Respons Menkeu Purbaya di Tengah Kenaikan Harga Pertamax: Dampak ke Inflasi Hanya ‘Tempel’, Rakyat Tak Perlu Khawatir!

1000264586
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meminta masyarakat tidak panik dengan kenaikan harga Pertamax karena tidak terlalu berpengaruh pada inflasi. ( Foto: kemenkeu) 


Editor: Dinar Kencana

GEBRAK.ID; JAKARTA – Mulai hari ini, Rabu (10/6/2026), kantong pengguna kendaraan pribadi yang loyal terhadap BBM berkualitas harus sedikit beradaptasi. PT Pertamina Patra Niaga resmi menaikkan harga BBM nonsubsidi Pertamax (RON 92) dan Pertamax Green 95.

Meski terjadi lonjakan harga yang cukup signifikan, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meminta masyarakat tidak panik. Pria yang akrab disapa Purbaya itu menegaskan bahwa kenaikan harga Pertamax hanya berdampak minim terhadap inflasi nasional dan tidak akan mengganggu stabilitas harga barang kebutuhan pokok. 

“Harusnya relatif minimum karena kan Pertamax nggak dipakai buat angkutan barang biasanya. Harusnya limited karena bukan buat angkutan umum, angkutan barang juga nggak pakai (Pertamax),” tegas Purbaya di Gedung DPR RI, Jakarta, Rabu (10/6/2026). 

Lantas, berapa rincian kenaikannya dan bagaimana kelanjutan harga BBM subsidi? Simak ulasan lengkapnya berikut ini.

Rincian Kenaikan Harga Pertamax dan BBM Nonsubsidi Lainnya

Dalam rapat evaluasi berkala yang mempertimbangkan fluktuasi harga minyak mentah dunia dan harga pasar keekonomian, Pertamina bersama pemerintah memutuskan untuk menyesuaikan harga jual BBM nonsubsidi . Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, menjelaskan bahwa penyesuaian ini penting untuk menjaga keberlanjutan usaha dan pasokan energi nasional.

“Penyesuaian harga Pertamax dan Pertamax Green dilakukan setelah melalui proses evaluasi sesuai formula harga yang ditetapkan pemerintah,” ujar Roberth dalam keterangan tertulisnya .

Berikut daftar lengkap harga BBM terbaru per 10 Juni 2026:

Harga BBM Nonsubsidi (Naik)

· Pertamax (RON 92) : Sebelumnya Rp 12.300/liter -> Menjadi Rp 16.250/liter 

· Pertamax Green 95 (RON 95) : Sebelumnya Rp 12.900/liter -> Menjadi Rp 17.000/liter 

· Pertamax Turbo (RON 98) : Tetap Rp 20.750/liter 

· Dexlite : Tetap Rp 23.000/liter 

Harga BBM Subsidi (Tetap/Tidak Naik)

Untuk melindungi daya beli masyarakat dan sektor transportasi logistik, pemerintah memastikan harga BBM subsidi tidak berubah. 

· Pertalite (RON 90) : Tetap Rp 10.000/liter

· Biosolar (CN 48) : Tetap Rp 6.800/liter

Alasan di Balik Kenaikan: Bukan Sekedar Ikut-ikutan Dunia

Masyarakat mungkin bertanya-tanya, mengapa kenaikan ini terjadi di tengah tahun 2026? Pertamina menyebutkan bahwa kebijakan ini merupakan konsekuensi logis dari dinamika pasar global. Harga minyak dunia yang terus merangkak naik serta biaya operasional yang meningkat menjadi faktor utama penyesuaian harga jual BBM nonsubsidi. 

Selain itu, langkah ini juga diambil agar Pertamina tidak mengalami kerugian besar pada segmen komersial, sehingga subsidi pemerintah yang dialokasikan untuk Pertalite dan Solar (Biosolar) bisa lebih tepat sasaran dan tidak bocor untuk konsumen mampu yang seharusnya menggunakan BBM nonsubsidi.

Jaminan Stabilitas Inflasi dan Pengawasan BBM Subsidi

Kembali ke pernyataan Menkeu Purbaya, keyakinan bahwa inflasi tetap aman didasari oleh profil konsumen Pertamax. Menurut data pemerintah, angkutan umum seperti bus dan angkutan barang (truk logistik) mayoritas masih menggunakan Pertalite (RON 90) atau Biosolar karena harganya yang lebih murah dan masih disubsidi negara . Artinya, biaya transportasi barang dan distribusi pangan secara nasional tidak mengalami kenaikan pasca kebijakan ini.

“Karena yang dipakai angkutan barang itu kan biasanya solar atau Pertalite. Jadi kalau Pertamax naik, efeknya ke harga kebutuhan pokok itu kecil sekali,” pungkas Purbaya.

Strategi Cegah Pembelian BBM Subsidi oleh Mobil Mewah

Salah satu kekhawatiran saat harga Pertamax naik adalah beralihnya pengguna kendaraan mewah ke Pertalite yang bersubsidi, yang justru akan membebani APBN. Menanggapi hal ini, Purbaya menyerahkan sepenuhnya pengawasan teknis kepada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

Menkeu menyebut pemerintah telah memiliki teknologi pengawasan canggih, yaitu nozzle control atau pembatasan di ujung selang dispenser, serta program digital XStar yang terintegrasi dengan pemerintah daerah. Teknologi ini akan memastikan bahwa mobil-mobil mewah yang seharusnya menggunakan Pertamax tidak bisa mengisi BBM subsidi.

“Itu tanya ke Pak Bahlil, mestinya ada metode lagi nozzle control. Tanya Pak Bahlil yang lebih ngerti,” ujar Purbaya sambil beranjak meninggalkan awak media .

(berbagai sumber) 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *