Harga Pertamax Berpotensi Tembus Rp20 Ribu per Liter, Ini Penyebabnya

1789221327317

Pertamina Patra Niaga menyebut harga BBM nonsubsidi berpotensi berada di kisaran Rp18 ribu hingga Rp20 ribuan jika harga minyak dunia terus bertahan tinggi. (Foto: Gebrak.id)

GEBRAK.ID,JAKARTA — Harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi berpotensi kembali mengalami kenaikan apabila harga minyak mentah dunia tidak kunjung turun. Pertamina Patra Niaga bahkan memperkirakan harga Pertamax dan produk BBM nonsubsidi lainnya dapat berada di kisaran Rp18.000 hingga Rp20.000 per liter.

Proyeksi tersebut disampaikan Direktur Pemasaran Ritel PT Pertamina Patra Niaga Eko Ricky Susanto dalam acara media gathering di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jumat (11/9/2026). Eko mengatakan kondisi pasar minyak dunia saat ini masih sangat dipengaruhi ketegangan geopolitik, khususnya konflik di kawasan Timur Tengah dan gangguan distribusi energi melalui jalur strategis Selat Hormuz.

“Harga Pertamax, Dex, dan lain-lain itu akan berkisaran antara di angka Rp18 ribu sampai Rp20 ribuan karena tidak ada, belum ada indikasi terjadi penurunan harga minyak dunia,” ujar Eko. Menurut dia, harga minyak dunia saat ini belum menunjukkan sinyal penurunan yang berarti. Bahkan, harga BBM dan minyak mentah kembali mengalami tekanan kenaikan.

Eko berharap harga minyak dunia dapat kembali ke level sebelum terjadinya krisis geopolitik, yakni sekitar US$60-US$70 per barel. Namun, kondisi tersebut belum terlihat dalam waktu dekat.

Harga minyak dunia tembus US$100 per barel

Kekhawatiran Pertamina tersebut sejalan dengan perkembangan pasar minyak global. Harga minyak mentah Brent pada Jumat (11/9) memang turun dibandingkan sehari sebelumnya, tetapi masih berada di atas US$100 per barel. Reuters melaporkan Brent ditutup pada US$104,61 per barel, sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berada di US$100,05 per barel.

Meskipun mengalami penurunan pada perdagangan Jumat, Brent masih mencatat kenaikan mingguan lebih dari 8 persen. Kondisi tersebut terjadi di tengah kekhawatiran gangguan pasokan akibat meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah.

Sehari sebelumnya, harga Brent bahkan melonjak 6,34 persen dan ditutup pada US$107,63 per barel. WTI juga menembus US$100 per barel dan ditutup di US$102,48 per barel.

Gangguan distribusi melalui Selat Hormuz menjadi salah satu faktor yang membuat pasar minyak semakin sensitif. Jalur tersebut merupakan salah satu rute penting bagi perdagangan minyak dunia.

Harga BBM Pertamina sudah naik pada September

Tekanan terhadap harga BBM sebenarnya sudah terlihat sejak awal September 2026. Pertamina Patra Niaga melakukan penyesuaian harga sejumlah BBM nonsubsidi mulai 1 September 2026. Di wilayah dengan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB) 5 persen, harga Pertamax Turbo naik dari Rp18.300 menjadi Rp19.600 per liter.

Kenaikan lebih besar terjadi pada produk diesel. Harga Dexlite naik dari Rp19.700 menjadi Rp23.700 per liter, sedangkan Pertamina Dex meningkat dari Rp21.150 menjadi Rp25.200 per liter.

Sementara itu, harga Pertamax pada saat penyesuaian 1 September masih berada di level Rp15.950 per liter untuk wilayah dengan PBBKB 5 persen. Artinya, proyeksi Rp18.000-Rp20.000 yang disampaikan Eko bukan berarti harga Pertamax telah mencapai level tersebut saat ini. Angka itu merupakan gambaran potensi harga apabila tekanan harga minyak dunia berlanjut.

EIA ikut menaikkan proyeksi harga minyak

Tekanan harga minyak juga tercermin dalam proyeksi lembaga energi Amerika Serikat, Energy Information Administration (EIA).EIA pada September menaikkan proyeksi harga rata-rata Brent 2026 menjadi sekitar US$91 per barel. Proyeksi tersebut meningkat hampir 5 persen dibandingkan perkiraan sebelumnya.

EIA memperkirakan gangguan pasokan minyak dari Timur Tengah masih dapat berlangsung hingga akhir 2026. Kondisi tersebut membuat persediaan minyak global terus tertekan. Dengan harga minyak mentah yang masih tinggi, biaya pengadaan BBM nonsubsidi berpotensi ikut meningkat.

Besaran harga di tingkat konsumen nantinya tetap bergantung pada formula harga BBM, harga minyak, nilai tukar rupiah, pajak, serta komponen biaya lainnya.

Belum berarti Pertamax langsung Rp20 ribu

Pernyataan Pertamina mengenai potensi harga Rp18.000-Rp20.000 per liter perlu dipahami sebagai proyeksi, bukan pengumuman kenaikan harga Pertamax menjadi Rp20.000. Harga BBM nonsubsidi dapat berubah mengikuti kondisi pasar dan kebijakan perusahaan.

Karena itu, realisasi harga Pertamax pada periode berikutnya akan sangat bergantung pada perkembangan harga minyak mentah global dan faktor pembentuk harga lainnya.

Jika ketegangan geopolitik mereda dan pasokan minyak kembali normal, tekanan terhadap harga minyak dapat berkurang. Sebaliknya, jika gangguan pasokan berlanjut, harga BBM nonsubsidi berpotensi menghadapi tekanan kenaikan lebih lanjut.

(Dinar K/ berbagai sumber)