Editor: Endro Yuwanto
Rapat Koordinasi Revitalisasi Bahasa Daerah (RBD) 2026 di Singkawang, Kalimantan Barat, (Foto: Humas Kemendikdasmen)
GEBRAK.ID: SINGKAWANG – Di tengah arus modernisasi yang kian deras, upaya menjaga bahasa daerah kembali ditegaskan sebagai agenda penting nasional. Pemerintah pusat bersama daerah kini memperkuat langkah konkret melalui program revitalisasi Bahasa Melayu Sambas yang dipusatkan di Kota Singkawang, Kalimantan Barat.
Melalui Rapat Koordinasi Revitalisasi Bahasa Daerah (RBD) 2026, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa bersama pemerintah daerah dan sejumlah lembaga pendidikan menyatukan komitmen untuk memastikan bahasa ibu tetap hidup di tengah masyarakat.
Kepala Badan Bahasa, Hafidz Muksin, mengingatkan bahwa ancaman kepunahan bahasa bukan sekadar wacana. Ia mengutip fakta global bahwa setiap dua minggu, satu bahasa di dunia hilang. Dengan ratusan bahasa daerah yang dimiliki, Indonesia berada dalam posisi yang rentan sekaligus strategis untuk menjaga warisan budaya tersebut.
“Bahasa ibu adalah identitas. Jika bahasa hilang, maka nilai-nilai, karakter, dan kearifan lokal ikut lenyap,” ujar Hafidz dalam forum tersebut, seperti dalam siaran persnya yang diterima redaksi pada Senin (4/5/2026).
Di tingkat lokal, Pemerintah Kota Singkawang menyambut serius penunjukan wilayahnya sebagai pusat revitalisasi Bahasa Melayu Sambas tahun ini. Wali Kota Tjhai Chui Mie menyoroti perubahan perilaku generasi muda yang semakin jarang menggunakan bahasa daerah dalam keseharian.
“Kalau kita diam, 20 tahun lagi bahasa ini mungkin hanya tersisa di buku atau penelitian. Ini bukan proyek besar yang terlihat, tapi kerja sunyi untuk masa depan anak cucu,” kata Tjhai.
Sebagai langkah nyata, pemerintah daerah berencana menghadirkan penggunaan bilingual—Bahasa Indonesia dan Melayu Sambas—di ruang publik, termasuk pada papan nama jalan dan fasilitas umum. Kebijakan ini diharapkan mampu membiasakan masyarakat kembali menggunakan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari.
Dukungan juga datang dari wilayah sekitar. Wakil Bupati Bengkayang, Syamsul Rizal, menyebut Bahasa Melayu Sambas sebagai perekat sosial lintas daerah, mulai dari Singkawang hingga Sambas dan Bengkayang.
“Bahasa ini menyatukan kita, meski ada perbedaan dialek. Penting bagi anak-anak untuk mengenalnya sejak dini, dari PAUD hingga SMP,” ujar Syamsul.
Sementara itu, sektor pendidikan menjadi garda depan dalam program revitalisasi ini. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Singkawang, Asmadi, memastikan bahwa bahasa daerah akan diperkuat dalam kurikulum muatan lokal.
Selain itu, ribuan guru dan siswa juga akan mengikuti Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI) sebagai bagian dari penguatan literasi. “Bahasa daerah tidak boleh terkikis. Di sanalah jati diri kita terhimpun,” tegas Asmadi.
Langkah serupa juga didorong di lingkungan keagamaan. Kepala Kantor Kementerian Agama Singkawang, Mukhlis, menilai penggunaan bahasa daerah dalam kegiatan sosial dan keagamaan penting untuk menjaga kedekatan budaya. “Jangan sampai 10 tahun lagi bahasa ini hanya ada di museum. Minimal, gunakan dalam acara-acara daerah agar tetap hidup,” katanya.
Sebagai penguat komitmen, kegiatan ini ditutup dengan penandatanganan nota kesepahaman antara Badan Bahasa, pemerintah daerah, dan sejumlah perguruan tinggi seperti IAIN Pontianak dan Universitas PGRI Pontianak. Kerja sama ini akan melahirkan berbagai program, mulai dari pelatihan guru, penyusunan bahan ajar, hingga Festival Tunas Bahasa Ibu.
Revitalisasi Bahasa Melayu Sambas bukan sekadar program kebahasaan. Lebih dari itu, ini adalah gerakan menjaga identitas, merawat ingatan kolektif, dan memastikan generasi mendatang tetap memiliki akar budaya yang kuat di tengah dunia yang terus berubah.
(Sumber: Kemendikdasmen)
Posting Komentar untuk "Bahasa Melayu Sambas Dihidupkan Kembali: Dari Singkawang, Gerakan Jaga Jati Diri Bangsa Menguat"