Minyak Brent yang pada awal tahun masih berada di kisaran USD 62 per barel, kini melonjak ke level USD 85 hingga USD 91 per barel. Kenaikan ini memicu kekhawatiran terhadap ketahanan energi dan stabilitas ekonomi negara-negara pengimpor, termasuk Indonesia.
Pakar ketahanan nasional dan geopolitik energi dari Universitas Pertamina (UPER), Dr. Ian Montratama, menilai konflik ini merupakan ancaman tidak langsung yang bersifat multidimensional bagi Indonesia.
“Meski Indonesia tidak terlibat secara geografis maupun militer, blokade de facto oleh Iran berpotensi mengganggu pasokan energi hingga Asia Tenggara. Dalam kondisi krisis akibat kepanikan pasar global, harga minyak bahkan bisa melonjak hingga USD 150–200 per barel,” ujar Dr Ian, Selasa (10/3/2026).
Selat Hormuz Jadi Titik Kritis Energi Dunia
Iran memiliki posisi strategis dalam rantai pasok energi global. Salah satu jalur vital adalah Selat Hormuz yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia.
Ancaman penutupan jalur tersebut berpotensi memicu krisis pasokan energi global, meningkatkan inflasi internasional, dan memperbesar tekanan fiskal negara pengimpor energi.
Lonjakan harga minyak, menurut Dr Ian, tidak hanya berdampak pada sektor energi, tetapi juga menimbulkan efek domino terhadap biaya transportasi, logistik, hingga harga pangan.
“Ketika harga energi naik, biaya produksi dan distribusi ikut meningkat. Dampaknya langsung terasa pada inflasi dan daya beli masyarakat,” jelas Dr Ian.
Pergeseran Geopolitik Global: Menuju Dunia Multipolar
Di luar aspek ekonomi, konflik ini juga memicu dinamika geopolitik yang lebih luas. Dukungan Tiongkok dan Rusia terhadap Iran membuka ruang rivalitas baru di kawasan Timur Tengah.
“Kita melihat pergeseran dari sistem unipolar menuju multipolar. Stabilitas global kini dipengaruhi dinamika aliansi strategis antarnegara, bukan lagi didominasi satu kekuatan besar,” kata Dr Ian.
Kondisi tersebut menjadikan Timur Tengah sebagai episentrum baru pertarungan pengaruh global.
Mitigasi untuk Indonesia: Diplomasi dan Ketahanan Energi
Menghadapi ketidakpastian global, Dr Ian menekankan pentingnya strategi mitigasi komprehensif bagi Indonesia.
Jangka Pendek:
* Penguatan jaring pengaman fiskal untuk meredam inflasi energi
* Diplomasi deeskalasi melalui ASEAN dan Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa
* Persiapan rencana kontingensi evakuasi WNI di kawasan Teluk
Jangka Panjang:
* Diversifikasi sumber impor energi
* Percepatan transisi energi alternatif
* Penguatan industri pertahanan dan kemandirian alutsista
* Pengembangan riset teknologi pertahanan dan kecerdasan buatan (AI)
“Situasi ini menjadi pengingat bahwa kedaulatan energi dan ekonomi adalah bagian penting dari ketahanan nasional. Indonesia harus tetap konsisten pada prinsip diplomasi bebas aktif,” tegas Dr Ian.
Peran Akademisi dalam Mitigasi Krisis
Menurut Dr Ian, lembaga pendidikan tinggi dapat menjadi pionir dalam membangun kemandirian energi dan sistem keamanan siber berbasis AI.
Konflik Timur Tengah 2026 bukan sekadar persoalan regional, tetapi berdampak langsung pada harga minyak, inflasi global, hingga stabilitas geopolitik. Bagi Indonesia, tantangan ini menuntut respons cepat melalui stabilisasi ekonomi jangka pendek dan strategi ketahanan energi jangka panjang.
Ketika harga minyak melonjak dan rivalitas global menguat, kemandirian energi dan diplomasi cerdas menjadi kunci menjaga stabilitas nasional.
Adapun Universitas Pertamina melalui Program Studi Hubungan Internasional terus mendorong kajian strategis terkait geopolitik global, diplomasi, dan ketahanan energi melalui pendidikan serta riset. Informasi pendaftaran UPER dapat diakses melalui https://pmb.universitaspertamina.ac.id/
(Siaran Pers UPER)

Posting Komentar untuk "Harga Minyak Tembus USD 91 Per Barel, Pakar Universitas Pertamina Ingatkan Dampak Konflik AS–Israel Vs Iran bagi Indonesia"