![]() |
| Asap mengepul di atas wilayah Dahieh di Beirut, Lebanon, setelah pasukan Israel melakukan serangkaian serangan udara di distrik tersebut pada 11 Maret 2026. (Foto: Houssam Shbaro/Anadolu) |
Dalam laporan harian yang dirilis di Beirut, otoritas kesehatan menyebutkan sedikitnya 26 orang tewas dan 80 lainnya terluka hanya dalam 24 jam terakhir.
“Sejak 2 Maret, korban tewas telah mencapai 912 orang dan lebih dari dua ribu lainnya mengalami cedera,” demikian pernyataan resmi Kementerian Kesehatan Lebanon.
Serangan Udara Intensif di Selatan dan Beirut
Serangan udara Israel dilaporkan terus menyasar sejumlah wilayah strategis, terutama kota-kota di Lebanon selatan dan kawasan pinggiran selatan Beirut yang dikenal sebagai basis kuat kelompok Hizbullah.
Sebelumnya, satu orang dilaporkan tewas dan sembilan lainnya terluka dalam serangan udara yang menghantam jalan menuju Bandara Internasional Rafic Hariri di Beirut. Jalur tersebut merupakan akses vital bagi mobilitas sipil dan distribusi logistik.
Menurut Kantor Berita Nasional Lebanon, sebuah drone Israel juga menyerang kendaraan di antara Kota Aabba dan Jebchit di wilayah selatan, menewaskan satu orang dan melukai satu lainnya. Di Kota Toul, pesawat tempur Israel menghancurkan sebuah bangunan tempat tinggal.
Serangan lain menargetkan kendaraan di Kota Al-Sultaniyah, yang menyebabkan satu korban jiwa tambahan.
Tentara Lebanon Jadi Korban
Eskalasi kekerasan turut menimpa aparat militer Lebanon. Angkatan Bersenjata Lebanon mengonfirmasi satu tentaranya tewas dalam serangan udara di Kota Nabatieh. Lima personel lainnya dilaporkan mengalami luka-luka akibat serangan tersebut.
Insiden ini menambah kompleksitas konflik yang tidak hanya berdampak pada warga sipil, tetapi juga aparat negara.
Ketegangan Israel–Lebanon Kian Memanas
Gelombang serangan terbaru ini memperburuk ketegangan lintas perbatasan antara Israel dan Lebanon yang telah meningkat sejak konflik di Gaza kembali memanas. Wilayah Lebanon selatan selama ini menjadi titik rawan karena berbatasan langsung dengan Israel dan kerapkali menjadi arena saling serang antara militer Israel dan Hizbullah.
Intensitas serangan udara Israel menunjukkan upaya untuk melumpuhkan infrastruktur militer dan jaringan logistik di Lebanon selatan. Namun, tingginya jumlah korban sipil menimbulkan kekhawatiran serius di kalangan komunitas internasional.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebelumnya telah berulang kali menyerukan penahanan diri dari semua pihak untuk mencegah konflik regional yang lebih luas. Stabilitas Lebanon sendiri berada dalam kondisi rapuh akibat krisis ekonomi berkepanjangan dan instabilitas politik dalam beberapa tahun terakhir.
Krisis Kemanusiaan Mengintai
Dengan jumlah korban yang terus meningkat, sistem layanan kesehatan Lebanon menghadapi tekanan berat. Rumah sakit di sejumlah wilayah dilaporkan kewalahan menangani lonjakan pasien luka akibat serangan udara.
Jika eskalasi berlanjut, para analis memperingatkan potensi krisis kemanusiaan yang lebih dalam, termasuk gelombang pengungsian baru dari wilayah selatan menuju Beirut dan kawasan utara.
Hingga kini, belum ada tanda-tanda deeskalasi signifikan di lapangan. Situasi keamanan di Lebanon diperkirakan masih akan berfluktuasi dalam beberapa hari ke depan.
(Sumber: WAFA, Kementerian Kesehatan Lebanon, dan Kantor Berita Nasional Lebanon)

Posting Komentar untuk "Korban Tewas Serangan Israel di Lebanon Tembus 912 Orang, Situasi Beirut dan Selatan Kian Mencekam"