Cadangan Air Dunia Terus Menyusut, WMO Ungkap Kondisi 2025 Makin Mengkhawatirkan

kekeringan

Cadangan air tawar yang tersimpan di daratan bumi terus menunjukkan tren penurunan. (Foto ilustrasi: Pixabay)

GEBRAK.ID — Cadangan air tawar yang tersimpan di daratan bumi terus menunjukkan tren penurunan. Organisasi Meteorologi Dunia atau World Meteorological Organization (WMO) dalam laporan terbarunya menyebut 2025 menjadi salah satu tahun dengan kondisi aliran sungai paling kering dalam 35 tahun terakhir.

Laporan State of Global Water Resources 2025 yang dirilis WMO pada 17 September 2026 menunjukkan cadangan air daratan berada di bawah kondisi normal di sekitar 42 persen wilayah daratan dunia sepanjang 2025. Cadangan tersebut mencakup air tanah, danau, sungai, kelembapan tanah, vegetasi, salju, serta es.

Kondisi sungai juga memperlihatkan tekanan yang semakin besar. WMO mencatat aliran sungai berada di bawah normal pada 36 persen wilayah daerah aliran sungai (DAS) global pada 2025. Selama tujuh tahun terakhir, jumlah wilayah sungai dengan kondisi normal juga terus berada di bawah rata-rata jangka panjang.

Secara global, hanya sekitar 34-38 persen daerah aliran sungai yang berada dalam kondisi normal selama tujuh tahun terakhir. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan rata-rata 46 persen pada periode 1991-2020.

Sekretaris Jenderal WMO Celeste Saulo menggambarkan cadangan air daratan sebagai semacam “rekening tabungan” planet. Menurut dia, cadangan air yang tersimpan secara perlahan selama ini berfungsi sebagai penyangga ketika bumi menghadapi periode kering.

“Kita sedang menguras rekening tabungan itu,” kata Celeste Saulo dalam keterangan WMO. Ia menyebut penyimpanan air daratan global telah menunjukkan tren penurunan sejak sekitar 2014-2016 dan berlangsung selama satu dekade.

Ancaman lain datang dari pencairan gletser. Pada 2025, seluruh kawasan utama yang memiliki gletser kembali mengalami kehilangan massa es untuk tahun keempat berturut-turut.

WMO memperkirakan gletser kehilangan sekitar 408 gigaton massa pada tahun hidrologi 2025. Kehilangan tersebut setara dengan kontribusi sekitar 1,1 milimeter terhadap kenaikan permukaan laut.

Penyusutan gletser bukan hanya persoalan kenaikan muka laut. Dalam jangka pendek, pencairan dapat meningkatkan risiko banjir. Namun dalam jangka panjang, berkurangnya simpanan es dapat mengganggu pasokan air bagi masyarakat yang bergantung pada aliran sungai dari kawasan pegunungan.

Dampak ketimpangan air juga terlihat dari bencana hidrologis. WMO mencatat Asia dan Afrika secara bersama-sama menyumbang sedikitnya separuh kejadian ekstrem terkait air yang tercatat dalam lima tahun terakhir serta lebih dari 80 persen kematian yang dilaporkan akibat bencana tersebut.

WMO menilai perubahan tersebut menunjukkan siklus air semakin tidak menentu. Dunia tidak hanya menghadapi kekeringan, tetapi juga banjir ekstrem di wilayah lain dalam periode yang sama.

Karena itu, WMO mendorong negara-negara memperkuat pemantauan sumber daya air, berbagi data lintas negara, serta mengembangkan sistem peringatan dini yang terintegrasi. Langkah tersebut dinilai penting karena sungai, air tanah, dan gletser tidak mengenal batas administratif antarnegara.

(Devona R/Sumber: Sputnik/WMO)