DEPOK -- Pemanfaatan teknologi digital di ruang kelas kian terasa dampaknya. Papan Interaktif Digital atau Interactive Flat Panel (IFP) yang menjadi bagian dari program prioritas Presiden RI Prabowo Subianto, kini bukan sekadar perangkat pelengkap.
Di banyak sekolah, IFP telah menjelma menjadi media strategis yang mendorong pembelajaran lebih interaktif, visual, dan berpusat pada peserta didik.
Pengalaman itu dirasakan langsung di SMAN 1 Samarinda. Salah satu gurunya, Alexander Rendi, mengaku hampir tak pernah absen memanfaatkan IFP saat mengajar siswa kelas X dan XI.
“Setiap masuk kelas, saya selalu menggunakan IFP sebagai media pembelajaran,” ujar Rendi.
Menurut Rendi, materi yang disajikan secara visual melalui IFP jauh lebih efektif menarik perhatian siswa. Fokus belajar meningkat, suasana kelas lebih hidup, dan siswa terdorong untuk aktif terlibat. Tak hanya menampilkan materi, ia juga memanfaatkan perangkat tersebut untuk menghadirkan gim interaktif yang membuat pembelajaran terasa lebih menyenangkan.
Meski demikian, Rendi menegaskan bahwa keberhasilan pembelajaran tetap bergantung pada peran guru. “IFP hanya alat bantu. Menarik atau tidaknya pembelajaran tergantung bagaimana guru mengemas materi dengan perangkat tersebut,” jelas guru sejarah itu.
Dalam pelajaran sejarah, misalnya, Rendi memanfaatkan museum virtual yang diakses melalui IFP. Siswa diajak “berkeliling” melihat peninggalan sejarah seolah berada langsung di dalam museum. Cara ini terbukti memantik rasa ingin tahu siswa dan memancing diskusi aktif di kelas.
Dari sisi pemahaman materi, penggunaan IFP dinilai memberi dampak signifikan. Penyajian materi menjadi lebih jelas, sementara siswa dapat terlibat langsung lewat berbagai fitur interaktif, termasuk permainan edukatif yang tersedia di perangkat tersebut.
Kesiapan guru pun menjadi perhatian. Di tingkat sekolah, pelatihan penggunaan IFP telah diberikan untuk memastikan perangkat ini dimanfaatkan secara optimal sesuai tujuan pembelajaran. Fitur whiteboard digital, akses internet, pemutaran video, hingga kemampuan menghubungkan berbagai perangkat, dinilai sangat membantu proses belajar mengajar.
Namun, tantangan tetap ada. Ketersediaan jaringan internet yang stabil masih menjadi kendala dalam mengoptimalkan pemanfaatan IFP di beberapa sekolah.
Dukungan juga datang dari pemerintah daerah. Kepala Bidang Pembinaan SD Dinas Pendidikan Kota Mataram, Syarafudin, menegaskan pihaknya memberikan pendampingan menyeluruh agar IFP benar-benar digunakan sebagai media pembelajaran interaktif, bukan sekadar alat presentasi.
Pendampingan itu mencakup pelatihan guru, penguatan kebijakan pemanfaatan teknologi di kelas, hingga forum berbagi praktik baik antar sekolah. Pengawas sekolah pun dilibatkan dalam supervisi akademik untuk memastikan penggunaan IFP berjalan sesuai tujuan pembelajaran.
Upaya di daerah ini sejalan dengan kebijakan nasional Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Dalam Konsolidasi Nasional 2026 di Depok, Jawa Barat, Senin (9/2/2026), Mendikdasmen Abdul Mu’ti menyampaikan bahwa distribusi IFP telah menjangkau sekitar 288 ribu satuan pendidikan di seluruh Indonesia.
“Program IFP, alhamdulillah, sudah terdistribusi 100 persen dan hampir seluruhnya mulai dipergunakan,” ujar Menteri Mu'ti.
Menteri Mu'ti juga mengapresiasi dukungan berbagai pihak dalam pelaksanaan program digitalisasi pembelajaran tersebut. Ke depan, Kemendikdasmen berencana menambah perangkat digital di sekolah, dengan target setiap satuan pendidikan akan memperoleh tambahan tiga unit IFP mulai 2026.
Kolaborasi antara guru, sekolah, pemerintah daerah, dan pemerintah pusat diharapkan mampu mempercepat transformasi digital pembelajaran. Dengan pemanfaatan IFP yang tepat, kualitas interaksi, efektivitas pembelajaran, dan pengalaman belajar siswa di ruang kelas diyakini akan terus meningkat secara berkelanjutan.
(BKHM Setjen Kemendikdasmen)

Posting Komentar untuk "IFP Ubah Wajah Kelas: Dari Papan Tulis Biasa ke Pembelajaran Interaktif Berbasis Visual"