Freud dan Jung: Kisah Persahabatan yang Berujung pada Perpecahan, Sebuah Titik Balik dalam Sejarah Psikologi

Freud dan Jung: Kisah Persahabatan yang Berujung pada Perpecahan. Sebuah Titik Balik dalam Sejarah Psikologi. (Sumber: https://owlcation.com/)

GEBRAK.ID -- Pada awal abad ke‑20, dua tokoh besar dunia psikologi, Sigmund Freud dan Carl Gustav Jung, membangun sebuah hubungan intelektual yang penuh harapan — sebuah kolaborasi yang sewaktu waktu disebut sebagai hubungan mentor‑mentee paling penting dalam sejarah pemikiran psikologis. Namun kenyataannya, hubungan ini tak bertahan lama. 

Apa yang dimulai sebagai kekaguman dan kerja sama erat kemudian berubah menjadi perselisihan tajam yang mengguncang dunia psikoanalisis dan melahirkan dua aliran pemikiran yang berbeda secara fundamental.

Freud, yang sudah terlebih dulu dikenal sebagai bapak psikoanalisis, pertama kali bertemu Jung pada tahun 1907 setelah Jung mengirimkan karyanya yang memikat perhatian Freud. Pertemuan pertama mereka berlangsung selama 13 jam nonstop, sebuah percakapan panjang yang mencakup teori, klinik, dan kehidupan pribadi mereka. 

Freud begitu terkesan dengan Jung sehingga ia kemudian menempatkan Jung sebagai calon penerus gerakan psikoanalisis — posisi putra mahkota yang langka bagi seorang murid.

Selama beberapa tahun awal, hubungan mereka tampak harmonis. Keduanya saling bertukar surat pengalaman teoretis dan klinik, memperdalam gagasan tentang ketidaksadaran dan cara kerja psikisme. Korespondensi ini kemudian dikumpulkan dalam buku klasik The Freud/Jung Letters, yang menunjukkan intensitas hubungan mereka — mulai dari kekaguman mendalam hingga pertentangan ide yang mulai tumbuh.

Ketidaksepakatan ini dimulai sekitar 1912–1913. Jung menerbitkan karya yang bertentangan dengan beberapa asumsi inti Freud, terutama dalam hal pemahaman tentang mimpi dan ketidaksadaran. Freud merasa pandangan Jung terlalu menyimpang dari fundamental psikoanalisis — bahkan sampai menciptakan ancaman terhadap ortodoksi gerakan. 

Menurut beberapa catatan historis, momen tertentu seperti diskusi panjang tentang interpretasi mimpi ketika mereka berada di Amerika Serikat merupakan titik awal dari keguncangan hubungan mereka. Freud bahkan kemudian memutuskan kontak sepenuhnya, dan hubungan keduanya tidak pernah pulih hingga akhir hayat mereka masing-masing. 

Freud melihat ketidaksadaran sebagai gudang dorongan dan ingatan yang tertekan, terutama yang berkaitan dengan seksualitas dan konflik masa kecil. Jung setuju ada ketidaksadaran, tetapi bukan hanya itu: ia mengembangkan konsep ketidaksadaran kolektif, sebuah lapisan psikisme yang jauh lebih luas dan dipenuhi simbol serta arketipe universal, yang menurutnya diwariskan secara psikologis oleh seluruh umat manusia. 

Freud percaya bahwa hasrat seksual adalah penggerak utama semua perilaku manusia. Jung menolak pandangan ini sebagai terlalu sempit dan reduksionistik. Jung justru melihat adanya energi psikis yang lebih luas — termasuk motivasi spiritual, mitologis, dan simbolik. 

Freud cenderung skeptis terhadap hal-hal yang dianggap non-ilmiah, seperti agama dan spiritualitas. Sebaliknya, Jung justru menaruh minat besar pada simbol, mitos, dan fenomena budaya yang memperkaya pemahamannya tentang pikiran manusia. Ini semakin memperlebar jurang pemikiran antara keduanya.

Freud tetap mengembangkan psikoanalisis, yang menekankan konflik internal, peran masa kanak‑kanak, dan dinamika id‑ego‑superego.

Carl Jung membangun psikologi analitik, yang menekankan archetypes, ketidaksadaran kolektif, dan proses individuasi — pendekatan yang lebih holistik dan simbolis.

Perbedaan pandangan ini menghasilkan dua aliran yang tidak hanya berbeda secara teoritis, tetapi juga memiliki pengaruh luas dalam terapi, budaya, dan studi tentang simbol serta mitos. 

(damar) 

Sumber: “Rage and Anxiety in the Split between Freud and Jung” — Christine Doran

Posting Komentar untuk "Freud dan Jung: Kisah Persahabatan yang Berujung pada Perpecahan, Sebuah Titik Balik dalam Sejarah Psikologi"