![]() |
| Kepala BGN Dadan Hindayana klarifikasi pembelian semir dan sikat sepatu 1,5 miliar. (Foto: Dok. BGN) |
GEBRAK.ID; JAKARTA– Badan Gizi Nasional (BGN) kembali menjadi sorotan tajam setelah terungkap pengadaan semir dan sikat sepatu yang menelan anggaran hingga sekitar Rp1,5 miliar. Kebijakan ini memicu polemik karena dinilai tidak sejalan dengan fokus utama lembaga yang menangani program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Berdasarkan data pengadaan pemerintah yang tercatat dalam sistem Inaproc Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP), terdapat sedikitnya 12 paket kontrak pengadaan semir dan sikat sepatu dengan total nilai mencapai sekitar Rp1,57 miliar.
Nilai kontrak tersebut bervariasi, mulai dari puluhan juta hingga ratusan juta rupiah. Bahkan, satu paket pengadaan semir sepatu tercatat mencapai lebih dari Rp600 juta.
Sorotan semakin menguat setelah muncul perbandingan harga dengan pasar. Dalam sejumlah kontrak, harga semir sepatu dilaporkan berada di kisaran Rp54 ribu per unit, sementara produk serupa di pasaran dapat ditemukan hanya sekitar Rp18 ribuan.
Kondisi ini memicu pertanyaan publik terkait efisiensi penggunaan anggaran negara, terlebih di tengah kebijakan penghematan yang tengah digencarkan pemerintah sejak 2025.
Penjelasan BGN: Untuk Kebutuhan Pelatihan
Menanggapi polemik tersebut, Kepala BGN, Dadan Hindayana, akhirnya memberikan klarifikasi. Ia menyebut pengadaan semir dan sikat sepatu bukan untuk kebutuhan sembarangan, melainkan bagian dari perlengkapan pendidikan dan pelatihan program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI).
“Ini bagian dari perlengkapan pendidikan peserta SPPI,” kata Dadan kepada wartawan di Jakarta, dikutip Senin (20/4/2026).
Ia menjelaskan, program SPPI dirancang untuk mendukung pelaksanaan MBG di lapangan, sehingga peserta membutuhkan perlengkapan tertentu, termasuk kebutuhan penunjang seperti semir sepatu.
Lebih lanjut, Dadan menyebut anggaran tersebut dialokasikan untuk sekitar 30.299 peserta pelatihan, dengan rincian harga sekitar Rp41.470 per unit untuk semir dan Rp10.780 untuk sikat sepatu.
“Pengadaan ada di Universitas Pertahanan,” ujarnya, menjelaskan bahwa proses dilakukan melalui skema swakelola tipe II.
Kritik Menguat, Transparansi Dipertanyakan
Meski telah dijelaskan, kritik publik belum mereda. Sejumlah pihak menilai pengadaan tersebut tidak relevan dengan prioritas utama BGN yang seharusnya fokus pada perbaikan gizi masyarakat.
Selain itu, pengadaan ini dinilai menambah daftar belanja BGN yang dianggap janggal, setelah sebelumnya muncul sorotan terhadap pengadaan motor, kaus kaki, hingga jasa event organizer dengan nilai besar.
Pengamat kebijakan publik bahkan menilai kasus ini mencerminkan lemahnya perencanaan dan transparansi anggaran, sehingga berpotensi menggerus kepercayaan masyarakat terhadap program strategis nasional seperti MBG.
Di media sosial, reaksi warganet pun cenderung negatif. Banyak yang mempertanyakan urgensi pengadaan barang seperti semir sepatu dalam program yang berkaitan dengan pemenuhan gizi masyarakat.
Polemik yang Belum Usai
Hingga kini, polemik pengadaan semir dan sikat sepatu oleh BGN masih bergulir. Meski lembaga tersebut menegaskan seluruh proses telah sesuai prosedur, publik tetap menuntut penjelasan lebih rinci, terutama terkait urgensi dan efisiensi anggaran.
Kasus ini kembali menegaskan pentingnya akuntabilitas dalam penggunaan uang negara, terlebih untuk program yang menyangkut kebutuhan dasar masyarakat.
(berbagai sumber)

Posting Komentar untuk "Kontroversi Anggaran BGN: Rp1,5 Miliar untuk Semir dan Sikat Sepatu, Publik Pertanyakan Prioritas"