CEO OpenAI Sam Altman Sebut Kuliah 4 Tahun Terlalu Lama, Ini Alasannya
CEO OpenAI Sam Altman menilai masa kuliah empat tahun tidak selalu menjadi pilihan paling efektif bagi setiap orang. Menurutnya, perubahan cara belajar dan bekerja membuat durasi pendidikan tinggi layak dipertanyakan kembali. (Foto: OpenAI)
Editor: Devona R
GEBRAK.ID, JAKARTA — CEO OpenAI Sam Altman menilai masa kuliah empat tahun tidak selalu menjadi pilihan paling efektif bagi setiap orang. Menurutnya, perubahan cara belajar dan bekerja membuat durasi pendidikan tinggi layak dipertanyakan kembali.
Altman tidak menampik bahwa dirinya mendapatkan banyak pengalaman berharga selama berada di universitas. Ia mengaku menikmati kesempatan bertemu banyak orang, hidup mandiri, hingga mengerjakan berbagai proyek.
Namun, pengalaman tersebut juga membuatnya berpikir bahwa memperpanjang masa pendidikan hingga empat tahun belum tentu memberikan manfaat yang sebanding bagi semua mahasiswa.
“Saya rasa saya belajar banyak hal dan (jika dilanjutkan) manfaatnya akan sangat jauh berkurang,” kata Altman, dikutip dari First Post, Selasa (18/8/2026).
Menurut Altman, dunia kerja dan pola belajar saat ini telah mengalami perubahan besar. Kemajuan teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), turut mengubah cara seseorang memperoleh pengetahuan dan membangun karier.
Karena itu, ia mempertanyakan anggapan bahwa pendidikan universitas harus selalu ditempuh selama empat tahun. Meski demikian, Altman tidak mengajak anak muda meninggalkan pendidikan tinggi begitu saja.
Pandangan tersebut memiliki kemiripan dengan gagasan Peter Thiel, salah satu pendiri PayPal sekaligus mantan mentor Altman. Thiel pernah mendukung program beasiswa yang memberikan kesempatan kepada anak muda untuk mengembangkan proyek mereka dibandingkan mengikuti jalur pendidikan tinggi secara konvensional.
Bagi Altman, pendidikan tetap memiliki nilai penting. Namun, ia melihat pengalaman praktis dan kesempatan membangun sesuatu juga dapat menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran.
AI Ubah Cara Membangun Startup
Perubahan paling besar, menurut Altman, terlihat dalam dunia kewirausahaan. Kehadiran AI membuat calon pendiri perusahaan kini dapat mengembangkan bisnis dengan sumber daya yang jauh lebih kecil dibandingkan sebelumnya.
Seorang pendiri startup bahkan bisa memanfaatkan berbagai teknologi AI untuk membuat produk, melakukan riset, mengembangkan strategi, hingga menjalankan sejumlah pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan tim besar.
Situasi tersebut membuat hambatan bagi anak muda yang ingin membangun perusahaan semakin rendah. Mereka tidak harus menunggu memiliki modal besar atau puluhan pegawai untuk mulai menguji sebuah ide.
Meski begitu, Altman mengingatkan bahwa kredibilitas tetap memiliki peran dalam kondisi tertentu. Ia pernah mengalami sendiri bagaimana usia dan pengalaman menjadi pertimbangan ketika berhadapan dengan perusahaan besar.
Dalam situasi seperti itu, Altman memilih membawa orang yang lebih tua dan berpengalaman untuk bergabung dalam timnya. Langkah tersebut membantunya mendapatkan kepercayaan dari pihak yang sebelumnya lebih memperhatikan faktor usia dan senioritas.
Jangan Takut Mencoba Banyak Ide
Altman juga memiliki pandangan berbeda mengenai anggapan bahwa calon pengusaha muda harus langsung menentukan satu proyek dan fokus hanya pada proyek tersebut.
Menurutnya, mencoba beberapa ide pada tahap awal justru dapat membantu seseorang mengetahui bidang yang paling menarik sekaligus menemukan kemampuan yang paling menonjol dalam dirinya.
Eksplorasi tersebut tidak harus dianggap sebagai kegagalan. Sebaliknya, mengerjakan beberapa proyek dapat menjadi proses untuk menemukan arah yang benar sebelum seseorang mengambil keputusan besar.
Namun, fase eksplorasi pada akhirnya harus memiliki titik akhir. Ketika seseorang sudah menemukan proyek yang benar-benar diyakini, Altman menyarankan agar fokus penuh diberikan kepada proyek tersebut.
Artinya, mencoba berbagai hal boleh dilakukan ketika seseorang masih mencari arah. Setelah menemukan sesuatu yang dianggap paling penting, kemampuan untuk meninggalkan gangguan dan berkomitmen menjadi jauh lebih menentukan.
Pemikiran Altman tentang kuliah empat tahun pada akhirnya bukan sekadar persoalan lama atau singkatnya masa pendidikan. Ia mempertanyakan apakah jalur pendidikan dan karier yang selama ini dianggap baku masih selalu sesuai dengan perubahan zaman.
Di tengah perkembangan AI dan perubahan kebutuhan dunia kerja, anak muda kini memiliki lebih banyak pilihan untuk belajar, bereksperimen, dan membangun sesuatu. Pendidikan formal tetap memiliki tempat, tetapi pengalaman langsung juga semakin penting dalam membentuk kemampuan dan menentukan masa depan.
(Sumber: First Post)
