Satu dari 15 Orang Dewasa Pernah Jadi Korban Pelecehan Gambar Berbasis AI
Sebuah studi terbaru mengungkap, sekitar satu dari 15 orang dewasa di Australia, Inggris, dan Amerika Serikat pernah mengalami pelecehan berbasis gambar yang dihasilkan AI. (Foto: Pixabay)
GEBRAK.ID — Kecerdasan buatan (AI) semakin memudahkan orang membuat dan mengubah gambar. Namun, teknologi ini juga membuka peluang penyalahgunaan, termasuk membuat foto intim seseorang tanpa persetujuan.
Sebuah studi terbaru mengungkap, sekitar satu dari 15 orang dewasa di Australia, Inggris, dan Amerika Serikat pernah mengalami pelecehan berbasis gambar yang dihasilkan AI.
Penelitian yang dipimpin Universitas RMIT Australia itu melibatkan 7.230 responden dewasa dari tiga negara. Hasilnya, sebanyak 7 persen responden mengaku pernah mengalami sedikitnya satu bentuk pelecehan tersebut sejak berusia 18 tahun. Australia mencatat angka sedikit lebih tinggi, yakni 7,7 persen.
Pelecehan yang dimaksud meliputi pembuatan atau pengubahan gambar intim menggunakan AI tanpa persetujuan, penyebaran gambar semacam itu, hingga ancaman untuk membagikannya kepada orang lain.
Dampaknya juga tidak ringan. Hampir 87 persen korban melaporkan setidaknya satu konsekuensi dalam kehidupan mereka. Gangguan tersebut mencakup kesehatan dan kesejahteraan, hubungan pribadi, pekerjaan, hingga kondisi keuangan.
Baca Juga
Temuan lain memperlihatkan perbedaan angka berdasarkan gender. Laki-laki melaporkan pengalaman menjadi korban dengan persentase 10,2 persen, lebih dari dua kali lipat dibandingkan perempuan yang mencapai 3,8 persen.
Meski demikian, perempuan mengaku mengalami dampak negatif yang lebih luas. Mereka lebih banyak melaporkan ketakutan terhadap keselamatan diri serta gangguan kesehatan mental dan fisik.
Profesor Nicola Henry dari RMIT University, selaku penulis utama penelitian, mengatakan pelecehan berbasis gambar AI telah menjangkau masyarakat luas dan tidak hanya menyasar selebritas atau tokoh publik.
“Kami kini memiliki bukti mengenai seberapa luas pelecehan berbasis gambar yang dihasilkan AI memengaruhi masyarakat,” kata Henry dalam keterangan RMIT, Rabu (4/11/2026).
Penelitian yang terbit di International Journal of Human-Computer Interaction itu juga menyoroti tanggung jawab perusahaan teknologi. Henry menilai pengembang dan penyedia platform perlu memperkuat langkah pencegahan, bukan sekadar menangani laporan setelah penyalahgunaan terjadi.
Studi tersebut menggunakan survei yang dilakukan pada Juli hingga Agustus 2024. Karena itu, hasilnya menggambarkan pengalaman responden di tiga negara tersebut dan tidak dapat langsung dianggap mewakili kondisi masyarakat Indonesia.
(Devona R/Sumber: RMIT)
Jika berita kami bermanfaat, dukung keberlanjutan jurnalisme independen melalui donasi sukarela.
Dukung lewat SaweriaMau tahu berita penting tanpa harus mencari-cari?
Kami kirim berita pilihan GEBRAK.ID langsung melalui WhatsApp.
Follow Channel GEBRAK.ID