![]() |
| Haidar Bagir. (Foto: Mizan) |
Dulu, waktu kecil, kami menggunakan istilah "pecah dalam" untuk menggambarkan kondisi kelereng yang tampak masih bagus di luaran, tapi sesungguhnya sudah pecah di bagian dalamnya. Biasanya kelereng seperti ini masa "hidup"-nya tidak terlalu lama lagi.
Judul tulisan ini berusaha menganalisis kondisi internal Israel menghadapi berbagai front pertempuran dan reaksi dunia terhadapnya, serta berbagai dampak ekonomi-politik yang menimpa situasi dalam negerinya—meski di luaran masih tampak digdaya.
Untuk memulainya, tak sulit kita simpulkan, seperti juga banyak disimpulkan para ahli, bahwa apa yang tampak sebagai keberhasilan-keberhasilan taktis-militer Israel di medan perang belum tampak bertransformasi menjadi hasil politik yang stabil dan berjangka panjang.
Di front Iran, Lebanon, dan Gaza, pola yang sama berulang: lawan-lawan Israel dapat dilemahkan, tetapi jauh dari bisa dikatakan tereliminasi. Para analis mencatat bahwa konflik ini cenderung bergerak ke arah perang berkepanjangan—bukan karena Israel tidak mampu menyerang, tetapi karena setiap kemenangan membuka front baru atau memperpanjang beban yang harus dipikul.
Dalam suatu perang asimetris, hal seperti ini jelas menjadikannya tak bisa dikatakan sebagai pemenang.
Di Lebanon, penetrasi lebih dalam menciptakan kebutuhan pengamanan jangka panjang yang mahal; di Gaza, kontrol wilayah tidak otomatis menghasilkan tatanan politik pascaperang; sementara di front Iran, eskalasi langsung maupun tidak langsung tetap menyisakan banyak ketidakpastian strategis—untuk tak menyebut nya sebagai kegagalan mencapai tujuan perang sama sekali.
Tekanan ini kemudian merembet ke dalam negeri. Secara ekonomi, beban perang yang terus berlangsung menekan pertumbuhan, memperbesar defisit, dan mengalihkan prioritas anggaran ke sektor pertahanan. Pengerahan reservis dalam skala besar juga mengganggu produktivitas dan aktivitas ekonomi.
Secara sosial-politik, dukungan publik tidak runtuh sama sekali, melainkan semakin terfragmentasi. Ada kelompok yang tetap mendukung operasi militer, tetapi makin membesar pula jumlah warga yang menunjukkan kelelahan perang, kritik terhadap pemerintah, dan ketidakpuasan atas arah kebijakan.
Tingkat perpindahan (emigrasi) warga Israel ke luar negeri pun meningkat dalam beberapa tahun terakhir, terutama sejak konflik multi-front yang terjadi. Meski sebagian kembali dan penambahan penduduk baru Yahudi dari negeri lain ke Israel terus diupayakan, puluhan ribu orang pergi meninggalkan Israel setiap tahun dengan jumlah yang keluar jauh melebihi yang kembali. Peningkatan ini didorong oleh kombinasi faktor keamanan, tekanan ekonomi, dan ketidakpuasan politik.
Konsensus nasional yang kuat di awal perang kini mulai retak oleh durasi perang yang panjang. Namun tekanan itu tidak hanya datang dari dalam. Citra Israel di berbagai belahan dunia—terutama di tingkat masyarakat—mengalami penurunan yang nyata.
Di banyak kota di berbagai belahan dunia, demonstrasi besar, tekanan dari masyarakat sipil, dan kritik akademik menunjukkan bergesernya opini publik. Bahkan di negara-negara yang pemerintahnya tetap mendukung Israel, jarak antara kebijakan resmi dan sentimen masyarakat semakin lebar.
Yang menarik, dinamika ini juga tercermin di dunia Arab. Di tingkat penguasa, sikap terhadap Israel menjadi semakin berhati-hati dan ambigu. Beberapa negara yang sebelumnya membuka jalur normalisasi tidak serta-merta memutus hubungan, tetapi jelas menahan diri, memperlambat, atau menyesuaikan posisi mereka di bawah tekanan opini publik domestik.
Sementara itu, di tingkat masyarakat Arab, simpati terhadap Palestina tetap sangat kuat dan sering kali meningkat, sehingga menciptakan ketegangan antara kalkulasi geopolitik para elit dan tekanan emosional-politik dari bawah.
Kesimpulannya: Israel boleh jadi masih cukup punya sumber daya untuk mempertahankan operasi di berbagai front, tetapi jauh dari berhasil untuk mengubahnya menjadi kemenangan yang konkret, apalagi stabil, bagi pihak mereka.
Tapi, sampai kapan? Di sinilah sebagian pengamat dan ahli sampai sejauh menyatakan bahwa hari-hari Israel sebagai suatu entitas negara sebetulnya sedang dipertaruhkan. Tentu tidak dalam waktu terlalu dekat. Tapi jika kecenderungan ini berjalan terus, ramalan ini bukannya sama sekali mustahil.
Yang jelas, melihat belum ada tanda-tandanya perang akan berakhir dengan tuntas—dan tak mungkin juga perang akan berakhir dengan tuntas, senyampang politik ekspansionis dan imperialistik Israel terus meroyak—maka memang kenyataan seperti inilah yang mungkin terjadi.
Karena, resources negeri ini mau tidak mau akan makin mengering, di tengah merosotnya citra dan dukungan kepadanya, sedang resiliensi internal warga Israel sendiri bisa mencapai batas-terendahnya.
Tak ada orang waras doyan perang, tapi tak sedikit yang berharap bahwa kali ini Israel akan kena batunya. Demi kemanusiaan dan keadilan.
21 April 2026
*) Cendekiawan, filantropis, dan penulis.

Posting Komentar untuk "Israel "Pecah Dalam"?"