![]() |
| Puluhan anak SD menyeberangi sungai untuk pergi dan pulang sekolah di Aceh Utara, karena jembatan yang dijanjikan tak kunjung terealisasi. (Foto: sok.portalsatu.com) |
GEBRAK.ID; ACEH UTARA – Potret buram dunia pendidikan kembali terlihat di pelosok Indonesia. Sebanyak 40 siswa sekolah dasar di Kabupaten Aceh Utara terpaksa mempertaruhkan nyawa setiap hari dengan menaiki perahu sederhana untuk menyeberangi sungai demi bisa bersekolah.
Peristiwa ini terjadi di Dusun Biram, Gampong Plu Pakam, Kecamatan Tanah Luas. Tanpa akses jembatan, para siswa harus menyeberangi aliran Krueng Keureuto menggunakan perahu tua yang ditarik secara manual dengan seutas tali.
Kepala Dusun Biram, Nariman, mengungkapkan kondisi tersebut bukan hal baru, melainkan sudah berlangsung bertahun-tahun tanpa solusi nyata dari pemerintah.
“Sejak saya kecil, begini jugalah caranya,” ujar Nariman saat ditemui di lokasi, Kamis (23/4/2026), sebagaimana dilaporkan media lokal portalsatu.com
Taruhan Nyawa Demi Sekolah
Setiap hari, anak-anak berdesakan di atas perahu tanpa mesin yang hanya mengandalkan tali sebagai penarik. Risiko kecelakaan menjadi ancaman nyata, terlebih saat debit air meningkat.
Nariman mengungkapkan, insiden anak terjatuh ke sungai pernah terjadi. Ia menyayangkan lambannya respons pemerintah terhadap kondisi berbahaya tersebut.
“Pernah kejadian anak-anak tercebur ke sungai. Beruntung masih selamat. Tapi apakah harus tunggu korban jiwa dulu?” kata Nariman dalam wawancara di Aceh Utara, Kamis (23/4/2026).
Tak hanya soal keselamatan, siswa juga dibebani biaya penyeberangan sekitar Rp2.000 per hari. Bagi sebagian keluarga di desa, biaya tersebut menjadi tambahan beban ekonomi.
Sering Telat, Bahkan Tak Bisa Sekolah
Guru di SD Negeri 7 Paya Bakong, Rina Fariani, mengungkapkan kondisi ini berdampak langsung pada proses belajar mengajar. Dari total 201 siswa, sekitar 40 anak berasal dari seberang sungai dan paling terdampak.
“Kalau air tinggi, mereka telat atau bahkan tidak masuk sama sekali,” ujar Rina dalam kesempatan yang sama.
Saat musim hujan, arus sungai menjadi lebih deras dan berbahaya. Akibatnya, banyak siswa memilih tidak berangkat sekolah demi keselamatan.
Sebaliknya, saat air surut, mereka harus berjalan kaki menyeberangi sungai dengan kondisi seragam basah kuyup.
Janji Tinggal Janji, Jembatan Tak Kunjung Dibangun
Ironisnya, usulan pembangunan jembatan sebenarnya sudah diajukan sejak 2020. Bahkan, peninjauan lapangan telah dilakukan oleh pihak terkait.
Namun hingga 2026, tidak ada realisasi pembangunan. Warga menilai pemerintah daerah abai terhadap kebutuhan dasar masyarakat, khususnya akses pendidikan.
“Kami berharap perhatian serius pemerintah. Jangan sampai ada korban jiwa baru ditindaklanjuti,” tegas Nariman.
Cerminan Ketimpangan Pembangunan
Kondisi ini menjadi ironi di tengah berbagai klaim pembangunan infrastruktur nasional. Di satu sisi, kota-kota besar terus berkembang, namun di daerah terpencil, akses dasar seperti jembatan masih menjadi kemewahan.
Kasus di Aceh Utara ini bukan yang pertama. Sebelumnya, sejumlah pelajar di wilayah lain juga dilaporkan harus menyeberangi sungai menggunakan rakit darurat akibat jembatan rusak atau tak tersedia.
Situasi ini menegaskan bahwa ketimpangan pembangunan masih menjadi persoalan serius yang belum terselesaikan.
(berbagai sumber)

Posting Komentar untuk "Puluhan Siswa SD di Aceh Utara Pertaruhkan Nyawa Naik Boat ke Sekolah, Jembatan tak Kunjung Dibangun"