramati sekitar 200 meter, 250 meter, dan 300 meter di atas puncak, dengan warna kelabu hingga hitam pekat yang bergerak ke arah barat dan barat laut.

“Memang hari ini aktivitas erupsi kembali terjadi beberapa kali. Kami masih terus memantau perkembangan dari data kegempaan maupun pengamatan visual,” ujar Andi saat dikonfirmasi, Minggu malam.

Sementara itu, pada erupsi keempat yang terjadi pukul 20.09 WIB, kolom abu tidak teramati secara visual karena kondisi malam hari. Namun, aktivitas tersebut terekam jelas pada seismograf dengan amplitudo maksimum mencapai 60 milimeter dan durasi sekitar 38 detik.

Badan Geologi Kementerian ESDM mencatat total delapan kali letusan disertai semburan lava pijar sepanjang hari Minggu. Selain letusan, terekam juga 46 kali gempa hembusan, 10 kali tremor harmonik, serta 11 kali gempa hybrid/fase banyak yang mengindikasikan pergerakan fluida dan magma di dalam gunung.

Status Siaga dan Radius Bahaya Tetap Berlaku

Meskipun aktivitas erupsi meningkat, status Gunung Anak Krakatau masih bertahan di Level III (Siaga) dan belum dinaikkan ke Level IV (Awas). PVMBG Badan Geologi mengeluarkan rekomendasi ketat agar masyarakat, wisatawan, pendaki, maupun nelayan tidak mendekati kawah aktif dalam radius 3 kilometer.

“Jangan menganggap karena letusannya 200 meter kemudian kondisinya sudah aman. Yang kami lihat bukan hanya satu kejadian erupsi, tetapi keseluruhan data pemantauan,” tegas Andi Suwardi.

Masyarakat pesisir diimbau tetap tenang namun waspada terhadap potensi bahaya lanjutan seperti hujan abu vulkanik jika arah angin berubah menuju daratan. Untuk mengantisipasi dampak abu, masyarakat disarankan menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan .

Nelayan Terdampak, Hasil Tangkapan Menurun

Peningkatan aktivitas vulkanik ini turut berdampak pada kehidupan nelayan di perairan Selat Sunda. Beberapa nelayan mengaku pendapatan mereka menurun drastis hingga 75 persen karena getaran akibat erupsi diduga membuat ikan menjauh dari lokasi penangkapan .

“Kalau pengaruh terhadap pendapatan sudah pasti ada. Biasanya kalau ada getaran atau letusan Gunung Anak Krakatau, hasil tangkapan nelayan ikut berkurang,” ujar Yudi, seorang nelayan asal Lampung Selatan .

Meski demikian, aktivitas penangkapan ikan di perairan sekitar Kalianda dan pesisir Pandeglang, Banten, masih berlangsung. Nelayan memilih melaut di area yang dinilai lebih aman meskipun hasil tangkapan tidak sebanyak biasanya .

Pemantauan Ketat dan Imbauan Tenang

Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan bersama PVMBG dan BMKG terus melakukan pemantauan intensif terhadap aktivitas Gunung Anak Krakatau. BMKG memastikan belum ditemukan indikasi anomali muka air laut yang mengarah pada potensi tsunami akibat rangkaian erupsi ini .

Andi Suwardi mengimbau masyarakat untuk tidak mudah percaya pada informasi yang belum terverifikasi dan hanya mengikuti informasi resmi dari Badan Geologi atau PVMBG. “Kalau ada perkembangan aktivitas, informasi resmi akan disampaikan melalui Badan Geologi atau PVMBG. Masyarakat kami minta mengikuti informasi tersebut dan tidak mudah percaya informasi yang tidak jelas sumbernya,” pungkasnya .


( berbagai sumber)