Bukan AS, Justru Trump yang Menyerah! Iran Menang Mental, 10 Poin Tuntutan Disodorkan

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. (Foto: Anadolu)
Editor: A Rayyan 

GEBRAK.ID; JAKARTA – Konflik Timur Tengah yang memanas sejak akhir Maret 2026 memasuki babak baru yang mengejutkan. Iran dikabarkan menerima gencatan senjata selama dua minggu, mengabulkan permintaan Amerika Serikat (AS) yang sebelumnya mengancam serangan besar-besaran. Namun, di balik penerimaan itu, Iran justru memaksa AS untuk duduk dan mendengarkan 10 poin tuntutannya.

Kesepakatan bersejarah ini diumumkan setelah mediasi intensif yang difasilitasi oleh Pakistan. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan melalui media sosial X bahwa negaranya akan menghentikan operasi militer dengan syarat tidak diserang. Gencatan senjata "dua arah" ini juga mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz untuk pelayaran aman selama masa perundingan.

Presiden AS Donald Trump pada Selasa (7/4/2026) mengkonfirmasi penangguhan rencana pemboman terhadap Iran, mengakui proposal 10 poin dari Teheran sebagai "dasar yang dapat dinegosiasikan" untuk perdamaian jangka panjang. "Kami telah mencapai hampir semua poin yang disengketakan," ujar Trump di Truth Social.

Trump Kalah Mental, Iran tak Pernah Berkedip

Pengamat politik global dari Universitas Paramadina, Dr. Dina Y. Sulaeman, menilai fase ini adalah "kuat-kuatan mental" saling mengacungkan pelatuk. Trump berharap Iran melepas pistol dan mengangkat tangan. Namun yang terjadi, mata Iran tidak berkedip sedikit pun.

Rakyat Iran bahkan membuat barikade di situs-situs yang diancam akan dibom oleh Trump. Akhirnya, Trump-lah yang menaruh senjata duluan.

"Ok, kita ngobrol, lo maunya apa, gua dengerin," kata Dina menggambarkan situasi tersebut dalam siaran persnya, Rabu (8/4/2026).

Saat ini, Iran dalam posisi memaksakan 10 poin keinginannya, padahal awalnya Trump yang mendesakkan 15 poin proposal menuntut Iran menerima. Ini bukan gencatan senjata, tapi jeda untuk membicarakan tuntutan Iran.

"Buat Trump, ini bisa dipakai untuk mengeklaim kemenangan. Ia bisa menghentikan perang tanpa menyatakan kekalahan. Buat Iran, semua sekarang tahu bahwa dengan keteguhan, kemandirian, kesabaran, perlawanan (resistensi), bahkan negara dengan kekuatan militer ranking 1 sedunia pun bisa dihadapi," ujar Dina.

10 Poin Tuntutan Iran yang Disodorkan ke AS


Berikut adalah 10 poin yang diajukan Iran dan kini menjadi dasar perundingan:

1.  Tidak melakukan agresi 
2.  Melanjutkan kendali Iran atas Selat Hormuz 
3.  Menerima pengayaan uranium 
4.  Mencabut semua sanksi utama 
5.  Mencabut semua sanksi sekunder 
6.  Mengakhiri semua resolusi Dewan Keamanan PBB terkait Iran 
7.  Mengakhiri semua resolusi Dewan Gubernur IAEA terkait Iran 
8.  Pembayaran kompensasi kepada Iran 
9.  Penarikan pasukan tempur AS dari kawasan tersebut 
10. Penghentian perang di semua front, termasuk melawan Perlawanan Islam Lebanon.

Apakah Trump akan Memenuhi?


Dina Sulaeman menyebut belum bisa dipastikan apakah Trump akan memenuhi 10 poin ini atau melanjutkan perang. Namun Iran sudah menyatakan dengan tegas: "Tangan kami tetap di pelatuk."

"Sekarang bola ada di lapangan Trump. Apakah dia benar-benar ingin perdamaian atau hanya mencari muka? Yang jelas, Iran telah membuktikan bahwa resistensi dan keteguhan lebih ampuh daripada ancaman senjata," pungkas Dina.

Dunia kini menanti langkah selanjutnya. Akankah AS menerima tuntutan Iran, atau konflik akan kembali memanas? Satu hal yang pasti, peta kekuatan global mulai bergeser.

(Sumber: @presstv via Dina Sulaeman)


Posting Komentar untuk "Bukan AS, Justru Trump yang Menyerah! Iran Menang Mental, 10 Poin Tuntutan Disodorkan"