PISA 2025: 80 Persen Murid Indonesia Punya Rasa Ingin Tahu Tinggi, Pembelajaran Mendalam Jadi Kunci

rilis pisa 2026

Seminar Hasil PISA Indonesia Tahun 2025 yang digelar Pusat Asesmen Pendidikan, Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), di Jakarta, Selasa (15/9/2026). (Foto: Humas Kemendikdasmen)

GEBRAK.ID, JAKARTA — Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 tidak hanya memperlihatkan capaian akademik murid Indonesia. Data terbaru OECD juga menemukan modal positif berupa rasa ingin tahu dan ketekunan cukup kuat yang dapat dikembangkan melalui proses pembelajaran di sekolah.

Sebanyak 80 persen murid Indonesia menyatakan mereka ingin tahu tentang banyak hal. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata negara anggota Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) yang mencapai 73 persen.

Temuan ini menjadi salah satu pembahasan dalam Seminar Hasil PISA Indonesia Tahun 2025 yang digelar Pusat Asesmen Pendidikan, Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), di Jakarta, Selasa (15/9/2026).

OECD juga mencatat 74 persen murid Indonesia mengaku berusaha lebih keras ketika menghadapi pekerjaan yang menantang. Angka itu berada di atas rata-rata OECD sebesar 60 persen.

Dibandingkan PISA 2022, proporsi murid yang menyatakan ingin tahu tentang banyak hal meningkat 7,3 poin persentase, sedangkan mereka yang berusaha lebih keras ketika menghadapi tantangan naik 7,2 poin persentase.

Kepala BKPDM Kemendikdasmen Toni Toharudin mengatakan, hasil PISA 2025 harus menjadi pijakan untuk memperbaiki kualitas pembelajaran, bukan sekadar menjadi laporan capaian pendidikan.

“Pada tahun 2025, perlu kita tempatkan bukan sekadar sebagai laporan capaian, melainkan sebagai dasar untuk memperbaiki dan juga mempercepat peningkatan mutu pendidikan kita,” ujar Toni.

Menurut Toni, pembelajaran perlu semakin memberi ruang bagi kemampuan bernalar, memecahkan masalah, serta menggunakan pengetahuan dalam situasi nyata. Hal itu sejalan dengan temuan OECD yang menunjukkan rasa ingin tahu memiliki hubungan positif dengan capaian sains murid Indonesia.

Direktur Pendidikan dan Keterampilan OECD Andreas Schleicher juga menyoroti tingginya rasa ingin tahu murid Indonesia. Data PISA menunjukkan murid Indonesia tidak hanya memiliki rasa ingin tahu, tetapi juga relatif aktif mencari bantuan ketika menghadapi kesulitan. Sebanyak 90 persen mengaku meminta bantuan guru saat membutuhkan, sedangkan 92 persen meminta bantuan teman ketika belum memahami materi.

Potensi tersebut kemudian dikaitkan dengan penerapan Pembelajaran Mendalam. Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB) Edy Tri Baskoro menilai pembelajaran matematika, misalnya, perlu memberi kesempatan kepada murid untuk mencoba berbagai cara penyelesaian, menjelaskan alasan, melakukan refleksi, dan memahami konsep secara lebih mendalam.

Salah satu gagasan yang disampaikan adalah “one reasoning problem every day” atau satu soal bernalar setiap hari. Dengan sekitar 200 hari belajar dalam setahun, kebiasaan itu berpotensi memberikan sekitar 1.800 pengalaman bernalar selama sembilan tahun pendidikan.

Diana Rochintaniawati dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) juga menilai peran guru penting untuk mengarahkan rasa ingin tahu tersebut melalui pembelajaran berbasis inquiry atau penyelidikan. PISA 2025 mencatat 82 persen murid Indonesia mengatakan guru menunjukkan perhatian terhadap pembelajaran mereka dalam sebagian besar pelajaran sains. Sebanyak 85 persen menyebut guru terus mengajar sampai mereka memahami materi.

“Jadi ajaklah siswa itu dari inquiry,” ujar Diana.

Sri Rezki Widuri dari INOVASI menambahkan, Pembelajaran Mendalam tidak berhenti pada tahap memahami materi. Murid didorong untuk menerapkan, mengevaluasi, merefleksikan, dan memindahkan pengetahuan ke situasi baru.

Pendekatan tersebut sejalan dengan arah kebijakan Kemendikdasmen yang menempatkan Pembelajaran Mendalam sebagai upaya menciptakan proses belajar yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan.

Dukungan keluarga juga menjadi bagian penting. Murni Leo dari Tanoto Foundation menyebut survei bersama J-PAL pada 2025 terhadap 8.060 orang tua di 17 kabupaten/kota pada lima provinsi menemukan 92 persen orang tua menganggap keterlibatan dalam pendidikan anak penting. Sebanyak 68 persen di antaranya ikut membantu anak mengerjakan tugas.

Rangkaian temuan PISA 2025 tersebut memperlihatkan bahwa rasa ingin tahu dapat menjadi modal awal untuk membangun kemampuan belajar yang lebih kuat. Tantangannya adalah mengubah rasa ingin tahu menjadi kebiasaan bertanya, bernalar, memecahkan masalah, melakukan refleksi, dan menggunakan pengetahuan untuk menghadapi persoalan nyata.

(Devona R/Sumber: Kemendikdasmen)