GEBRAK.ID; JAKARTA – Sebanyak 19 mahasiswa lolos seleksi program bantuan riset Yayasan Dana Darma Pancasila batch ketiga tahun 2026. Mereka tak sekadar mendapat dana, tetapi didorong keras mengubah Pancasila yang selama ini dianggap mitos menjadi ilmu dan praktik nyata dalam kehidupan berbangsa.
Ketua Aliansi Kebangsaan, Pontjo Sutowo, menyampaikan apresiasinya saat pembekalan Tiga Ranah Pancasila di Jakarta, Rabu (22/4/2026). Ia menegaskan bahwa bantuan riset ini bukan sekadar formalitas akademik, melainkan upaya serius membumikan ideologi Pancasila ke ranah ilmiah.
“Kami berharap bantuan dana riset ini mampu mendorong lahirnya kajian-kajian ilmiah yang memperdalam pemahaman terhadap Pancasila sebagai dasar negara dan falsafah hidup bangsa,” ujar Pontjo.
Menurut Pontjo, Pancasila kerap hanya dipahami sebagai konsep normatif yang dihafal. Padahal, ideologi ini harus bertransformasi menjadi ideologi kerja yang diterapkan dalam pembangunan peradaban Indonesia.
Pontjo juga menyoroti karakter bangsa yang inklusif dan kosmopolitan. “Kebangsaan kita itu bukan kebangsaan yang tertutup. Justru kita punya karakter yang kosmopolitan, inklusif, dan siap bergaul dengan dunia internasional,” tegasnya.
Generasi Muda Bukan Masalah, Metode Pendidikan yang Usang
Pontjo juga meluruskan stigma negatif terhadap generasi milenial dan Gen Z. Menurutnya, anak muda saat ini jauh lebih kreatif dan cerdas. Tantangan sebenarnya terletak pada ekosistem pendidikan yang belum beradaptasi dengan zaman.
“Masalahnya bukan pada generasinya, tetapi pada ruang dan cara kita mendidik mereka. Pembelajaran Pancasila sering kali masih konvensional dan kurang relevan dengan dunia mereka,” jelas Pontjo.
Pontjo mendorong pendekatan baru, seperti penggunaan film, animasi, hingga konten digital. “Kalau diberi ruang, mereka bisa jauh lebih kreatif dalam mengekspresikan keindonesiaannya,” tambah Pontjo.
Dari Mitos ke Logos, Lalu Menjadi Etos
Direktur Yayasan Dana Darma Pancasila, Yudi Latif, menjelaskan bahwa posisi Pancasila saat ini masih berada pada tataran mitos—dipercaya penting, tapi belum dipahami cara kerjanya. Karena itu, diperlukan konversi menjadi logos (ilmu pengetahuan), lalu diwujudkan menjadi etos (perilaku).
“Untuk itu, kita membutuhkan partisipasi para sarjana dan cendekiawan,” ujar Yudi.
Pada batch ketiga ini, dari 55 pendaftar, hanya 19 yang lolos. Mereka terdiri dari 6 mahasiswa S2 (mendapat Rp10 juta) dan 13 mahasiswa S3 (mendapat Rp17,5 juta). Seleksi ketat dilakukan murni berdasarkan kualitas proposal.
“Mereka terpilih karena prestasi proposalnya, bukan karena belas kasih. Ini penting untuk menjaga kualitas dan integritas program,” tegas Yudi.
Para peneliti muda ini dibekali konsep Tiga Ranah Pancasila: Tata Nilai (karakter), Tata Kelola (sistem hukum dan demokrasi), serta Tata Sejahtera (ekonomi inklusif dan berkeadilan sosial). Yudi berharap riset ini melahirkan temuan aplikatif, bukan sekadar teori.
“Kita ingin kemakmuran yang inklusif, bukan hanya dinikmati oleh segelintir elit. Sumber daya alam yang melimpah harus dikelola dengan inovasi dan teknologi,” pungkas Yudi.
(Siaran Pers Aliansi Kebangsaan)

Posting Komentar untuk "Angkat Pancasila dari Mitos Menuju Ilmu, 19 Mahasiswa Raih Dana Riset Darma Pancasila Batch 3"