Kisah Lea, Wisudawan Terbaik S2 ITB yang Menyusuri Jejak Kampung Lewat Arsitektur

Aprilea Sofiastuti Ariadi alias Lea, salah satu wisudawan terbaik ITB pada Oktober 2025 dari Prodi Magister Arsitektur. (Foto: itb.ac.id)

BANDUNG -- Arsitektur tak sekadar bicara soal bangunan dan estetika. Di tangan Aprilea Sofiastuti Ariadi, arsitektur menjadi pintu masuk untuk membaca sejarah, budaya, dan perjalanan sebuah permukiman. 

Perempuan yang akrab disapa Lea ini membuktikan hal tersebut dengan meraih predikat wisudawan terbaik Program Magister Arsitektur Institut Teknologi Bandung (ITB).

Lea diwisuda pada Oktober 2025 dalam prosesi wisuda ITB yang digelar selama dua hari. Ia menyelesaikan studi di Sekolah Arsitektur, Perencanaan, dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK) dengan tesis yang menggali kampung sebagai entitas ruang yang sarat makna historis.

Lulusan S1 Universitas Diponegoro ini tak langsung melanjutkan studi pascasarjana. Selama lima tahun, Lea lebih dulu terjun ke dunia profesional sebagai arsitek di Bandung. Ia terlibat dalam berbagai proyek publik, mulai dari perancangan alun-alun hingga fasilitas perpustakaan.

Pengalaman tersebut justru membuatnya semakin sadar akan besarnya tanggung jawab seorang arsitek. Karya yang dihasilkan bukan hanya dinikmati secara visual, tetapi berdampak langsung pada kehidupan masyarakat. “Kalau dari aku pribadi, ingin belajar lebih banyak supaya bisa memberi lebih banyak,” ujar Lea, dikutip dari laman resmi ITB, Rabu (7/1/2026).

Dorongan untuk memperdalam keilmuan sekaligus memenuhi syarat profesionalitas arsitek akhirnya membawanya kembali ke bangku kuliah. Di ITB, Lea menemukan ruang untuk menggabungkan praktik desain dengan riset yang lebih reflektif.

Ketertarikannya pada kampung bermula dari pengalaman mengikuti kompetisi desain internasional di Singapura. Saat itu, Lea ditantang merancang sebuah kawasan berskala besar dengan pendekatan humanisme. Tantangan tersebut membuka matanya bahwa perancangan ruang tidak bisa berdiri sendiri dan membutuhkan perspektif lintas disiplin.

Pengalaman itu berlanjut ketika Lea mengikuti workshop bersama dosen-dosen Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) ITB. Ia kemudian terjun langsung ke lapangan, melakukan wawancara dan pemetaan di Kampung Lebak Siliwangi, Bandung. Sejak saat itu, kampung menjadi fokus utama ketertarikannya.

“Permukiman manusia itu berawal dari kampung. Bahkan di kota besar, kampung tetap ada dan hidup. Kampung adalah entitas yang unik,” cetus Lea.

Dalam penelitiannya, Lea menelusuri asal-usul kampung-kampung di sejumlah kota di Pulau Jawa. Ia menemukan pola bahwa banyak kampung berkembang dari kawasan sungai yang dahulu menjadi jalur utama penghubung antara wilayah pesisir dan pedalaman.

Pilihan akhirnya jatuh pada Kampung Sewu di Solo. Kampung ini berada di antara Bengawan Solo dan Kali Pepe, dua sungai yang pada masa lalu menjadi jalur vital perdagangan dan transportasi. “Dulu ada bandar yang menghubungkan Kota Solo dengan pelabuhan-pelabuhan besar di Jawa. Dari situ saya memulai tesis,” jelas Lea.

Seiring bergesernya moda transportasi, fungsi bandar perlahan menghilang. Namun, menurut Lea, kampung-kampung tersebut masih menyimpan nilai sejarah dan identitas lokal yang kuat. Tantangannya adalah bagaimana menjaga nilai itu agar tidak tergerus perubahan zaman.

Melalui risetnya, Lea berupaya merumuskan pendekatan yang bisa diterapkan di kampung-kampung lain, agar sejarah, budaya, dan karakter lokal tetap terawat dalam proses pembangunan.

Usai menuntaskan studi magister, Lea berencana kembali ke dunia profesional. Bekal akademik dan pengalaman riset yang ia peroleh di ITB diharapkan menjadi landasan untuk merancang ruang-ruang yang tak hanya fungsional, tetapi juga berakar pada sejarah dan kehidupan masyarakat.

(***)


Posting Komentar untuk "Kisah Lea, Wisudawan Terbaik S2 ITB yang Menyusuri Jejak Kampung Lewat Arsitektur"