Labuan Bajo: Pesona Pulau dan Daratan Flores yang Kian Dibidik Wisatawan China

labuan bajo xinhua

Peserta Familiarization Trip (Famtrip) pada 19-25 Oktober 2026 berfoto di Labuhan Bajo, Nusa Tenggara Timur. Kementerian Pariwisata mengundang tujuh agen perjalanan dan operator tur dari Beijing, Guangzhou, Hangzhou, Nanjing, Shenzhen, dan Shanghai untuk famtrip. (Foto: Xinhua)

GEBRAK.ID — Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT), terus memperkuat posisinya sebagai salah satu destinasi wisata unggulan Indonesia. Keindahan Pulau Padar, Pink Beach, hingga habitat asli komodo menjadi modal besar untuk menarik wisatawan mancanegara, termasuk dari China yang pasarnya terus berkembang.

Sepanjang 2025, wisatawan asal China tercatat melakukan 1,34 juta kunjungan ke Indonesia. Angka tersebut menempatkan China sebagai negara asal wisatawan mancanegara terbesar keempat setelah Malaysia, Australia, dan Singapura.

Peluang pasar itu semakin terbuka pada 2026. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan kunjungan wisatawan China selama Januari-Agustus mencapai 1,054 juta, meningkat dari 905.002 kunjungan pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Di tengah tren tersebut, Labuan Bajo mulai menawarkan pengalaman wisata yang lebih luas kepada pasar China. Salah satu upayanya terlihat melalui kegiatan familiarization trip (famtrip) pada 19-25 Oktober 2026 yang melibatkan tujuh agen perjalanan dan operator tur dari Beijing, Guangzhou, Hangzhou, Nanjing, Shenzhen, dan Shanghai.

Para peserta diajak menjelajahi sejumlah destinasi unggulan menggunakan kapal pinisi. Mereka mengunjungi Pulau Kelor, Pulau Padar, Pink Beach, dan Pulau Komodo untuk merasakan langsung daya tarik wisata bahari Labuan Bajo.

Selain menikmati destinasi, para peserta juga mengikuti pertemuan bisnis dengan 14 pelaku industri pariwisata Indonesia. Pertemuan tersebut mempertemukan agen perjalanan China dengan maskapai, penyedia akomodasi, serta operator wisata lokal. China Southern Airlines yang melayani penerbangan langsung Guangzhou-Denpasar turut mendukung kegiatan tersebut.

Namun, pengembangan wisata Labuan Bajo juga menghadapi tantangan pengelolaan kawasan konservasi. Sejak 1 April 2026, Balai Taman Nasional Komodo memberlakukan pembatasan kunjungan maksimal 1.000 orang per hari atau sekitar 365.000 orang per tahun.

Kuota tahunan tersebut dilaporkan habis pada Agustus 2026. Untuk mengakomodasi wisatawan hingga akhir tahun, pengelola kemudian membuka tambahan kuota sedikitnya 500 orang per hari secara bertahap untuk periode September-Desember.

Kebijakan tersebut sekaligus mendorong pengembangan destinasi alternatif di luar kawasan taman nasional. Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) sebelumnya menekankan pentingnya memperluas paket wisata hingga daratan Flores agar wisatawan tinggal lebih lama dan manfaat ekonomi menjangkau masyarakat setempat.

Asisten Deputi Pemasaran Pariwisata Mancanegara II Kementerian Pariwisata, Yulia, mengatakan famtrip menjadi bagian dari strategi memperkuat promosi Indonesia di pasar China. Dia berharap pengalaman langsung para agen perjalanan dapat menjadi bekal untuk menyusun paket wisata yang sesuai dengan preferensi wisatawan Tiongkok.

Rangkaian perjalanan tersebut kemudian berlanjut ke Bali, salah satu pintu masuk utama wisatawan China ke Indonesia. Dengan kombinasi wisata bahari, alam, budaya, dan pengalaman lokal, Labuan Bajo berpeluang menarik lebih banyak wisatawan sekaligus memperluas manfaat pariwisata bagi masyarakat Flores.

(Devona R/Sumber: Xinhua)

Dukung GEBRAK.ID

Jika berita kami bermanfaat, dukung keberlanjutan jurnalisme independen melalui donasi sukarela.

Dukung lewat Saweria
Ikuti Berita GEBRAK.ID Informasi terbaru langsung di WhatsApp

Mau tahu berita penting tanpa harus mencari-cari?

Kami kirim berita pilihan GEBRAK.ID langsung melalui WhatsApp.

Follow Channel GEBRAK.ID