Rekor Kekeringan Indonesia Ada di Bantul: 131 Hari tanpa Hujan, BMKG Ungkap Penyebabnya

kemarau-freepik

Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), mencatat periode Hari Tanpa Hujan (HTH) terpanjang di Indonesia. BMKG mencatat wilayah tersebut mengalami 131 hari berturut-turut tanpa hujan atau lebih dari empat bulan. (Foto ilustrasi: Freepik)

GEBRAK.ID — Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), mencatat periode Hari Tanpa Hujan (HTH) terpanjang di Indonesia. BMKG mencatat wilayah tersebut mengalami 131 hari berturut-turut tanpa hujan atau lebih dari empat bulan.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan mengatakan kondisi tersebut menjadi bagian dari meluasnya kekeringan meteorologis akibat pengaruh El Nino dengan intensitas sangat kuat.

“Banyak lokasi pengamatan melaporkan HTH berurutan lebih dari 60 hari. Rekor HTH terpanjang saat ini berada di wilayah Bantul yaitu sepanjang 131 hari,” kata Ardhasena dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (22/9/2026).

Data pemantauan BMKG menunjukkan kekeringan ekstrem tidak hanya terjadi di Bantul. Kondisi HTH lebih dari 60 hari juga terpantau di sejumlah wilayah Indonesia dan pada periode awal September telah mencakup berbagai daerah di Jawa, Sumatra bagian selatan, Kalimantan bagian selatan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, Maluku, hingga Papua Selatan.

Dalam pemantauan BMKG Wilayah II, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul, tercatat sebagai lokasi dengan HTH terpanjang hingga 131 hari pada Dasarian I September 2026. Kondisi tersebut masuk kategori kekeringan ekstrem karena berlangsung lebih dari 60 hari tanpa hujan.

Ardhasena menjelaskan, kondisi kering berkepanjangan berkaitan dengan El Nino sangat kuat. Anomali suhu muka laut di wilayah Nino 3.4 pada periode Juli-September 2026 mencapai +2,63 derajat Celsius.

Dampaknya cukup luas. Sebanyak 556 Zona Musim (ZOM) atau 61,91 persen luas daratan Indonesia masih mengalami musim kemarau. Bahkan, 98 dari 110 ZOM yang secara klimatologis tergolong basah sepanjang tahun ikut mengalami kondisi kemarau.

BMKG sebelumnya juga mencatat indeks ENSO rata-rata tiga bulanan untuk Juli-September berada di angka 2,6, yang masuk kategori El Nino sangat kuat. Kondisi atmosfer yang kering turut meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah.

Meski El Nino diperkirakan masih bertahan hingga awal 2027, BMKG memprakirakan tekanan kekeringan akan berangsur berkurang ketika musim hujan mulai masuk secara bertahap.

“Awal musim hujan berlangsung secara bertahap, diawali pada November 2026 sebanyak 185 ZOM atau 24,66 persen luas daratan, disusul Desember 2026 sebanyak 266 ZOM atau 17,31 persen luas daratan,” ujar Ardhasena.

BMKG memperkirakan curah hujan pada 510 ZOM atau 69,76 persen luas daratan Indonesia berada dalam kategori normal meski awal musim hujan mengalami keterlambatan.

Puncak musim hujan juga tidak terjadi bersamaan. Sebanyak 155 ZOM diperkirakan mengalami puncak pada Desember 2026, kemudian 162 ZOM pada Januari 2027 dan 190 ZOM pada Februari 2027.

Sementara itu, masyarakat di wilayah yang masih menghadapi kekeringan perlu mewaspadai keterbatasan air serta potensi kebakaran lahan. BMKG juga mengingatkan bahwa kondisi kering masih menjadi perhatian dalam prakiraan cuaca 22-28 September 2026, terutama di sejumlah wilayah Sumatra dan Kalimantan.

(Devona R/Sumber: BMKG)