Bank Dunia: 64,2 Persen Penduduk Indonesia di Bawah Standar Kemiskinan Negara Upper-Middle Income

1788356434407

Angka kemiskinan Indonesia berdasarkan garis kemiskinan negara berpendapatan menengah atas masih tinggi, meski tren diproyeksikan terus menurun hingga 2028. (Foto: ist)

GEBRAK.ID,JAKARTA – Bank Dunia mencatat tingkat kemiskinan Indonesia masih relatif tinggi jika diukur menggunakan standar kemiskinan negara berpendapatan menengah atas atau upper-middle income. Dalam laporan Macro Poverty Outlook edisi April 2026, Bank Dunia memperkirakan 64,2 persen penduduk Indonesia berada di bawah garis kemiskinan US$8,30 per orang per hari berdasarkan paritas daya beli atau Purchasing Power Parity (PPP) 2021.

Angka tersebut merupakan estimasi untuk 2025. Bank Dunia memproyeksikan persentasenya turun menjadi 63,1 persen pada 2026 dan kembali turun menjadi 62,0 persen pada 2027.

Namun, angka tersebut tidak dapat disamakan dengan angka kemiskinan resmi pemerintah Indonesia.

Bukan berarti 64,2 Persen Orang Indonesia Miskin

Perbedaan tersebut penting karena Bank Dunia menggunakan sejumlah garis kemiskinan internasional untuk membandingkan kondisi masyarakat antarnegara. Setelah memperbarui metodologi PPP, Bank Dunia menggunakan tiga garis kemiskinan internasional, yakni US$3,00 per orang per hari untuk garis kemiskinan ekstrem, US$4,20 untuk negara berpendapatan menengah bawah (lower-middle income), serta US$8,30 untuk negara berpendapatan menengah atas (upper-middle income).

Dengan menggunakan garis US$8,30, Bank Dunia memperkirakan tingkat kemiskinan Indonesia mencapai 64,2 persen pada 2025. Sementara itu, berdasarkan garis kemiskinan internasional US$3,00 per hari, angka kemiskinan Indonesia jauh lebih rendah, yakni sekitar 3,6 persen pada 2025, dan diproyeksikan turun menjadi 3,2 persen pada 2026 serta 2,8 persen pada 2027.

Adapun dengan garis US$4,20 per hari, tingkat kemiskinan Indonesia diperkirakan mencapai 15,4 persen pada 2025, turun menjadi 14,3 persen pada 2026 dan 13,3 persen pada 2027.

Kemiskinan Nasional Indonesia Jauh Lebih Rendah

Jika menggunakan ukuran resmi pemerintah, tingkat kemiskinan Indonesia berada jauh di bawah angka tersebut. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat persentase penduduk miskin Indonesia pada Maret 2025 sebesar 8,47 persen. Angka tersebut turun 0,10 poin persentase dibandingkan September 2024 dan turun 0,56 poin persentase dibandingkan Maret 2024.

Bank Dunia sendiri mencatat angka kemiskinan resmi Indonesia berdasarkan garis kemiskinan nasional sebesar 8,5 persen pada Maret 2025, atau sekitar 23,9 juta orang.

Perbedaan tersebut terjadi karena garis kemiskinan nasional dan garis kemiskinan internasional memiliki tujuan pengukuran yang berbeda. Garis kemiskinan nasional digunakan pemerintah untuk mengukur kemiskinan sesuai kondisi dan standar kebutuhan masyarakat Indonesia. Sementara garis kemiskinan internasional Bank Dunia digunakan terutama untuk menghasilkan perbandingan yang lebih konsisten antarnegara.

Indonesia Masih Menghadapi Tingginya Kerentanan Ekonomi

Tingginya angka ketika menggunakan garis US$8,30 menunjukkan bahwa meskipun banyak masyarakat Indonesia tidak masuk kategori miskin berdasarkan garis kemiskinan nasional, sebagian masih berada pada tingkat pendapatan yang relatif rentan jika dibandingkan dengan standar kehidupan negara-negara berpendapatan menengah atas.

Bank Dunia menilai pertumbuhan ekonomi dan perluasan bantuan sosial tetap menjadi faktor penting dalam menurunkan tingkat kemiskinan. Dalam Macro Poverty Outlook April 2026, Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 4,7 persen pada 2026, sebelum meningkat menjadi sekitar 5,2 persen pada 2027-2028.

Bank Dunia juga memperkirakan kemiskinan berdasarkan garis US$4,20 turun secara bertahap seiring pertumbuhan ekonomi dan dukungan bantuan sosial. Lembaga tersebut menekankan pentingnya memperluas jangkauan perlindungan sosial, khususnya bagi pekerja di sektor informal yang masih cukup besar di Indonesia.

Angka Kemiskinan Diproyeksikan Terus Menurun

Data Bank Dunia menunjukkan tren penurunan pada ketiga garis kemiskinan internasional yang digunakan dalam laporan. Untuk garis US$3,00 per hari, tingkat kemiskinan diperkirakan turun dari 4,0 persen pada 2024 menjadi 3,6 persen pada 2025, kemudian 3,2 persen pada 2026 dan 2,8 persen pada 2027. Pada garis US$4,20, angkanya turun dari 16,4 persen pada 2024 menjadi 15,4 persen pada 2025 dan diproyeksikan mencapai 13,3 persen pada 2027.

Sedangkan pada garis US$8,30, tingkat kemiskinan diperkirakan turun dari 65,2 persen pada 2024 menjadi 64,2 persen pada 2025, kemudian 63,1 persen pada 2026 dan 62,0 persen pada 2027.

Dengan demikian, laporan Bank Dunia menunjukkan bahwa Indonesia memang mengalami penurunan kemiskinan, tetapi sebagian besar penduduk masih berada di bawah standar pendapatan yang digunakan untuk mengukur kemiskinan di kelompok negara upper-middle income.

Pentingnya Memahami Angka Kemiskinan

Angka 64,2 persen perlu dibaca secara hati-hati. Angka tersebut tidak berarti hampir dua pertiga penduduk Indonesia hidup dalam kemiskinan menurut definisi pemerintah Indonesia. Angka itu menunjukkan hasil pengukuran menggunakan garis US$8,30 per orang per hari yang ditujukan untuk membandingkan kondisi ekonomi masyarakat di negara-negara berpendapatan menengah atas. Bank Dunia juga menyediakan ukuran kemiskinan berdasarkan garis US$3,00 dan US$4,20 untuk tujuan perbandingan lainnya.

Karena itu, perbandingan angka 64,2 persen dengan angka kemiskinan nasional 8,47 persen tanpa menjelaskan garis kemiskinan yang digunakan dapat menimbulkan kesalahpahaman. Bagi Indonesia, tantangan berikutnya bukan hanya mengurangi jumlah penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan nasional, tetapi juga mendorong kelompok masyarakat yang masih rentan agar dapat meningkatkan pendapatan dan masuk ke kelas menengah secara lebih berkelanjutan.

(Dinar K/berbagai sumber)