AS Tutup Misi di Gaza karena Upaya Gencatan Senjata Israel–Hamas Dinilai Gagal

Jalur Gaza, Palestina. (Foto ilustrasi: Pixabay)
Editor: A Rayyan K

GEBRAK.ID; WASHINGTON – Amerika Serikat (AS) dilaporkan akan menutup misinya di Jalur Gaza setelah upaya menjaga gencatan senjata antara Israel dan Hamas tidak berjalan efektif. Keputusan ini menandai babak baru dalam dinamika konflik yang hingga kini belum menunjukkan tanda mereda.

Menurut laporan Reuters yang mengutip sejumlah sumber diplomatik, Jumat (1/5/2026), Pusat Koordinasi Sipil-Militer atau Civil-Military Coordination Center (CMCC) dinilai gagal menjalankan fungsi utamanya, yakni memastikan kepatuhan terhadap gencatan senjata serta menjamin distribusi bantuan kemanusiaan di wilayah konflik.

Kegagalan tersebut membuat Washington memilih mengakhiri operasi lembaga itu dan menggantinya dengan misi keamanan internasional yang dipimpin Amerika Serikat. Dalam skema baru ini, sekitar 40 personel militer AS direncanakan akan diterjunkan sebagai bagian dari pasukan stabilisasi internasional.

Langkah ini disebut sebagai bagian dari kelanjutan rencana perdamaian yang sebelumnya diusung Presiden AS, Donald Trump. Pada November 2025, Dewan Keamanan PBB telah mengesahkan resolusi yang mendukung inisiatif tersebut, dengan 13 negara memberikan suara setuju, sementara Rusia dan China memilih abstain.

Resolusi itu mencakup pembentukan pemerintahan sementara internasional di Gaza serta pembentukan Dewan Perdamaian yang dipimpin langsung oleh Trump. Selain itu, mandat juga diberikan untuk pembentukan pasukan stabilisasi yang akan bekerja sama dengan Israel dan Mesir dalam menjaga keamanan kawasan.

Namun di lapangan, implementasi rencana tersebut menghadapi hambatan serius. Serangan militer Israel masih terus berlangsung, sementara Hamas dilaporkan menolak untuk melucuti senjata sebagai bagian dari kesepakatan damai.

Sejumlah analis menilai kondisi ini mencerminkan kompleksitas konflik Gaza yang tidak hanya melibatkan aspek militer, tetapi juga kepentingan politik dan keamanan regional. Ketiadaan kesepakatan yang mengikat dari kedua pihak membuat berbagai upaya diplomasi kerap berujung buntu.

“Tanpa komitmen yang kuat dari kedua belah pihak, mekanisme apa pun akan sulit berjalan efektif,” ujar seorang diplomat yang dikutip dalam laporan tersebut.

Penutupan misi CMCC juga berdampak pada distribusi bantuan kemanusiaan yang selama ini menjadi salah satu fokus utama komunitas internasional. Ketidakpastian keamanan di lapangan membuat penyaluran bantuan menjadi semakin rentan terganggu.

Situasi ini menambah daftar panjang tantangan dalam upaya menciptakan stabilitas di Jalur Gaza. Meski demikian, pembentukan pasukan stabilisasi internasional diharapkan dapat menjadi alternatif untuk mengendalikan situasi, meskipun efektivitasnya masih akan sangat bergantung pada dinamika politik di kawasan.

Hingga kini, belum ada tanda-tanda kuat bahwa konflik akan segera mereda. Komunitas internasional pun terus mendorong solusi diplomatik yang lebih komprehensif guna mengakhiri krisis berkepanjangan di wilayah tersebut.

(Sumber: Reuters/Sputnik)

Posting Komentar untuk "AS Tutup Misi di Gaza karena Upaya Gencatan Senjata Israel–Hamas Dinilai Gagal"