Ramadhan: Madrasah Ihsan, Membangun Integritas Moral Substansial
| KH. A. Muzaini Aziz, Lc., MA. (Foto: istimewa) |
Normal
0
false
false
false
EN-ID
X-NONE
AR-SA
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:8.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:107%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Aptos”,sans-serif;
mso-ascii-font-family:Aptos;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Aptos;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-font-kerning:1.0pt;
mso-ligatures:standardcontextual;
mso-fareast-language:EN-US;}
Oleh KH. A. Muzaini Aziz, Lc.,
MA. *)
Ibadah
inti dan utama di bulan Ramadhan adalah puasa, sebagaimana firman Allah SWT di
dalam surah Al-Baqarah ayat 185:
فَمَنْ
شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَـصُمْهُ
Maka
barang siapa di antara kalian hadir di bulan itu hendaklah ia berpuasa.
Uniknya, puasa memiliki keistimewaan tersendiri dibanding jenis-jenis ibadah lainnya.
Keistimewaan puasa ini pernah diungkapkan oleh Rasulullah Saw. dalam hadits
beliau:
كُلُّ
عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ، فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ (متفق عليه)
Semua
amal ibadah anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa, sesungguhnya ia (puasa
itu) untukku, dan aku sendiri yang akan mengganjarnya
(HR. al-Bukhari dan Muslim)
Tentu,
semua jenis ibadah, apakah baik itu shalah, zakat, umrah/haji dan lainnya, kita
lakukan semata untuk Allah dan guna menggapai ridha-Nya. Namun, hadits tersebut
menempatkan puasa secara lebih istimewa, dibanding ibadah-ibadah lainnya,
sehingga ia langsung dinisbatkan kepada Allah SWT.
Seperti
ketika Ka’bah disebut sebagai Rumah Allah (Baytullâh), tentu semua
rumah, seluruh bangunan dan segenap bumi dan segala isinya adalah milik Allah.
Namun, ketika Ka’bah langsung dinisbatkan kepada Allah dan kemudian disebut Baytullâh
atau Rumah Allah, itu karena adanya keistimewaan tersendiri yang dimiliki oleh
Ka’bah dibanding seluruh rumah/bangunan lainnya di muka bumi ini. Demikian juga
puasa.
Semua
amal ibadah dapat dilihat oleh orang lain. Anda tahu saya sedang shalat ketika
Anda melihat tubuh saya yang sedang melakukan gerakan shalat, sujud misalnya.
Anda tahu saya berzakat karena Anda menyaksikan ada materi yang saya
bayarkan/tunaikan, apalagi jika zakat itu saya berikan untuk Anda. Saat saya
melaksanakan ibadah haji pun, Anda bisa menyaksikannya, baik secara langsung
maupun melalui photo/video saat saya wukuf di Arafah atau ketika saya melontar
jamrah, yang saya posting di media sosial saya.
Ketika
Anda tahu dan menyaksikan setiap ibadah yang saya lakukan, tentu ada potensi riyâ`
(memperlihatkan dan memamerkan sesuatu untuk menuai pujian) di dalam hati saya.
Apalagi jika kemudian Anda menilai bagus dan memuji setiap ibadah yang saya
lakukan itu, potensi riya` semakin besar menjangkiti saya.
Lain
halnya dengan puasa. Keistimewaan puasa itu antara lain terletak pada bahwa ia
adalah ibadah yang amalannya tidak dapat dilihat oleh orang lain. Bisa saja
saya mengaku-ngaku sedang puasa di depan Anda, dan Anda percaya bahwa saya
sedang puasa, meskipun kenyataannya saya bohong. Yang mampu mengetahui bahwa
saya benar-benar sedang puasa atau tidak hanyalah Allah SWT, demikian ungkap
Imam al-Ghazali di dalam Ihya`-nya. Itulah mengapa ibadah puasa memiliki
keistimewaan dibanding jenis ibadah lainnya.
Di
dalam ibadah puasa yang notabene hanya dapat diketahu oleh Allah, keikhlasan
(kemurnian amal ibadah hanya untuk menggapai ridha Allah SWT) lebih mudah
dibangun, sebagaimana termaktub di dalam ar-Risâlah a-Qusyairiyyah karya
al-Imam al-Qusyairiy:
الإخلاص
التوقي عَن ملاحظة الخلق. فالمخلص لا رياء له
Ikhlas
adalah menghindar dari perhatian/penilaian orang lain. Seorang yang ikhlas
tidak ada riya dalam dirinya.
Di
dalam ibadah puasa, ada relasi khusus yang terbangun antara seorang hamba
dengan Rabb-nya, tanpa melibatkan pihak lain manapun. Sebagaimana
redaksi hadits di awal tulisan ini, puasa yang kita jalani hanya Allah yang
tahu, maka kemudian Allah jugalah yang langsung menangani ganjaran atas puasa
kita tersebut. Ada intimasi hubungan yang terjalin antara pelaku puasa dengan
Tuhannya.
Tentu
kita pernah mendengar Hadits Jibril, yaitu ketika terjadi dialog antara
Rasulillah Saw. dan Malaikat Jibril as. tentang fundamen trilogi keislaman
kita: Islam, Iman dan Ihsan. Fokus pada Ihsan, berikut dialognya:
قَالَ:
فَأَخْبِرْنِي عَنِ الْإِحْسَانِ. قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ
تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ (رواه مسلم)
Ia
(Jibril as.) berkata: Beritahu aku tentang Ihsan. Ia (Rasulullah Saw.) berkata:
(Ihsan adalah) engkau menyembah Allah seakan engkau melihat-Nya. Jikapun engkau
tidak melihat–Nya, sesungguhnya Dia melihatmu (HR. Muslim).
Ihsan
mendidik kita tentang murâqabah, yaitu kesadaran diri tentang kehadiran
dan pengawasan Allah Dzat Yang al-Raqîb (Maha Mengawasi). Ketika seorang
hamba selalu mawas diri bahwa ia senantiasa berada dalam radar pengawasan
Tuhannya, baik di keramaian maupun di kesunyian, tentu ia akan selaraskan
seluruh aktivitasnya dengan frekuensi ketaatan kepada Allah. Dengan kesadaran
yang mendalam tentang murâqabah, potensi kemaksiatan dan kezaliman akan semakin
jauh untuk dilakukan. Sebagimana termaktub di dalam ar-Risâlah
a-Qusyairiyyah:
من
راقب اللَّه تَعَالَى فِي خطرات قلبه عصمه اللَّه فِي حركات جوارحه
Siapa
yang senantiasa sadar bahwa ia diawasi oleh Allah pada lintasan-lintasan
hatinya, maka Allah akan menjaganya pada gerak-gerik anggota tubuhnya.
Seperti
termuat di dalam Ihyâ ‘Ulûmiddîn, yang dikisahkan oleh Abdullah ibn
Dinar ra., ketika ia pergi bersama Umar ibn Khattab ra. menuju ke Mekkah. Saat
keduanya istirahat di tengah perjalanan, seorang penggembala domba turun dari
bukit.
Umar
lalu berkata: “Wahai penggembala, juallah kepadaku salah satu domba itu.” Si
penggembala berkata: “Aku hanya seorang budak (bukan pemilik domba).” Kembali
Umar berkata: Katakan saja nanti kepada tuanmu bahwa domba itu dimakan
serigala.” Penggembala itu berujar: Lalu apa yang harus kukatakan kepada
Allah?” Umar pun menangis. Kemudian ia temui tuan si budak tersebut, dan ia
beli budak itu dari tuannya. Kemudia Umar membebaskan budak tersebut, seraya
berkata: Kata-katamu itu yang membebaskanmu di dunia ini (dari perbudakan), dan
aku berharap kata-katamu itu juga akan membebaskanmu (dari siksa neraka) di
Akhirat kelak.
Jika
saat lampu lalu lintas merah menyala saya hentikan laju kendaraan agar saya
tidak ditilang polisi, atau supaya tidak terekam oleh kamera ETLE, atau karena
takut bertabrakan dengan kendaraan dari arah lawan, itulah moral prosedural.
Namun, saat lampu lalu lintas merah menyala, dan dengan penuh kesadaran saya
hentikan laju kendaraan saya, tanpa perlu peduli apakah ada polisi atau CCTV
ETLE, juga tanpa perlu melihat adakah kendaraan yang melaju dari arah lawan, itulah
moral substansial.
Anda
bermoral secara prosedural, ketika misalnya Anda tidak melakukan korupsi karena
takut ketahuan dan ditangkap oleh KPK. Bisa jadi akan lain ceritanya jika menurut
penilaian Anda potensi ketahun dan tertangkap itu tidak ada.
Namun,
jika kesempatan untuk korupsi terbuka lebar dan Anda yakin tidak akan ketahuan
dan ditangkap oleh KPK tapi Anda tetap tidak mau melakukan korupsi, Anda
bermoral secara substansial.
Moral
substansial semacam ini dapat terintegrasi di dalam diri seorang hamba jika ia
yakin sepenuhnya terhadap murâqabah atau pengawasan Allah SWT. Dan puasa
mendidik kita secara intensif untuk sadar tentang pengawasan-Nya itu.
*)
Penulis adalah Sekretaris Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota
Tangerang, anggota Komisi Fatwa MUI DKI Jakarta, Wakil Katib Syuriah Pengurus
Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DKI Jakarta, Ketua Bidang Pendidikan, Kaderisasi
dan Riset Pengurus Pusat Lajnah Dakwah Islam Nusantara (PP LADISNU) dan Ketua
Yayasan Al-Mu’in Kota Tangerang.
