Global Warming Makin Nyata: Sekitar 12,5 Triliun Ton Es Kutub Mencair dalam 47 Tahun
Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS. (Foto: Dok.Pribadi)
Oleh Rokhmin Dahuri *)
Bukti pemanasan global kian sulit dibantah. Sebuah kajian ilmiah terbaru mengungkap bahwa dalam kurun 47 tahun terakhir, lapisan es di Greenland dan Antartika telah kehilangan massa sekitar hingga 12,5 triliun ton.
Jumlah ini setara dengan lenyapnya sekitar 78 kali berat Gunung Everest. Gunung tertinggi di dunia itu diperkirakan berbobot sekitar 162 hingga 175 miliar ton.
Temuan mengejutkan ini dipublikasikan dalam Scientific Data — sebuah jurnal sains berskala internasional yang berfokus pada publikasi data riset dari kelompok penerbit Nature Portofolio, London. Dan artikel mengenai hasil penelitian tersebut dirilis oleh media Euronews, 18 September 2026, di Lyon, Prancis.
Para peneliti menyusun kesimpulan tersebut berdasarkan data pengamatan satelit yang dikumpulkan selama lebih dari empat dekade. Hal itu memungkinkan mereka melacak perubahan dramatis pada lapisan es di Antartika tadi.
Bumi dari Waktu ke Waktu Memburuk
Data jangka panjang itu menunjukkan pola yang mencolok. Sepanjang periode 1970-an hingga 1990-an, kondisi lapisan es di kedua kutub relatif masih stabil — dengan laju pencairan yang lambat. Namun situasi berubah drastis memasuki dekade-dekade berikutnya. Laju pencairan es melonjak tajam dan mencapai puncaknya pada dekade 2010-an, seiring dengan memburuknya krisis global warming di seluruh dunia.
Ines Otosaka, ilmuwan dari Northumbria University, London yang terlibat dalam riset ini menegaskan bahwa data satelit memperlihatkan tren yang konsisten: lapisan es kehilangan massa dalam jumlah yang terus meningkat dari dekade ke dekade.
Otosaka menjelaskan bahwa fenomena ini semakin jelas ketika mengamati volume es yang terlepas dan mengalir ke laut. Menurutnya, tren ini berkaitan erat dengan perubahan iklim, karena naiknya suhu udara dan laut. Ini membuat lapisan es kehilangan massa jauh lebih besar dibandingkan masa-masa sebelumnya.
Salah satu contoh paling nyata dari percepatan ini terlihat di Greenland. Gletser Jakobshavn — salah satu gletser paling aktif di dunia — kini tercatat menyusut dengan kecepatan luar biasa, hingga 50 meter setiap harinya.
Ancaman Nyata bagi Wilayah Pesisir
Dampak dari pencairan es raksasa ini tidak main-main. Menurut studi tersebut, fenomena ini telah berkontribusi terhadap kenaikan muka air laut global sebesar 3,2 sentimeter. Sebuah angka yang mungkin terdengar kecil, namun menyimpan konsekuensi besar bagi kawasan pesisir di berbagai belahan dunia.
Para peneliti bahkan menghitung proyeksi risikonya secara lebih spesifik. Setiap kenaikan muka laut sebesar 1 sentimeter berpotensi mendorong tambahan 2 hingga 3 juta orang ke dalam zona risiko banjir pesisir setiap tahunnya.
Artinya, semakin cepat lapisan es mencair, semakin banyak pula populasi dunia — terutama yang tinggal di kota-kota pesisir dan wilayah dataran rendah — menghadapi ancaman kehilangan tempat tinggal. Akibat naiknya air laut.
Mengapa Es di Kutub Cepat Hilang?
Studi ini juga mengungkap penyebab utama di balik percepatan pencairan es. Para peneliti menemukan bahwa sekitar 84 persen dari total kehilangan es disebabkan oleh meningkatnya pelepasan es langsung ke laut. Proses ini terjadi ketika air laut yang semakin hangat mengikis bagian bawah lapisan es serta area di sekitar tepi gletser. Inilah yang mempercepat aliran es menuju laut lepas.
Sementara itu, sisanya sebesar 16 persen disebabkan oleh proses-proses yang terjadi di permukaan lapisan es. Seperti pencairan akibat paparan langsung suhu udara yang semakin panas. Kombinasi dari dua mekanisme ini — erosi dari bawah oleh air laut hangat dan pencairan dari atas oleh udara panas — menjadikan lapisan es kutub semakin rentan dan rapuh dari waktu ke waktu.
Menariknya, para peneliti mencatat bahwa laju pencairan es sempat melambat pada periode 2020 hingga 2023. Namun, mereka mengingatkan agar publik tidak terburu-buru menganggap ini sebagai kabar bagus. Atau tanda bahwa krisis iklim mulai membaik. Menurut penjelasan tim peneliti, perlambatan tersebut semata-mata mencerminkan variasi pola cuaca jangka pendek. Bukan perubahan arah atau tren jangka panjang yang terus berlanjut.
Lebih jauh, para ilmuwan juga menemukan bukti penting: respon lapisan es terhadap perubahan iklim membutuhkan waktu yang sangat panjang, bisa mencapai puluhan tahun. Ini berarti, sekalipun upaya global untuk mengendalikan pemanasan suhu bumi berhasil dilakukan mulai sekarang, dampaknya terhadap penghentian pencairan es tidak akan terasa secara instan.
Proses pencairan lapisan es kemungkinan besar akan terus berlanjut selama beberapa dekade ke depan. Bahkan setelah suhu global berhasil distabilkan.
Sinyal Peringatan bagi Dunia
Temuan tersebut di atas menjadi pengingat keras bahwa krisis iklim bukan lagi ancaman di masa depan. Melainkan realitas yang tengah berlangsung dan terukur secara ilmiah.
Lenyapnya 12,5 triliun ton es dalam waktu kurang dari lima dekade menunjukkan, betapa cepatnya perubahan yang terjadi pada sistem iklim Bumi. Khususnya di kawasan kutub yang selama ini dianggap sebagai “penyangga” utama stabilitas iklim global.
Dengan proyeksi kenaikan muka laut yang terus berlanjut dan jutaan penduduk pesisir yang berpotensi terdampak setiap tahunnya, para ilmuwan menegaskan pentingnya langkah mitigasi iklim yang lebih agresif.
Sebab, semakin lama aksi nyata ditunda, semakin besar pula skala kerusakan yang harus ditanggung generasi mendatang! Ini sebuah konsekuensi yang, menurut riset, sudah mulai berjalan dan sulit dihentikan dalam waktu singkat.
Jakarta, 29 September 2026
*) Guru Besar Emiritus IPB University Bogor/Komisi IV DPR RI.
Kami kirim berita pilihan GEBRAK.ID langsung melalui WhatsApp.
📲 Follow Channel GEBRAK.ID