Chris John Jadi Karakter Animasi Dragon’s Dojo, Namanya Dipakai Sebagai Mentor

Dragons-Dojo

Legenda tinju Indonesia Chris John mengambil peran unik dalam serial animasi Dragon’s Dojo. Bukan sekadar menjadi inspirasi, namanya juga digunakan langsung sebagai karakter dalam serial tersebut. (Foto: Variety)

Editor: Devona R

GEBRAK.ID, JAKARTA — Legenda tinju Indonesia Chris John mengambil peran unik dalam serial animasi Dragon’s Dojo. Bukan sekadar menjadi inspirasi, namanya juga digunakan langsung sebagai karakter dalam serial tersebut.

Dalam Dragon’s Dojo, Chris John hadir sebagai mentor sekaligus kepala instruktur di sebuah akademi bela diri. Karakter tersebut membimbing sekelompok anak muda yang tidak hanya berlatih menjadi petarung, tetapi juga belajar tentang disiplin dan kehidupan.

Chris John mengungkapkan, keterlibatannya bermula dari proses pengembangan karakter bersama tim produksi. Ia ikut berdiskusi mengenai bagaimana sosoknya diterjemahkan ke dalam dunia animasi.

“Kami bersama-sama mengembangkan karakter saya, dan telah berdiskusi tentang bagaimana saya akan ditampilkan dalam serial ini. Saya sangat antusias melihat karakter ini mulai menjadi hidup,” ujar Chris John dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Rabu (19/8/2026).

Karakter tersebut tetap menggunakan nama Chris John. Tim produksi juga mengambil sejumlah prinsip serta pengalaman nyata sang mantan juara dunia untuk membangun sosok mentor dalam cerita.

“Ya, karakter saya dalam Dragon’s Dojo bernama Chris John. Karakter itu terinspirasi dari diri saya dan akan memiliki prinsip serta nilai-nilai yang sangat mirip dengan yang saya pegang,” katanya.

Bukan cuma nama dan sosoknya yang diadaptasi. Unsur tinju dalam karakter Chris John juga mengacu pada pengalaman profesionalnya, mulai dari kecepatan, pergerakan, timing, pertahanan hingga kombinasi pukulan.

Meski begitu, Chris John menilai nilai terpenting yang ingin dibawa melalui karakter tersebut bukan sekadar kemampuan bertarung.

“Hal terpenting yang saya bawa kepada para karakter muda ini bukanlah satu pukulan atau teknik tertentu, melainkan disiplin dan pola pikir yang saya pelajari sepanjang karier saya,” ujarnya.

Dalam ceritanya, para murid akademi bela diri akan menghadapi kemunculan makhluk-makhluk mitologi yang sudah dikenal dalam berbagai kisah lama. Mereka kemudian terlibat dalam upaya mengungkap misteri yang berkembang di sekitar mereka.

Chris John juga menilai format vertikal yang digunakan Dragon’s Dojo cocok untuk menampilkan adegan pertarungan. Format tersebut memungkinkan kamera lebih fokus pada interaksi jarak dekat antarkarakter.

“Tinju sebenarnya cukup cocok dengan format ini karena banyak unsur dramanya terjadi antara dua petarung yang saling berhadapan. Yang terpenting adalah pertarungannya tetap terasa menarik dan autentik, apa pun bentuk layarnya,” kata Chris John.

Serial Dragon’s Dojo diproduksi Silver Media Group bersama Harun Kurniawan dan Koollab Studios. Hingga kini, rumah produksi belum mengumumkan tanggal rilis resmi, tetapi tim menargetkan peluncuran pada awal 2027.

Sebelum serial tersebut tayang, tim produksi berencana memperkenalkan sejumlah cuplikan visual melalui media sosial pada 2026. Strategi itu diharapkan dapat membangun perhatian penonton Indonesia sekaligus menjangkau pasar internasional.

Dragon’s Dojo juga tidak berdiri sebagai proyek tunggal. Serial tersebut dirancang menjadi pintu awal menuju ASERYA Asian Mythology Franchise, sebuah semesta yang mempertemukan berbagai cerita dan karakter dari mitologi Asia.

Karakter Chris John nantinya berpotensi bertemu dengan tokoh-tokoh pahlawan dari negara Asia lainnya ketika cerita mereka bertemu dalam satu dunia.

“Saya merasa sangat antusias bahwa cerita-cerita lain dari Asia juga akan menghadirkan karakter yang terinspirasi dari ikon dan sosok panutan nyata di negara masing-masing,” cetus Chris John.

Pengembangan Dragon’s Dojo bahkan disiapkan untuk berlanjut ke berbagai produk turunan. Manajemen membuka peluang ekspansi ke gim, komik, dan produk lain setelah serial animasi tersebut rampung.

Chris John pun menyatakan siap kembali terlibat jika pengalaman profesionalnya dibutuhkan untuk menjaga unsur pertarungan tetap autentik.

“Jika pengalaman saya dapat membantu membuat versi-versi karakter ini menjadi lebih autentik, terutama dalam elemen pertarungan dan latihan, saya dengan senang hati akan berkontribusi,” ujarnya menandaskan. (*)