Editor: M Zuhro AH
Sekretaris Kemendukbangga/BKKBN Budi Setiyono. (Foto:Kemendukbangga/BKKBN)
GEBRAK.ID — Penemuan 11 bayi yang dititipkan di kediaman orang tua seorang bidan di kawasan Pakem, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, telah menggetarkan jagat maya dan memicu keprihatinan nasional. Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN menilai peristiwa ini bukan sekadar pelanggaran administratif penitipan anak, melainkan sebuah alarm keras yang menandakan rapuhnya sistem dukungan pengasuhan di Indonesia.
Di balik penggerebekan rumah milik bidan berinisial ORP tersebut, terbentang realitas sosial yang kompleks. Sebagian besar bayi yang dievakuasi aparat kepolisian diketahui berasal dari hubungan di luar pernikahan.
Para ibu—mayoritas berstatus mahasiswi atau pekerja muda—mengaku menitipkan buah hati mereka lantaran himpitan tekanan sosial, status belum menikah, tuntutan kuliah, hingga beban kerja.
Empat Akar Masalah Struktural
Menanggapi hal ini, Sekretaris Kemendukbangga/BKKBN, Budi Setiyono, menyebut peristiwa Sleman sebagai fenomena gunung es. Dalam perspektif pembangunan keluarga, ia memetakan sedikitnya empat persoalan struktural yang saling bertautan.
"Kalau dilihat dari perspektif pembangunan keluarga, ada setidaknya empat masalah yang muncul. Pertama, lemahnya kesiapan membangun keluarga muda. Kedua, meningkatnya kasus kehamilan di luar nikah. Ketiga, minimnya sistem dukungan pengasuhan. Dan keempat, perlunya penyempurnaan layanan negara yang aman bagi ibu rentan dan bayi," ujar Budi saat dikonfirmasi di Jakarta, Selasa (12/5/2026).
Budi menyoroti fakta bahwa banyak orang tua bayi adalah mahasiswi dan pasangan belum menikah. Bagi Kemendukbangga, ini adalah bukti nyata adanya kesenjangan lebar antara realitas sosial generasi muda dengan pendidikan keluarga yang selama ini diberikan.
Selama ini, bimbingan pranikah cenderung diberikan saat seseorang sudah di ambang pelaminan, bukan sejak remaja saat rasa ingin tahu dan risiko eksplorasi seksual justru memuncak.
"Pendidikan keluarga seharusnya tidak dimulai ketika orang sudah mau menikah. Pembekalan tentang agama, norma sosial, dan risiko hubungan seksual di luar nikah harus diberikan lebih dini, sejak remaja dan awal usia kuliah," tegas Budi.
Saatnya Mencari Solusi, Bukan Sekadar Menghukum
Kemendukbangga menekankan bahwa respons terhadap kasus ini semestinya melampaui pendekatan kriminalisasi. Publik dan pemangku kebijakan diajak untuk mengurai akar persoalan sosial agar kita tidak terus-menerus "membersihkan asap sementara apinya dibiarkan menyala".
Pihaknya kini bergerak cepat untuk mengonvergensi kebijakan yang lebih relevan dalam kerangka pembangunan keluarga. Salah satu inovasi yang akan diakselerasi adalah pengembangan Taman Asuh Sayang Anak (Tamasya).
Program ini dirancang tidak hanya sebagai tempat penitipan anak konvensional, tetapi juga sebagai ekosistem family crisis support. Artinya, Tamasya akan membuka ruang aman bagi ibu muda yang mengalami kehamilan tidak direncanakan agar tidak mencari jalan pintas informal atau ilegal.
"Kami akan memastikan ekosistem ini memiliki ruang aman bagi mereka yang mengalami krisis. Alasan sibuk bekerja atau berkuliah menunjukkan adanya kebutuhan nyata terhadap layanan pengasuhan bayi yang fleksibel, terjangkau, dan tentunya aman," papar Budi.
Selain membangun infrastruktur pengasuhan, Kemendukbangga juga akan menggencarkan kembali edukasi kesehatan reproduksi dan persiapan pernikahan bagi generasi muda. Pesan tegas juga disampaikan kepada setiap keluarga agar menjadi benteng pertama dalam menanamkan nilai moral dan pemahaman reproduksi sehat kepada anak-anak mereka.
Penemuan sebelas bayi ini bermula dari laporan warga yang mencurigai aktivitas tidak biasa di rumah bidan ORP. Kini, sejumlah bayi yang mengalami gangguan kesehatan tengah menjalani perawatan medis intensif, sementara lainnya berada dalam pendampingan Dinas Sosial setempat. Kasus ini menjadi pengingat getir bahwa Indonesia membutuhkan revolusi dalam sistem dukungan pengasuhan.
(Sumber: Kemendukbangga)
Posting Komentar untuk "11 Bayi Hasil Hubungan Luar Nikah Dititipkan di Rumah Bidan Sleman, Kemendukbangga/BKKBN: Ini Fenomena Gunung Es!"