Trump dan Xi Bertemu di Gedung Putih, Bahas AI, Taiwan hingga Konflik Ukraina
Presiden AS, Donald Trump, dan Presiden China, Xi Jinping, menggelar pertemuan di Gedung Putih, Washington, AS, Kamis (24/9/2026). (Foto: whitehouse.gov/ist)
GEBRAK.ID, WASHINGTON — Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dan Presiden China, Xi Jinping, menggelar pertemuan di Gedung Putih, Washington, Kamis (24/9/2026), dalam rangkaian kunjungan kenegaraan Xi ke Amerika Serikat. Pertemuan tersebut membahas sejumlah isu bilateral dan internasional, termasuk kecerdasan buatan (AI), perdagangan, Taiwan, Timur Tengah, konflik Ukraina, dan Semenanjung Korea.
Pertemuan berlangsung setelah Trump menyambut Xi dalam upacara kenegaraan di Gedung Putih. Kunjungan ini menjadi kunjungan kenegaraan Xi ke Amerika Serikat dan berlangsung beberapa bulan setelah kedua pemimpin bertemu di Beijing pada Mei 2026. Gedung Putih sebelumnya mengonfirmasi bahwa Xi dijadwalkan melakukan kunjungan kenegaraan ke AS pada 24 September 2026.
Dalam pernyataannya menjelang pembicaraan, Trump menekankan sejumlah isu strategis yang akan dibahas kedua negara. “Selama kunjungan ini, kami juga akan membahas isu-isu mendesak terkait keamanan, teknologi, dan intelijen super. Keputusan yang kami buat di bidang-bidang itu hari ini dapat mendorong perdamaian dan kemakmuran selama beberapa dekade mendatang,” kata Trump.
Xi, dalam pidatonya pada upacara penyambutan di Gedung Putih, menekankan pentingnya dialog antara Washington dan Beijing untuk mengelola perbedaan kedua negara. “Cina dan AS memiliki karakteristik nasional yang berbeda, tetapi melalui dialog yang jujur, mendalam, dan berkelanjutan, kami dapat saling memahami dengan lebih baik dan mencari titik temu sambil mengesampingkan perbedaan dan membangun rasa saling percaya,” ujar Xi Jinping.

Pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri China menyebutkan bahwa kedua pemimpin membahas pengembangan dan pengelolaan AI. Xi mengatakan China dan AS memiliki kemampuan AI yang kuat dan dapat melanjutkan dialog mengenai risiko serta manfaat teknologi tersebut. Kedua negara juga disebut sepakat untuk bersama-sama mencegah penyalahgunaan dan penggunaan AI secara tidak semestinya. Xi menegaskan bahwa AI harus tetap berada di bawah kendali manusia.
Isu Taiwan
Selain teknologi, isu Taiwan menjadi salah satu agenda sensitif dalam pertemuan tersebut. Menurut Kementerian Luar Negeri China, Xi meminta Amerika Serikat mempertahankan posisi yang disebut Beijing sebagai sikap yang “benar” dalam menentang “kemerdekaan Taiwan” serta menangani isu Taiwan secara hati-hati. Kedua pemimpin juga bertukar pandangan mengenai sejumlah persoalan internasional dan regional, termasuk situasi di Timur Tengah, konflik Ukraina, serta Semenanjung Korea.
Dalam pembicaraan tersebut, Xi juga menyoroti hubungan ekonomi dan perdagangan kedua negara. Kementerian Luar Negeri China menyatakan bahwa tim ekonomi dan perdagangan kedua negara telah melakukan putaran konsultasi baru dan mencapai pengaturan bersama yang baru. Xi sebelumnya menyatakan bahwa hubungan China-AS perlu diarahkan menuju hubungan yang konstruktif dan stabil secara strategis. Menurutnya, kedua negara perlu memperluas kerja sama, mengelola perbedaan, serta menjaga persaingan agar tetap berada dalam batas yang dapat dikelola.

Trump juga menyampaikan pandangan positif mengenai hubungan personalnya dengan Xi. Dalam keterangan yang dirilis Kementerian Luar Negeri China, Trump menyebut kunjungan Xi sebagai kunjungan yang baik dan mengatakan bahwa keduanya merupakan sahabat serta terus berkomunikasi secara dekat. Trump juga menyatakan bahwa dialog mengenai AI antara Amerika Serikat dan China perlu terus dilanjutkan.
Setelah pertemuan, Trump menjawab sejumlah pertanyaan wartawan, termasuk mengenai Taiwan. Trump mengatakan bahwa dirinya dan Xi telah mengadakan “pertemuan yang sangat baik”. Pertemuan Washington ini menjadi bagian dari rangkaian komunikasi tingkat tinggi antara dua negara dengan perekonomian terbesar dunia. Sebelumnya, Trump dan Xi bertemu di Beijing pada Mei 2026, ketika kedua pihak membahas penguatan hubungan China-AS dan berbagai kesepakatan bilateral. (*)
(Zaky Al Hamzah)
(Sumber: fmprc.gov.cn/whitehouse.gov)
