Harga Avtur Melonjak Imbas Konflik Iran-Amerika, Tiket Pesawat Diprediksi Naik Hingga 13 Persen!

Kenaikan avtur berpengaruh pada harga tiket pesawat.


Editor: Dinar Kencana

GEBRAK.ID, JAKARTA – Ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat yang berdampak pada jalur energi global turut memicu lonjakan harga bahan bakar pesawat (avtur). Kenaikan ini memberi tekanan signifikan pada industri penerbangan nasional dan berimbas langsung pada potensi kenaikan harga tiket pesawat di Indonesia.

Data dari Kementerian Perhubungan Republik Indonesia menunjukkan harga avtur di Bandara Soekarno-Hatta mencapai Rp 23.551 per liter per 1 April 2026. Angka tersebut berkontribusi besar terhadap struktur biaya maskapai, di mana avtur menyumbang sekitar 40 persen dari total biaya operasional.

Dampak Geopolitik ke Harga Energi Global

Kenaikan harga avtur tidak terlepas dari eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah yang melibatkan Iran dan Amerika Serikat, khususnya terkait keamanan jalur distribusi energi di Selat Hormuz. Jalur ini merupakan salah satu rute utama distribusi minyak dunia.

Ekonom energi dari Institute for Energy Economics and Financial Analysis menyebutkan bahwa ketidakstabilan kawasan akan langsung memengaruhi harga minyak global.
“Setiap gangguan di Selat Hormuz berpotensi menaikkan harga minyak dunia secara signifikan, yang pada akhirnya berdampak pada biaya bahan bakar penerbangan,” tulis laporan IEEFA (2026).

Kebijakan Pemerintah: Jaga Keseimbangan Industri dan Daya Beli

Merespons kondisi ini, pemerintah Indonesia mengambil sejumlah langkah strategis untuk menjaga keseimbangan antara keberlangsungan industri penerbangan dan daya beli masyarakat.

Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menyatakan bahwa penyesuaian tarif tidak dapat dihindari.
“Kebijakan ini dirancang untuk menjaga keseimbangan antara keberlanjutan industri penerbangan dan perlindungan konsumen,” ujar Dudy dalam keterangan resmi Kementerian Perhubungan.

Salah satu kebijakan utama adalah penyesuaian fuel surcharge (FS) menjadi maksimal 38 persen, meningkat dari sebelumnya 10 persen (jet) dan 25 persen (propeller). Kenaikan ini diperkirakan mendorong tarif tiket pesawat naik sekitar 9–13 persen.

Selain itu, pemerintah juga mengeluarkan sejumlah stimulus, antara lain:
PPN Ditanggung Pemerintah (DTP) sebesar 11 persen untuk tiket kelas ekonomi domestik

Subsidi sebesar Rp 1,3 triliun per bulan untuk menjaga harga tetap terkendali
Penghapusan bea masuk suku cadang pesawat guna menekan biaya operasional maskapai

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan langkah ini sebagai mitigasi strategis.

“Kenaikan harga avtur tidak terelakkan karena mengikuti harga pasar global. Pemerintah hadir untuk memastikan dampaknya tidak terlalu membebani masyarakat,” ujarnya.

Respons Maskapai: Penyesuaian Tarif dan Efisiensi Operasional

Sejumlah maskapai nasional merespons kebijakan ini dengan melakukan penyesuaian tarif secara hati-hati serta langkah efisiensi operasional.

Direktur Utama Garuda Indonesia, Glenny Kairupan, memastikan kenaikan tarif akan dilakukan secara proporsional.
“Kami mengedepankan prinsip kehati-hatian, transparansi, dan kepatuhan terhadap regulator dalam melakukan penyesuaian harga tiket,” ujarnya dalam pernyataan resmi perusahaan.

Garuda juga melakukan:
• Optimalisasi frekuensi penerbangan
• Penyesuaian jadwal rute
• Evaluasi berkala terhadap biaya operasional

Sementara itu, Lion Air Group melalui Presiden Direktur Daniel Putut Kuncoro Adi menyatakan pihaknya masih menunggu regulasi lanjutan dari pemerintah sebelum menetapkan tarif baru.

Maskapai berbiaya rendah Citilink Indonesia juga mengambil langkah serupa. Direktur Utama Darsito Hendroseputro mengatakan:
“Penyesuaian tarif dilakukan dengan mempertimbangkan daya beli masyarakat dan keberlangsungan operasional perusahaan.”

Tantangan ke Depan

Kondisi geopolitik global yang masih dinamis membuat harga avtur berpotensi terus berfluktuasi. Pemerintah dan pelaku industri dituntut adaptif dalam merespons perubahan ini.

Pengamat penerbangan dari Indonesia National Air Carriers Association menilai sinergi antara regulator dan maskapai menjadi kunci.
“Koordinasi yang kuat diperlukan agar industri tetap sehat tanpa mengorbankan aksesibilitas masyarakat terhadap transportasi udara,” tulis INACA dalam rilisnya.

Dengan berbagai kebijakan dan langkah mitigasi yang ditempuh, pemerintah berharap kenaikan harga tiket tetap terkendali dan tidak menghambat mobilitas masyarakat, sekaligus menjaga stabilitas industri penerbangan nasional di tengah tekanan global.

(Berbagai Sumber)

Posting Komentar untuk "Harga Avtur Melonjak Imbas Konflik Iran-Amerika, Tiket Pesawat Diprediksi Naik Hingga 13 Persen!"