Pernyataan itu disampaikan Wamen Atip saat memberikan arahan dalam kegiatan peningkatan kemahiran berbahasa Indonesia di Palembang, Sumatera Selatan, Rabu (15/4/2026).
“Bahasa Indonesia bukan hanya identitas bangsa, tetapi juga perekat yang menyatukan kita. Ke depan, bahasa Indonesia harus tumbuh bersama perkembangan ilmu pengetahuan,” ujar Wamen Atip di hadapan peserta kegiatan.
Tantangan Literasi: Membaca tanpa Memahami
Menurut Wamen Atip, persoalan literasi di Indonesia tidak semata soal kemampuan membaca, melainkan kemampuan memahami isi bacaan secara utuh. Ia menilai, masih banyak peserta didik yang mampu melafalkan teks, namun belum benar-benar menangkap makna di baliknya.
“Banyak yang membaca, tetapi tidak memahami. Ini yang menjadi pekerjaan rumah kita bersama,” tegas Wamen Atip.
Karena itu, Wamen Atip mendorong agar pembelajaran bahasa Indonesia tidak berhenti pada aspek teoritis. Guru, kata dia, perlu mengaitkan materi dengan konteks kehidupan sehari-hari agar lebih mudah dipahami dan relevan bagi siswa.
Pendekatan aplikatif tersebut diharapkan mampu melatih siswa membaca dengan tujuan yang jelas, memahami pesan teks, serta mampu mengungkapkan gagasan secara lisan maupun tulisan.
600 Siswa Ikut Program Literasi di Sumsel
Kepala Balai Bahasa Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), Desi Ari Pressanti, melaporkan bahwa kegiatan ini melibatkan 200 siswa SMP dari Kabupaten Ogan Ilir yang mendapat pelatihan membaca cepat. Para guru pendamping juga dibekali strategi untuk meningkatkan kemahiran berbahasa Indonesia dalam proses pembelajaran.
“Setelah kegiatan ini, akan dilakukan evaluasi dalam dua bulan untuk melihat perkembangan kemampuan literasi siswa dan menentukan langkah tindak lanjut,” jelas Desi.
Tak hanya tingkat SMP, Balai Bahasa juga menyelenggarakan pelatihan serupa bagi 200 siswa SD dalam kemampuan mengulas buku, serta 200 siswa SMA di Kabupaten Ogan Komering Ilir yang difokuskan pada keterampilan membaca kritis.
Program tersebut menjadi bagian dari upaya sistematis peningkatan kualitas literasi di Sumatera Selatan, dengan menyasar berbagai jenjang pendidikan.
Tantangan Daerah Terpencil dan Upaya Digitalisasi
Dalam sesi dialog, para guru mengungkap sejumlah kendala yang masih dihadapi di lapangan, mulai dari keterbatasan listrik, akses internet yang belum merata, hingga minimnya sarana pembelajaran di wilayah terpencil.
Menanggapi hal itu, Wamen Atip memastikan pemerintah terus berupaya mengurangi kesenjangan pendidikan melalui program digitalisasi sekolah dan penyediaan perangkat pembelajaran.
Wamen Atip menyebut langkah tersebut sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang menekankan revitalisasi pendidikan serta percepatan transformasi digital di satuan pendidikan.
“Upaya peningkatan literasi harus berjalan beriringan dengan pemerataan akses pendidikan. Transformasi digital menjadi salah satu kunci untuk menjawab tantangan tersebut,” ujarnya.
Wamen Atip juga mendorong guru untuk terus berinovasi dalam pembelajaran literasi, termasuk membiasakan siswa membaca secara terarah, berpikir kritis, serta berani menyampaikan pendapat secara argumentatif.
Kegiatan yang digelar Balai Bahasa Sumatera Selatan bersama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah ini menjadi bagian dari komitmen pemerintah dalam memperkuat literasi nasional melalui penguatan bahasa Indonesia sebagai bahasa ilmu pengetahuan dan alat pemersatu bangsa.
(Sumber: BKHM Sekretariat Jenderal Kemendikdasmen)
Wamendikdasmen Atip Latipulhayat: Banyak Siswa Bisa Membaca, tapi Belum Tentu Memahami
GEBRAK.ID;
PALEMBANG -- Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah
(Wamendikdasmen) Atip Latipulhayat menegaskan pentingnya memperkuat
peran bahasa Indonesia sebagai fondasi literasi sekaligus perekat
persatuan nasional. Di tengah tantangan rendahnya pemahaman bacaan
siswa, bahasa Indonesia dinilai harus terus dikembangkan agar selaras
dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Posting Komentar untuk "Wamendikdasmen Atip Latipulhayat: Banyak Siswa Bisa Membaca, tapi Belum Tentu Memahami"