Efek El Niño, Perhapi Ungkap 3,9 Juta Ton Batu Bara Tertahan
Batu bara dimuat ke kapal kargo di lepas pantai Muara Berau, Kalimantan Timur, Indonesia. (Foto: Bloomberg/Dimas Ardian)
GEBRAK.ID, JAKARTA — Fenomena El Niño yang memicu kemarau panjang mulai memberikan tekanan terhadap distribusi batu bara nasional. Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) mencatat sekitar 3,7 juta hingga 3,9 juta ton batu bara per bulan tertahan dan gagal dikirim sejak Juli 2026 akibat menyusutnya debit air di sejumlah sungai yang menjadi jalur utama transportasi komoditas tersebut.
Ketua Kajian Pertambangan Batu Bara dan Energi Terbarukan Perhapi, FH Kristiono, mengatakan kondisi paling signifikan terjadi di Sungai Barito, Kalimantan Tengah. Surutnya debit air membuat kapal pengangkut batu bara kesulitan melintas sehingga menghambat kelancaran distribusi dari wilayah produksi menuju pelabuhan. “Ada sekitar 3,7—3,9 juta ton batu bara per bulan yang tertahan sejak Juli karena kemarau. (Sungai) yang kering Barito,” ungkap Kristiono saat ditemui usai agenda Perayaan Ulang Tahun ke-36 Perhapi di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Kamis (10/9/2026).
Menurut Kristiono, batu bara yang belum dapat dikirim kini menumpuk di sejumlah area pergudangan dan pelabuhan lokal. Kondisi sungai yang semakin dangkal menyebabkan kapal pengangkut belum dapat beroperasi secara normal. “Iya dia (batu bara) tertahan di pelabuhan-pelabuhan setempat, belum bisa kemana-mana,” ungkap Kris.
Perhapi memperkirakan gangguan distribusi tersebut masih dapat berlangsung apabila kondisi kemarau berkepanjangan. Kristiono menyebut fase kemarau saat ini baru memasuki tahap awal, sedangkan periode kering secara umum dapat berlangsung selama dua hingga tiga bulan.
Selain itu, berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kondisi kekeringan tersebut berpotensi berlangsung hingga 2027. Hal itu dinilai dapat memperpanjang tekanan terhadap aktivitas logistik batu bara apabila debit air sungai tidak kembali ke tingkat normal. “Ini kan masih awal kemarau, biasanya 2-3 bulan. Kalau kata BMKG bisa 2027, ya dampaknya pasti ada,” tambahnya.
Sungai Mahakam Ikut Terdampak
Gangguan distribusi tidak hanya terjadi di Sungai Barito. Sungai Mahakam di Kalimantan Timur juga mulai mengalami penurunan debit air yang berdampak terhadap kapasitas angkutan batu bara. Kristiono mengatakan kondisi Sungai Mahakam telah menyebabkan kapasitas serta trafik pengiriman batu bara turun sekitar 25% hingga 30% dibandingkan kondisi normal. “Mahakam ini mulai surut juga, mulai kurang kapasitas pengiriman 25%—30%, trafiknya jadi kurang,” katanya.
Sebelumnya, Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) juga menyampaikan bahwa penurunan muka air Sungai Mahakam telah menghambat aktivitas pengiriman batu bara. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan persediaan sementara di wilayah tambang maupun stockpile pelabuhan. Direktur Eksekutif APBI, Gita Mahyarani, mengatakan pihaknya hingga kini belum dapat memperkirakan secara pasti berapa volume ekspor batu bara yang terdampak akibat kondisi Sungai Mahakam.
Meski demikian, penyusutan debit air membuat draft tongkang menjadi lebih terbatas sehingga kapasitas muatan batu bara tidak dapat dimaksimalkan. “Kondisi ini tentu dapat memengaruhi kelancaran pemenuhan pasokan batu bara dan berpotensi meningkatkan stok sementara di area tambang maupun stockpile pelabuhan,” kata Gita ketika dihubungi, Selasa (8/9/2026). “Untuk dampaknya terhadap volume ekspor, saat ini kami belum dapat memperkirakan secara pasti berapa volume ekspor yang terdampak akibat surutnya sungai Mahakam,” tegas Gita.
Gita menilai kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena Kalimantan merupakan salah satu kawasan utama produksi sekaligus ekspor batu bara Indonesia. Gangguan pada sungai yang menjadi jalur transportasi tongkang berpotensi memengaruhi rantai pasok komoditas energi tersebut. (*)
(Zaky Al Hamzah)
(Sumber: www.bloombergtechnoz.com)
