IHSG Diproyeksi Bergerak Konsolidatif, Investor Waspadai Volatilitas di Akhir Kuartal III

IHSG - 1

Pekerja melintas di dekat layar pergerakan IHSG di BEI, Jakarta, Senin (27/7/2026). (Foto: ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/agr).

GEBRAK.ID, JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) diproyeksikan bergerak konsolidatif pada perdagangan Rabu (30/9/2026). Investor dinilai perlu mewaspadai peningkatan fluktuasi karena perdagangan bertepatan dengan penutupan kuartal III 2026.

Pada perdagangan Rabu pagi, IHSG dibuka melemah 3,65 poin atau 0,06 persen ke posisi 6.118,04. Pelemahan juga terjadi pada indeks LQ45 yang turun 1,32 poin atau 0,22 persen menjadi 606,84.

Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, mengatakan tekanan terhadap IHSG berpotensi mereda seiring berkurangnya tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Secara teknikal, IHSG sempat mengalami pemulihan dari level terendah harian dan membentuk pola long lower shadow. Namun, kondisi tersebut belum cukup untuk mengonfirmasi pembalikan arah tren. “IHSG membentuk long lower shadow namun karena masih ditutup di area negatif sehingga belum menunjukkan konfirmasi reversal. Beberapa indikator lain juga belum menunjukkan terjadinya reversal,” ujarnya.

Dengan kondisi tersebut, Ratna memperkirakan IHSG akan bergerak dalam fase konsolidasi pada kisaran 6.050-6.200 pada perdagangan Rabu (30/9/2026). Proyeksi tersebut juga mempertimbangkan posisi IHSG pada perdagangan sebelumnya. Pada Selasa (29/9), IHSG ditutup melemah 26,16 poin atau 0,43 persen ke level 6.121,70. Sementara itu, indeks LQ45 turun 3,65 poin atau 0,60 persen menjadi 608,16.

Waspadai Penutupan Kuartal III
Ratna mengingatkan investor untuk mencermati potensi peningkatan volatilitas pada perdagangan Rabu. Penutupan kuartal III dapat memengaruhi aktivitas transaksi dan strategi pelaku pasar dalam melakukan penyesuaian portofolio.

Dari sisi domestik, salah satu sentimen yang menjadi perhatian pasar adalah pengesahan APBN 2027 oleh DPR pada Selasa (29/9).

DPR bersama pemerintah menetapkan belanja negara dalam APBN 2027 sebesar Rp4.106,26 triliun, meningkat Rp9,07 triliun dari usulan awal sebesar Rp4.097,19 triliun. Pendapatan negara ditetapkan sebesar Rp3.435,10 triliun, sedangkan defisit anggaran berada di level Rp671,16 triliun atau 2,4 persen terhadap PDB. “Postur APBN 2027 tersebut menunjukkan ekspansi fiskal yang relatif terjaga. Untuk kenaikan belanja terutama berasal dari belanja K/L, sedangkan transfer ke daerah dan target keseimbangan primer relatif tidak berubah,” jelas Ratna.

Kebijakan fiskal tersebut diharapkan dapat mendukung pertumbuhan ekonomi domestik, terutama melalui konsumsi dan investasi. Namun, ruang fiskal serta kebutuhan pembiayaan tetap menjadi aspek yang perlu diperhatikan karena defisit APBN masih berada pada level 2,4 persen terhadap PDB.

Alokasi Prioritas APBN 2027
Dalam APBN 2027, sejumlah alokasi belanja diarahkan untuk sektor-sektor prioritas. Berdasarkan postur yang telah disahkan, belanja pemerintah pusat mencapai Rp3.371,26 triliun, sedangkan transfer ke daerah ditetapkan sebesar Rp735 triliun. Sementara itu, sejumlah alokasi utama yang disebutkan dalam materi analisis meliputi anggaran pendidikan sebesar Rp824 triliun, perlindungan sosial Rp539,7 triliun, kesehatan Rp244,9 triliun, serta ketahanan pangan nasional Rp195,3 triliun.

Kementerian Keuangan menyatakan APBN 2027 dirancang tetap ekspansif, kolaboratif, terarah, dan terukur untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi sekaligus mempertahankan keberlanjutan fiskal. Dengan kombinasi sentimen teknikal, penutupan kuartal III, pergerakan rupiah, serta respons pasar terhadap postur fiskal 2027, pergerakan IHSG pada perdagangan terakhir September 2026 akan menjadi perhatian pelaku pasar. (*)

(Zaky Al Hamzah/antaranews)

Ikuti Berita GEBRAK.ID Informasi terbaru langsung di WhatsApp

Mau tahu berita penting tanpa harus mencari-cari?

Kami kirim berita pilihan GEBRAK.ID langsung melalui WhatsApp.

Follow Channel GEBRAK.ID