Daratan Baru 30,3 Hektare Muncul di Dekat Anak Krakatau,Cikal Bakal Cucu Krakatau?

1790146368845

Material hasil erupsi menumpuk di antara Gunung Anak Krakatau dan Pulau Sertung. Petugas memastikan belum ada dasar menyebutnya sebagai gunung api baru. (Foto: ist)

GEBRAK.ID,LAMPUNG SELATAN – Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK) kembali mengubah bentang alam di kawasan Selat Sunda. Daratan baru dengan luas sekitar 30,3 hektare terpantau muncul di antara Pulau Gunung Anak Krakatau dan Pulau Sertung, Kabupaten Lampung Selatan, Lampung.

Daratan tersebut diketahui terbentuk dari akumulasi material vulkanik yang dikeluarkan Gunung Anak Krakatau selama periode peningkatan aktivitas erupsi. Kepala Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau di Desa Hargo Pancuran, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, Suwarno, membenarkan keberadaan daratan baru tersebut pada Rabu (23/9/2026).

Menurut Suwarno, material pembentuk daratan berasal dari aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau. Namun, kemunculannya bukan berarti daratan tersebut baru terbentuk dalam satu kali letusan terakhir. Material vulkanik mulai terlihat seiring meningkatnya aktivitas GAK sejak status gunung api dinaikkan menjadi Level III atau Siaga pada 2 Juli 2026. Material yang terlontar kemudian terakumulasi di kawasan sekitar gunung. Keberadaan daratan itu, kata Suwarno, telah diketahui dan masuk dalam pemantauan petugas.

Bukan Berarti Muncul Gunung Api Baru

Kemunculan daratan baru di sekitar Anak Krakatau sempat memunculkan spekulasi bahwa kawasan tersebut merupakan cikal bakal gunung api baru atau yang disebut masyarakat sebagai “cucu Krakatau”. Namun, hingga saat ini belum ada dasar untuk menyimpulkan bahwa daratan tersebut merupakan gunung api baru.

Suwarno menjelaskan, keberadaan material vulkanik di permukaan tidak secara otomatis menunjukkan adanya saluran magma baru di bawah daratan tersebut. Kondisi bawah permukaan masih memerlukan pemantauan dan kajian lebih lanjut. Dia juga menyebut belum diketahui apakah terdapat pergerakan magma menuju lokasi daratan baru tersebut.

Dengan demikian, daratan yang muncul saat ini lebih tepat disebut sebagai hasil penumpukan material vulkanik dari aktivitas Gunung Anak Krakatau. Serta kemungkinan terbentuknya pusat erupsi baru belum dapat dipastikan.

Aktivitas Anak Krakatau Mulai Menurun

Kemunculan daratan baru tersebut terjadi setelah Gunung Anak Krakatau mengalami peningkatan aktivitas vulkanik dalam beberapa bulan terakhir. Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat Anak Krakatau mengalami episode erupsi menerus selama sekitar 25 jam pada 4–6 September 2026. Episode tersebut dimulai pada Jumat (4/9) sekitar pukul 23.07 WIB dan berakhir pada Minggu (6/9) sekitar pukul 00.04 WIB. Setelah itu, aktivitas erupsi masih berlangsung dalam pola letusan yang lebih ringan dan berkala.

Badan Geologi kemudian menurunkan tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau dari Level III (Siaga) menjadi Level II (Waspada) terhitung sejak 21 September 2026 pukul 18.30 WIB. Informasi tersebut tercantum dalam laporan khusus Badan Geologi Nomor 1604.Lap/GL.03/BGL/2026. Penurunan status dilakukan setelah evaluasi menunjukkan adanya kecenderungan penurunan aktivitas erupsi, kegempaan, dan deformasi gunung api. Meski demikian, Gunung Anak Krakatau tetap merupakan gunung api aktif dan pemantauan terus dilakukan.

Radius 2 Kilometer Tetap Harus Dihindari

Turunnya status aktivitas bukan berarti kawasan Gunung Anak Krakatau sudah aman untuk didatangi secara bebas. Pada status Level II, masyarakat direkomendasikan tidak melakukan aktivitas dalam radius 2 kilometer dari kawah aktif. Selain aspek kegunungapian, kawasan Gunung Anak Krakatau juga merupakan bagian dari kawasan konservasi. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) menegaskan perubahan status aktivitas gunung api tidak otomatis mengubah status kawasan tersebut sebagai cagar alam.

Kawasan konservasi Gugus Pulau Anak Krakatau mencakup Pulau Gunung Anak Krakatau, Pulau Sertung, Pulau Panjang, dan Pulau Rakata. Karena itu, akses ke kawasan tetap memiliki ketentuan tersendiri.

Pulau Sertung Ikut Terpengaruh Erupsi

Dampak aktivitas Anak Krakatau juga terlihat pada Pulau Sertung yang berada di sebelah barat gunung api. Analisis citra satelit Sentinel-2 yang dipublikasikan ANTARA menunjukkan perubahan mencolok pada permukaan Pulau Sertung setelah erupsi intensif Anak Krakatau pada 4–6 September 2026. Vegetasi yang sebelumnya terlihat hijau berubah menjadi rona abu-abu hingga kecokelatan akibat material vulkanik.

Kondisi tersebut memperlihatkan bagaimana aktivitas vulkanik Anak Krakatau dapat mengubah lingkungan di pulau-pulau di sekitarnya dalam waktu relatif singkat. Dengan munculnya daratan baru seluas sekitar 30,3 hektare, perubahan bentang alam di kompleks Krakatau kembali menjadi perhatian. Namun, untuk saat ini belum ada konfirmasi bahwa daratan tersebut akan berkembang menjadi pusat gunung api baru.

Pemantauan aktivitas Gunung Anak Krakatau tetap menjadi kewenangan Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), berdasarkan perkembangan parameter kegunungapian yang terukur.

(Dinar K/berbagai sumber)