![]() |
| Haidar Bagir. (Foto: Mizan) |
Artikel Foreign Affairs berjudul “America Is Losing the Arab World” (7 April, 2026) menunjukkan bahwa Amerika Serikat (AS) tidak sekadar mengalami penurunan citra di dunia Arab, tetapi sedang kehilangan legitimasi moral dan posisi strategisnya secara lebih mendalam.
Argumen ini tidak berdiri di atas spekulasi, melainkan diperkuat oleh data survei lintas kawasan. Perubahan paling mencolok terjadi sejak perang Gaza.
Survei dari Arab Barometer menunjukkan bahwa lebih dari 80 persen masyarakat Arab memandang peran AS dalam konflik tersebut secara negatif. Ini bukan fluktuasi biasa, melainkan lonjakan tajam yang menandai konsolidasi sentimen anti-AS di hampir seluruh kawasan.
Temuan ini diperkuat oleh Arab Opinion Index, yang mensurvei sekitar 8.000 responden di 16 negara Arab. Hasilnya bahkan lebih tegas: sekitar 76 persen responden menyatakan pandangan mereka terhadap AS memburuk sejak perang Gaza, dan 82 persen menilai respons Washington terhadap krisis tersebut sebagai buruk atau sangat buruk.
Dalam metodologi opini publik, angka setinggi ini menunjukkan bukan sekadar ketidakpuasan, tetapi erosi kepercayaan yang bersifat sistemik. Akar utama perubahan ini jelas: persepsi bahwa AS berpihak secara tidak proporsional kepada Israel dan gagal menunjukkan sensitivitas moral terhadap penderitaan Palestina.
Karena itu, kemerosotan citra ini bukan disebabkan oleh faktor umum seperti kebijakan ekonomi atau budaya, melainkan oleh satu isu sentral yang sangat emosional dan politis di dunia Arab.
Dampaknya bersifat struktural. Pemerintah-pemerintah Arab—meskipun banyak yang otoriter—tidak sepenuhnya bisa mengabaikan opini publik. Sentimen anti-AS yang meluas membuat mereka semakin berhati-hati untuk tidak terlihat terlalu dekat dengan Washington. Ini membatasi ruang gerak diplomasi AS di kawasan, termasuk dalam isu normalisasi hubungan dengan Israel.
Lebih jauh, artikel tersebut juga mencatat implikasi keamanan: kemarahan publik yang meluas berpotensi meningkatkan simpati terhadap narasi anti-AS, bahkan bukan tidak mungkin membuka ruang bagi radikalisasi. Dalam konteks ini, kehilangan “hati dan pikiran” publik bukan sekadar masalah citra, tetapi berpotensi menjadi risiko keamanan jangka panjang.
Dalam ruang yang mulai ditinggalkan Amerika, aktor lain—terutama China—muncul sebagai “pemenang relatif”. Persepsi terhadap China membaik, bukan karena kedekatan ideologis, tetapi karena ia tidak diasosiasikan dengan konflik Gaza seperti AS. Ini menandai pergeseran halus namun signifikan dalam orientasi geopolitik kawasan.
Namun, jika analisis Foreign Affairs masih berada pada tingkat erosi legitimasi dan pengaruh, tulisan The New Statesman oleh John Gray (10-16 April, 2006) melangkah lebih jauh: ia melihat situasi ini sebagai bagian dari fase kemunduran imperium Amerika itu sendiri.
Gray menggambarkan kebijakan perang Donald Trump—khususnya terhadap Iran—sebagai langkah yang bukan hanya gagal secara strategis, tetapi juga kontraproduktif secara struktural. Operasi militer yang awalnya diklaim untuk menghentikan ambisi nuklir Iran justru berubah menjadi upaya defensif untuk sekadar menjaga jalur pelayaran seperti Selat Hormuz. Dengan kata lain, tujuan perang menyusut bahkan sebelum hasil tercapai.
Lebih dari itu, Gray menilai perang ini telah merusak fondasi finansial hegemoni Amerika di Timur Tengah. Alih-alih melemahkan Iran, konflik justru berpotensi mengukuhkan Iran sebagai kekuatan kunci dalam ekonomi energi global—karena posisinya yang strategis dalam mengendalikan Selat Hormuz. Jika perang meningkat menjadi operasi darat, ia bahkan memperingatkan kemungkinan bencana yang melampaui Vietnam, Afghanistan, dan Irak sekaligus.
Dalam analisis yang lebih luas, Gray juga melihat dampak global: NATO melemah secara operasional, Eropa menjauh dari Amerika, dan rival seperti Rusia serta China justru mendapatkan momentum. Dengan sumber daya militer AS tersedot ke Timur Tengah, ruang strategis terbuka bagi Vladimir Putin di Eropa Timur dan Xi Jinping di Asia-Pasifik.
Yang paling tajam, Gray bahkan membawa analisis ini ke ranah psikologis. Ia meminjam konsep Sigmund Freud tentang repetition compulsion untuk menggambarkan kebijakan Trump sebagai pengulangan impulsif atas fantasi kejayaan masa lalu. Dalam perspektif ini, kegagalan bukan sekadar akibat salah kalkulasi geopolitik, tetapi juga dorongan psikologis yang tidak terkendali.
Jika digabungkan, kedua analisis ini membentuk gambaran yang utuh: di tingkat regional, Amerika kehilangan kepercayaan publik Arab secara masif dan terukur; di tingkat global, kebijakan yang sama justru mempercepat pergeseran keseimbangan kekuatan dunia. Amerika bukan hanya “tidak disukai”, tetapi mulai kehilangan kapasitas untuk menentukan arah.
Kesimpulannya menjadi lebih keras: apa yang tampak sebagai krisis citra dalam survei opini publik, dalam pembacaan yang lebih dalam, bisa jadi adalah gejala dari sesuatu yang lebih besar—yakni awal dari berakhirnya dominasi Amerika sebagai kekuatan global yang tak tertandingi.
Rabu, 8 April 2026
*) Cendekiawan, filantropis, penulis, dan presiden direktur Mizan Group.

Posting Komentar untuk "Amerika Serikat yang Telah Kehilangan Dunia Arab "