Koperjuangan, Kopergusuran: Di Antara Bertahan dan Kehilangan

koperjuangan

Pameran Seni Rupa Perjalanan IKJ Angkatan 1997 di Jakarta pada pertengahan September 2026 yang salah satunya menampilkan karya Jimmy Silaen. (Foto: Istimewa)

Oleh Emi Suy*)

Ada benda yang diciptakan untuk pergi. Koper menyimpan pakaian, benda-benda penting, juga harapan tentang tempat yang belum dikenal. Namun ketika koper tua itu dibuka di hadapan saya, yang muncul bukan bayangan tentang perjalanan, melainkan sebuah kehidupan yang mungkin sedang kehilangan tempat berpijak.

Seniman Jimmy Silaen mempertemukan dua kata yang sederhana, tetapi menyimpan beban panjang: Koperjuangan dan Kopergusuran. Keduanya berangkat dari benda yang sama, tetapi bergerak ke arah berbeda: bertahan dan dipindahkan. Di antara keduanya, koper menjadi ruang kecil tempat kehidupan, kepentingan, harapan, dan kehilangan saling berhadapan.

Saya hidup di kota yang hampir tidak pernah berhenti. Jalan diperlebar, gedung bertambah tinggi, kawasan lama berganti wajah. Lampu-lampu menyala di balik kaca, kendaraan mengalir, pusat perbelanjaan dan perkantoran tumbuh dengan janji tentang kehidupan yang lebih cepat dan lebih nyaman. Dari dalam arus itu, kota tampak seperti masa depan yang sedang dikerjakan.

Tetapi di sela-sela kemajuan itu, ada permukiman yang tumbuh rapat di tepian kali, di bawah jembatan, di belakang tembok, atau di ruang-ruang yang tidak masuk dalam gambar kota yang hendak dipamerkan. Seng berkarat menjadi atap. Kayu menjadi dinding. Gang sempit menjadi jalan pulang. Di satu sisi kota menghitung meter persegi, di sisi lain manusia menghitung bagaimana uang hari ini cukup sampai esok.

Kontras itu tidak berhenti pada bentuk. Kota berbicara tentang ruang yang luas, tetapi permukiman berbicara tentang ruang yang harus dibagi. Kota mengejar waktu, sementara penghuninya mengejar ongkos pulang. Kota membangun masa depan, sementara sebagian warganya sibuk mempertahankan hari ini.

Namun jangan pula mengira pinggiran hanya berisi kesusahan. Di balik rumah-rumah berhimpitan itu ada nasi yang mengepul, anak-anak berangkat sekolah, pedagang membuka lapak, pekerja pulang malam, ibu-ibu berbagi kabar, tetangga saling menolong. Ada tawa yang tumbuh di antara dinding seng, ada pertengkaran, utang, cinta, kecemasan, dan harapan. Kehidupan yang dari kejauhan tampak sempit ternyata menyimpan dunia yang begitu penuh.

Di dalam Kopergusuran, Jimmy mengecilkan dunia itu ke dalam sebuah koper. Kayu, seng, kawat, cahaya, figur manusia, alat berat dan aparat bertemu dalam ruang yang terbatas. Justru karena kecil, kehidupan itu terasa lebih dekat. Rumah-rumah yang mungkin dianggap tidak layak oleh mata kota ternyata memiliki ukuran lain bagi orang yang tinggal di dalamnya. Di sana ada pagi, pekerjaan, sekolah, percakapan, lelah, dan kebiasaan yang telah berlangsung bertahun-tahun.

Alat berat di tepi permukiman membawa ironi yang tajam. Bagi kota, ia mungkin bagian dari pembangunan. Bagi mereka yang tinggal di dalam rumah-rumah kecil itu, bunyinya dapat terdengar sebagai akhir sebuah alamat.

Pameran Seni Rupa Perjalanan IKJ Angkatan 1997 di Jakarta pada pertengahan September 2026 yang salah satunya menampilkan karya Jimmy Silaen. (Foto: Istimewa)

Di sinilah kata gusur menjadi lebih panjang daripada sekadar pindah. Yang berpindah bukan hanya papan, seng, kursi, dan pakaian. Yang ikut tercabut adalah jarak menuju pekerjaan, sekolah anak, warung langganan, tetangga, kebiasaan, bahkan rasa mengenal jalan pulang.

Koper, yang semula merupakan lambang perjalanan, akhirnya berubah menjadi lambang keterpaksaan. Ada orang yang memasukkan pakaian ke dalam koper karena ingin melihat dunia. Ada pula yang memasukkannya karena tidak lagi memiliki ruang untuk tinggal. Benda yang sama, tetapi nasib perjalanan yang berbeda.

Kemudian Koperjuangan. Koper berdiri tegak. Di dalamnya permukiman kembali hadir, kali ini dengan tangan-tangan yang mengepal, kendaraan, dan figur-figur yang membawa suasana perlawanan. Jika Kopergusuran memperlihatkan ruang yang hendak dihapus, Koperjuangan memperlihatkan manusia yang masih menggenggam ruang hidupnya.

Tetapi bahkan perjuangan tidak berdiri di tanah yang sederhana.

Catatan “Ketika perjuangan demi kepentingan saja. Adudomba” mengingatkan bahwa di sekitar sebuah perjuangan selalu ada kepentingan yang dapat menyatukan sekaligus memecah. Tangan yang mengepal tidak selalu berarti satu suara. Di balik kerumunan, selalu mungkin ada kepentingan lain yang bergerak diam-diam.

Begitu pula “Rakusmakusbrutus” pada Kopergusuran. Kata itu terasa seperti bunyi yang sengaja dibuat tidak nyaman. Ia menyinggung kesempatan yang tidak selalu berhenti pada kemaslahatan bersama. Ada yang melihat ruang sebagai peluang, sementara yang lain melihat ruang yang sama sebagai satu-satunya tempat untuk bertahan.

Mungkin di situlah kota memperlihatkan wajahnya yang paling rumit. Gedung tinggi dan rumah seng berdiri dalam satu peta, tetapi tidak selalu dalam satu pengalaman. Di satu tempat, ruang berarti investasi.

Di tempat lain, ruang berarti kehidupan. Di satu sisi, perubahan dibaca sebagai kemajuan. Di sisi lain, perubahan bisa berarti kehilangan.

Sebagai orang yang hidup di tengah kota, saya tidak berada di luar persoalan itu. Saya ikut menikmati jalan yang lebih tertata, kawasan yang semakin terang, bangunan yang semakin tinggi. Tetapi dua koper Jimmy membuat pandangan berhenti sejenak pada bagian kota yang biasanya lewat begitu saja dari kaca kendaraan.

Pameran Seni Rupa Perjalanan IKJ Angkatan 1997 di Jakarta pada pertengahan September 2026 yang salah satunya menampilkan karya Jimmy Silaen. (Foto: Istimewa)

Barangkali kita terlalu sering melihat kota dari atas.Dari atas, permukiman tampak sebagai kepadatan. Dari dekat, ia adalah rumah. Di peta, ia mungkin hanya bidang yang perlu ditata. Di dalam kehidupan penghuninya, ia adalah tempat anak tumbuh, nasi dimasak, tubuh beristirahat, dan seseorang menunggu orang yang dicintainya pulang.

Itulah ironi yang membuat Koperjuangan dan Kopergusuran tidak berhenti sebagai karya tentang permukiman. Ia berbicara tentang cara kita memandang kota dan manusia yang hidup di dalamnya.

Kota boleh tumbuh tinggi. Tetapi kehidupan tidak selalu tumbuh ke atas. Ada yang tumbuh menyamping, berhimpitan, mencari celah di antara tembok dan kali, di antara aturan dan kebutuhan, di antara harapan dan keterbatasan. Koper itu tetap terbuka.

Cahaya kecil di dalamnya masih menyala.

Mungkin cahaya itulah yang paling sulit digusur: keinginan manusia untuk tetap menyebut sebuah ruang sebagai rumah, meski dunia di sekelilingnya terus berubah nama.

Saya meninggalkan dua koper itu dengan satu pertanyaan yang terus berjalan pulang bersama saya: barangkali yang paling sulit dari sebuah penggusuran bukan memindahkan rumah, melainkan memindahkan kehidupan yang telah lama berakar di dalamnya.

Kota akan terus tumbuh. Jalan akan semakin panjang, gedung semakin tinggi, cahaya semakin terang. Tetapi di antara beton dan kaca, selalu ada kehidupan yang tumbuh dari ruang-ruang sempit, menjaga dapur tetap mengepul, anak-anak tetap bersekolah, dan pintu tetap terbuka bagi tetangga yang datang membawa kabar.

Koperjuangan dan Kopergusuran akhirnya terasa bukan sebagai dua benda yang terpisah. Keduanya seperti dua sisi dari perjalanan manusia di sebuah kota: ada yang memilih pergi, ada yang dipaksa beranjak; ada yang membawa koper untuk menemukan dunia, ada yang membawa sisa dunia karena kehilangan tempat tinggal.

Mungkin kota yang sesungguhnya bukan hanya apa yang tampak dari jalan-jalan besarnya.
Ia juga adalah suara dari gang sempit, cahaya dari rumah yang nyaris tak terlihat, asap dapur yang naik perlahan, dan seseorang yang masih menaruh sandal di depan pintu dengan keyakinan sederhana: esok ia masih punya tempat untuk pulang.

Dan selama cahaya kecil itu belum padam, perjuangan belum selesai.

Jakarta, 24 September 2026

*) Emi Suy merupakan nama pena Emi Suyanti, penyair kelahiran Magetan, Jawa Timur, Februari 1979. Namanya tercatat dalam Apa dan Siapa Penyair Indonesia (2018) serta Apa Siapa Perempuan Pengarang Penulis Indonesia (2024). Ia telah menerbitkan sejumlah buku puisi dan esai serta terlibat dalam lebih dari 200 antologi. Karyanya dimuat di berbagai media nasional dan internasional. Emi aktif sebagai penyair, juri, pengajar puisi, sekaligus pegiat literasi dan komunitas sastra. Ia juga menekuni fotografi dan seni lukis, dengan karya yang pernah dipamerkan di tingkat nasional.