
Seluruh siswa dengan disabilitas pendengaran di SKH YKDW 2 Kota Tangerang, Banten, mengikuti TKA selama dua hari, 6–7 April 2026, dengan penuh
antusias. (Foto: BKHM Setjen Kemendikdasmen)
Editor: Endro Yuwanto
GEBRAK.ID; TANGERANG – Semangat tak pernah mengenal batas. Itulah yang tergambar dari pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) di SKH YKDW 2 Kota Tangerang, Banten. Seluruh siswa dengan disabilitas pendengaran di sekolah tersebut—100 persen—mengikuti TKA selama dua hari, 6–7 April 2026, dengan penuh antusias.
Pelaksanaan asesmen bagi murid berkebutuhan khusus itu berjalan lancar berkat persiapan matang sejak jauh hari. Pihak sekolah melakukan sosialisasi, simulasi, hingga koordinasi intensif dengan orang tua siswa.
Kepala SKH YKDW 2 Tangerang, Mulyati, mengatakan pendekatan pelaksanaan TKA di sekolah luar biasa memang berbeda dibanding sekolah reguler.
“Kami tidak bisa menyamakan pola pendampingannya. Orang tua kami libatkan sejak awal, bukan hanya untuk sosialisasi, tetapi juga untuk mendukung pembelajaran anak di rumah,” ujar Mulyati.
Menurut Mulyati, keterlibatan wali murid menjadi faktor krusial. Dukungan emosional dan motivasi dari keluarga membantu siswa lebih percaya diri saat mengerjakan soal literasi dan numerasi.
Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen, Tatang Muttaqin, yang turut meninjau pelaksanaan TKA di lokasi, memberikan apresiasi atas kolaborasi sekolah dan orang tua tersebut.
“TKA ini langkah awal untuk memotret kemampuan murid. Bagi anak berkebutuhan khusus, dorongan dari orang tua sangat menentukan rasa percaya diri dan hasil belajar mereka,” kata Tatang.
Tatang menambahkan, pelaksanaan TKA di sekolah khusus merupakan bagian dari komitmen pemerintah menghadirkan sistem asesmen yang inklusif dan berkeadilan. Prinsip ini juga sejalan dengan kebijakan pendidikan inklusif yang selama ini didorong Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
Salah satu peserta TKA, Sahira, siswi kelas 9, mengaku lega setelah menyelesaikan seluruh rangkaian tes. Melalui bahasa isyarat, ia menyampaikan rasa syukurnya.
“Alhamdulillah, bisa selesai. Semoga hasilnya bagus,” ungkap Sahira.
Sahira paling menikmati soal literasi. Ketertarikannya pada bidang seni dan membaca membuatnya semakin termotivasi mengikuti TKA sebagai bekal menuju jenjang pendidikan berikutnya.
Dukungan penuh juga datang dari sang ibu, Elis Kurniasih. Ia mengaku aktif mendampingi Sahira belajar di rumah dengan memberikan latihan soal tambahan dan penjelasan sederhana tentang konsep TKA.
“Saya sampaikan bahwa TKA ini seperti latihan untuk melihat kemampuan. Jadi dia tidak tegang. Yang penting percaya diri dan jujur,” ujar Elis.
Praktik baik di SKH YKDW 2 Tangerang menunjukkan bahwa asesmen nasional bukan sekadar pengukuran akademik, tetapi juga momentum membangun kepercayaan diri dan karakter siswa. Dengan pendekatan kolaboratif antara sekolah dan keluarga, TKA menjadi ruang pembuktian bahwa pendidikan inklusif dapat berjalan optimal.
(BKHM Setjen Kemendikdasmen)
Posting Komentar untuk "100 Persen Siswa Tunarungu di Tangerang Tuntaskan TKA 2026, Orang Tua Jadi Kunci Sukses"