Harga HP Diprediksi Terus Naik hingga 2027 Era Android Murah Terancam Berakhir

gen z gadget

Era ponsel Android murah diperkirakan menghadapi tantangan besar setelah harga komponen memori melonjak akibat meningkatnya kebutuhan industri kecerdasan buatan atau AI. (Foto ilustrasi: Freepik)

Editor: Devona R

GEBRAK.ID — Era ponsel Android murah diperkirakan menghadapi tantangan besar setelah harga komponen memori melonjak akibat meningkatnya kebutuhan industri kecerdasan buatan atau AI.

Firma riset IDC memperkirakan pengiriman smartphone global pada 2026 akan mengalami penurunan lebih dalam dibandingkan proyeksi sebelumnya. Dalam perkiraan terbaru, pengiriman ponsel secara global diprediksi turun 16,7 persen sepanjang tahun ini.

Angka tersebut lebih buruk dibandingkan proyeksi IDC pada Mei 2026 yang memperkirakan penurunan sebesar 13,9 persen. Salah satu faktor utama yang menekan pasar smartphone adalah melonjaknya harga komponen memori.

Harga NAND dan RAM dilaporkan meningkat lebih dari 300 persen secara tahunan. Kondisi tersebut terjadi ketika produsen chip mengalihkan kapasitas produksinya untuk memenuhi permintaan pusat data AI.

Pusat data yang menopang berbagai layanan AI menawarkan margin keuntungan lebih tinggi sehingga produsen chip memiliki insentif besar untuk memprioritaskan kebutuhan tersebut. Akibatnya, pasokan komponen untuk perangkat konsumen seperti smartphone ikut tertekan.

Kenaikan biaya produksi membuat produsen ponsel berada dalam posisi sulit. Vendor tidak lagi leluasa menyerap seluruh tambahan biaya sehingga sebagian beban akhirnya diteruskan kepada konsumen melalui kenaikan harga perangkat.

IDC mencatat harga jual rata-rata smartphone melonjak 27,61 persen menjadi 581 dolar AS. Dengan asumsi kurs Rp16.500 per dolar AS, angka tersebut setara sekitar Rp9,59 juta.

Kenaikan harga tersebut juga tidak diperkirakan hanya berlangsung sementara. IDC memproyeksikan harga smartphone masih akan meningkat hingga 2027, sehingga konsumen berpotensi menghadapi harga perangkat yang semakin mahal.

“Gelombang besar kenaikan harga memori yang telah kami peringatkan kini menghantam pasar sepenuhnya, dan konsumen mulai membayar tagihan AI,” kata Francisco Jeronimo, Vice President for Worldwide Client Devices IDC dikutip pada Jumat (28/8/2026).

Situasi ini berpotensi mengubah peta pasar smartphone, terutama segmen perangkat murah yang selama ini mengandalkan harga terjangkau sebagai daya tarik utama.

Jika biaya komponen tetap tinggi, produsen kemungkinan harus memilih antara menaikkan harga, mengurangi spesifikasi, atau menekan margin keuntungan. Kondisi tersebut dapat membuat ponsel Android murah semakin sulit dipertahankan dalam jangka panjang.

Bagi konsumen, tren ini berarti membeli smartphone baru bisa membutuhkan anggaran lebih besar. Sementara itu, industri ponsel harus menghadapi tantangan baru akibat persaingan mendapatkan komponen memori dengan sektor AI yang terus berkembang.

(Sumber: IDC)