![]() |
| Ketua Umum GKB-NU, Hery Haryanto Azumi. (Foto: Dok.GKB-NU) |
JAKARTA – Memudarnya hegemoni Amerika Serikat (AS) di panggung global menjadi perhatian serius Gerakan Kebangkitan Baru Nahdlatul Ulama (GKB-NU). Dalam diskusi terbatas yang diselenggarakan oleh Forum Arus Dunia di bilangan Kemang, Jakarta Selatan, Minggu (8/3/2026), terungkap bahwa kemunduran hegemoni AS bersifat permanen alias irreversible, namun tidak serta-merta menghilang dari percaturan dunia.
Inisiator sekaligus Ketua Umum GKB-NU, Hery Haryanto Azumi, memaparkan secara gamblang bahwa AS kini terperangkap dalam kontradiksi internal yang justru menggerogoti kekuatannya sendiri. Meski demikian, ia menegaskan bahwa hegemoni AS masih akan tetap ada dalam model multipolar, di mana beberapa potential hegemon akan eksis bersama Amerika.
"Hegemoni AS yang memuncak pasca Perang Dunia II kini berada dalam fase kemunduran permanen. Mereka terjebak dalam kontradiksi internal yang memakan dirinya sendiri," ujar mantan Ketua Umum PMII ini di hadapan peserta diskusi.
Tiga Fase Kemunduran Hegemoni AS
Hery menjelaskan bahwa geopolitik sistem dunia telah melalui tiga fase penting sejak Perang Dunia II. Pertama, periode 1945 hingga sekitar 1970 ketika AS memainkan peran sebagai pemegang hegemoni tunggal. Kedua, periode 1970 hingga 2001 di mana fokus strategi AS adalah menunda dan meminimalisir efek-efek memudarnya hegemoni.
Ketiga, sejak tahun 2001 AS berupaya memulihkan posisinya dengan kebijakan-kebijakan unilateral. Alih-alih mengembalikan kedigdayaan, langkah ini justru mengakselerasi keruntuhan hegemoni AS hingga hari ini.
"Kebiasaan AS bertindak secara unilateral membuat mereka semakin terisolasi dan kehilangan kesempatan besar untuk memimpin dunia pasca runtuhnya USSR, yang pada akhirnya menyebabkan global chaos di berbagai penjuru dunia," jelas Hery.
Peluang Indonesia di Tengah Kekosongan Kepemimpinan
Di tengah "disorientasi" AS yang mengabaikan kesempatan menjadi pemimpin dunia, Tiongkok perlahan-lahan muncul mengisi kekosongan. Momen ini, menurut GKB-NU, menjadi peluang strategis bagi Indonesia sebagai middle power bersama negara-negara Selatan seperti Brasil, India, dan Afrika Selatan untuk menegosiasikan masa depan dunia.
Publikasi sebelumnya dari GKB-NU menegaskan bahwa Indonesia memiliki legitimasi historis melalui Konferensi Asia-Afrika Bandung 1955 dan peran dalam Gerakan Non-Blok yang membuktikan kemampuan Indonesia menjadi penyeimbang kekuatan dunia.
"Pada saat ambiguitas hegemoni terjadi, selalu terbuka peluang bagi kelompok tengah untuk menegosiasikan watak dan model dunia baru. Dekadensi hegemoni lama membuat dunia tidak yakin kepada sistem yang berlaku, namun juga belum percaya dengan calon hegemon baru karena tidak memiliki pengalaman sejarah sebagai kekuatan global yang bertanggung jawab," kata Hery.
Hery menegaskan bahwa Presiden RI Prabowo Subianto memiliki kesempatan historis untuk memperbesar pole Global South. Apalagi, reputasi Indonesia dalam Konferensi Asia Afrika dan Gerakan Non-Blok menjadi modal berharga di tengah berbagai tantangan dalam dan luar negeri pasca bergabungnya Indonesia ke dalam BRICS dan Board of Peace (BoP).
"Publik menunggu langkah Prabowo di tengah berbagai ketidakpastian untuk berdiri menyalakan obor eksistensi dan kepemimpinan Global South," ujar Hery.
GKB-NU juga menegaskan bahwa misi Global South berbeda dengan pendekatan konfrontatif Iran terhadap Israel atau sikap Israel yang menolak Negara Palestina. Global South justru diharapkan mengembalikan keseimbangan dunia yang lebih setara, menegosiasikan perdamaian dan keadilan, serta membangun sistem dunia multipolar yang lebih manusiawi.
"Tentunya, misi Global South bukan seperti Iran yang bertekad menghapuskan eksistensi suatu negara, atau seperti Israel yang bersikukuh tidak menerima Negara Palestina. Misi kita adalah mengembalikan keseimbangan dunia yang lebih setara, menegosiasikan perdamaian dan keadilan, serta membangun sistem dunia multipolar yang menjamin dunia baru yang lebih manusiawi," pungkas Hery.
(Siaran Pers)

Posting Komentar untuk "Analisis GKB-NU: Hegemoni AS Memudar tapi tak Hilang, Ini Saatnya Prabowo Pimpin Global South"