Enam Gunung Api Erupsi Bersamaan, PVMBG Ungkap Penyebabnya: Tidak Saling Berkaitan
Gunung Ibu, Lewotobi Laki-laki, Ili Lewotolok, Semeru, Anak Krakatau, dan Sinabung erupsi dalam waktu berdekatan. PVMBG memastikan fenomena ini bukan tanda aktivitas vulkanik Indonesia meningkat serentak. ( Foto: PVMBG)
GEBRAK.ID,JAKARTA – Enam gunung api di Indonesia tercatat mengalami erupsi dalam waktu yang berdekatan pada akhir Agustus 2026. Fenomena tersebut sempat memunculkan kekhawatiran bahwa aktivitas vulkanik di berbagai wilayah Indonesia mengalami peningkatan secara bersamaan. Namun, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) memastikan erupsi tersebut tidak menunjukkan adanya hubungan langsung antargunung api.
Kepala PVMBG Badan Geologi, Rita Susilawati, menjelaskan bahwa kesamaan waktu erupsi tidak serta-merta berarti gunung-gunung tersebut saling memicu. Menurut Rita, masing-masing gunung api mempunyai sistem magma, karakteristik, serta perkembangan aktivitas yang berbeda. Dengan demikian, proses yang menyebabkan satu gunung memasuki fase erupsi tidak otomatis memengaruhi gunung api lainnya.
“Bersamaan waktunya, belum berarti berhubungan prosesnya,” ujar Rita dalam penjelasan terkait aktivitas enam gunung api tersebut.
Enam gunung api yang mengalami erupsi
Enam gunung api yang tercatat mengalami erupsi pada 31 Agustus 2026 tersebar di sejumlah wilayah Indonesia.Gunung-gunung tersebut yakni:Gunung Ibu di Halmahera Barat, Maluku Utara.Gunung Lewotobi Laki-laki di Flores Timur, Nusa Tenggara Timur.Gunung Ili Lewotolok di Lembata, Nusa Tenggara Timur.Gunung Semeru di Jawa Timur.Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda.Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara.
Rangkaian erupsi tersebut terjadi ketika sejumlah gunung api memang sedang berada dalam kondisi aktif dengan tingkat aktivitas masing-masing. Karena itu, PVMBG meminta masyarakat tidak mengaitkan fenomena tersebut dengan anggapan bahwa seluruh gunung api di Indonesia sedang mengalami peningkatan aktivitas secara serentak.
Sinabung paling mencolok, status naik menjadi Siaga
Salah satu aktivitas yang mendapat perhatian besar adalah erupsi Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Sinabung mengalami erupsi pada 31 Agustus 2026 sekitar pukul 10.17 WIB. Kolom abu teramati mencapai sekitar 3.500 meter di atas puncak, atau sekitar 5.960 meter di atas permukaan laut. Abu vulkanik bergerak ke arah timur hingga tenggara.
Setelah erupsi tersebut, Badan Geologi menaikkan tingkat aktivitas Gunung Sinabung dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) mulai 31 Agustus 2026 pukul 12.30 WIB. Sebelum erupsi, pemantauan juga merekam peningkatan kegempaan. Badan Geologi mencatat 85 gempa vulkanik, satu gempa hembusan, dan satu tremor harmonik sebelum erupsi terjadi.
BNPB kemudian melaporkan warga di wilayah yang berpotensi terdampak dievakuasi. Kawasan yang menjadi perhatian antara lain Desa Ndokum Siroga dan Kuta Tengah di Kecamatan Simpang Empat serta Desa Payung di Kecamatan Payung.
Anak Krakatau juga erupsi
Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda turut mengalami erupsi pada 31 Agustus 2026. Berdasarkan laporan pemantauan PVMBG, satu kali letusan tercatat pada pukul 05.56 WIB dengan kolom abu sekitar 200 meter di atas puncak. Gunung Anak Krakatau saat itu masih berada pada Level III atau Siaga.
PVMBG juga mengingatkan masyarakat, nelayan, pengunjung, dan wisatawan untuk tidak mendekati kawah aktif dalam radius tiga kilometer. Badan Geologi sebelumnya menjelaskan bahwa status Siaga Anak Krakatau tidak berarti setiap erupsi otomatis akan menimbulkan tsunami. Masyarakat diminta tidak mempercayai informasi yang belum terverifikasi dan mengikuti perkembangan melalui kanal resmi pemerintah.
Lewotolok dan gunung api lain tetap dipantau
Di Nusa Tenggara Timur, aktivitas Gunung Ili Lewotolok juga menjadi perhatian. Pada 31 Agustus 2026, gunung api di Kabupaten Lembata tersebut kembali mengalami erupsi dengan kolom abu sekitar 700 meter di atas puncak. Sebelumnya, aktivitas Ili Lewotolok sempat meningkat setelah gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Flores pada 15 Agustus 2026.
Pemantauan menunjukkan adanya aliran lava yang mencapai sekitar 1.200 meter dari bibir kawah ke sektor selatan.
Sementara itu, Gunung Lewotobi Laki-laki di Flores Timur juga masih menunjukkan aktivitas erupsi. Pada 27 Agustus, misalnya, gunung tersebut mengalami erupsi dengan kolom abu sekitar 2.500 meter di atas puncak.
Gunung Ibu dan Gunung Semeru juga tercatat beberapa kali mengalami erupsi selama Agustus. Pada 18 Agustus, Badan Geologi bahkan mencatat erupsi Gunung Ibu, Lewotobi Laki-laki, dan Semeru dalam rentang waktu yang berdekatan.
Indonesia memang memiliki banyak gunung api aktif
Fenomena beberapa gunung api mengalami erupsi dalam waktu berdekatan bukan sesuatu yang otomatis menunjukkan adanya satu pemicu tunggal. Indonesia berada di kawasan Ring of Fire dan memiliki sekitar 127 gunung api aktif. Masing-masing gunung mempunyai karakteristik serta sistem vulkanik yang berbeda dan dipantau berdasarkan parameter masing-masing.
Bahkan, Badan Geologi pada 2024 pernah menegaskan bahwa erupsi sejumlah gunung api yang terjadi hampir bersamaan tidak berarti gunung-gunung tersebut saling berhubungan. Aktivitas masing-masing gunung dapat dipengaruhi oleh proses internal, termasuk pergerakan fluida magma dan kegempaan lokal.
Karena itu, masyarakat diminta tidak panik hanya karena melihat pemberitaan beberapa gunung api erupsi pada waktu yang hampir bersamaan. Yang paling penting, masyarakat di sekitar gunung api harus mengikuti status aktivitas, radius bahaya, dan rekomendasi PVMBG untuk masing-masing gunung.
(Dinar K/ berbagai sumber)
