Dalam khutbahnya, Ustaz yang akrab disapa UAS itu menekankan bahwa pendidikan adalah fondasi utama kemajuan bangsa sekaligus jalan menjaga martabat umat manusia. Menurutnya, Islam sejak awal menempatkan ilmu di atas harta.
UAS mengisahkan Perang Badar pada 17 Ramadan tahun kedua Hijriah. Saat itu, Nabi Muhammad SAW memberi pilihan kepada tawanan perang untuk mengajarkan baca tulis kepada anak-anak Muslim sebagai syarat pembebasan. “Islam lebih mengedepankan pendidikan daripada harta. Dengan pendidikan orang bisa mencari harta, tapi harta tanpa ilmu akan habis,” tegasnya.
Tak hanya soal intelektual, UAS juga menekankan pentingnya keseimbangan kecerdasan emosional dan spiritual. Ramadan, kata dia, merupakan “pendidikan terpanjang” bagi umat Islam, karena melatih pengendalian diri, kesabaran, dan integritas. “Cerdas secara intelektual, emosional, dan spiritual, itulah sifat orang yang terdidik,” ujarnya.
ASN Diminta Jaga Integritas
Pada kesempatan yang sama, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti menyampaikan pesan khusus kepada aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan kementeriannya. Ia mengajak seluruh pegawai menjadikan pekerjaan sebagai bagian dari ibadah dan sarana memupuk integritas.
“Kita ingin suasana kerja yang religius. Religius itu mudah-mudahan berimplikasi pada kesalehan dan tanggung jawab,” kata Mendikdasmen Mu’ti usai kegiatan.
Menurut Mendikdasmen Mu'ti, ASN harus bekerja dengan penuh tanggung jawab dan menjauhkan diri dari tindakan yang melanggar hukum, termasuk praktik korupsi. Ia menegaskan, membangun budaya kerja berintegritas merupakan bagian dari reformasi birokrasi di sektor pendidikan.
Setelah salat Jumat, Kemendikdasmen bersama Kementerian Kebudayaan serta Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi menggelar bedah buku “35 Kisah Saat Maut Menjemput” karya UAS. Kegiatan ini disebut sebagai bagian dari penguatan literasi keagamaan di lingkungan kementerian.
Guru dan Sejarah Bangsa
Dalam ceramahnya, UAS juga menyinggung peran guru dalam sejarah Indonesia. Ia menyebut banyak tokoh nasional berlatar belakang pendidik, seperti Jenderal Sudirman dan Abdul Haris Nasution yang sebelum menjadi tokoh militer merupakan seorang guru.
Selain itu, organisasi Islam seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah juga lahir dari gagasan para ulama dan pendidik yang menjadikan pesantren sebagai basis perjuangan kebangsaan.
“Jangan rusak hasil perjuangan para pendidik dengan pembodohan dan kepentingan sesaat,” pesan UAS.
Momentum kegiatan ini dinilai bukan sekadar agenda keagamaan, tetapi juga pengingat bahwa dunia pendidikan memikul tanggung jawab besar dalam membangun karakter bangsa. Di tengah tantangan moral dan sosial, integritas ASN pendidikan menjadi salah satu kunci menjaga kepercayaan publik.
(BKHM Setjen Kemendikdasmen)

Posting Komentar untuk "Di Hadapan Jamaah Masjid Baitut Tholibin, UAS Tegaskan Pendidikan Kunci Kemajuan Bangsa, Mendikdasmen: ASN Harus Kerja dengan Integritas"