Editor: Devona R
Welin Kusuma mendedikasikan seluruh hidupnya untuk "berburu gelar". (Foto: Dok.Pribadi Welin Kusuma)
GEBRAK.ID — Mungkin seseorang merasa lega bisa menyelesaikan satu gelar sarjana tepat waktu. Namun tidak bagi Welin Kusuma.
Pria kelahiran Makassar, 8 Maret 1981 ini seolah mendedikasikan seluruh hidupnya untuk "berburu gelar". Hingga 2026, ia telah mengumpulkan total 61 gelar—terdiri dari 14 gelar Sarjana (S1), 3 gelar Magister (S2), dan puluhan sertifikasi profesi.
Dengan koleksi gelar sebanyak itu, ketika disapa di sela wawancara eksklusif, Welin justru santai. Menurutnya, kuliah adalah candu yang positif.
“Kalau misalnya sudah lulus, saya langsung daftar lagi. Jadi, nggak pernah kosong. Saya ingin eksplor untuk tahu macam-macam ilmu,” kata Welin dikutip dari detik.com di Jakarta, Selasa (12/5/2026).
Memecahkan Rekor MURI di Usia Muda
Nama Welin bukanlah pendatang baru di ranah pendidikan tinggi. Jauh sebelum kini total gelarnya mencapai 61, pria yang tinggal di Surabaya ini sudah melanglang buana di berbagai kampus ternama. Jejak pendidikannya yang bisa dilacak di Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDikti) menunjukkan perjalanan panjang sejak tahun 1999.
Welin merupakan pemecah rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) untuk kategori Peraih Gelar Multi-disiplin Terbanyak. Ia juga memegang rekor sebagai Pengambil SKS Terbanyak dalam 1 Semester, yakni 111 SKS pada tahun 2003—jumlah yang hampir mustahil bagi mahasiswa biasa.
Bagaimana tidak, saat itu Welin tercatat aktif di lima jurusan berbeda secara bersamaan, mulai dari Teknik Industri Universitas Surabaya (Ubaya), Hukum Universitas Airlangga (Unair), Teknik Informatika STTS, hingga Administrasi Negara di Universitas Terbuka (UT).
Fondasi Multi-Kampus
Berbekal panggilan batin untuk tidak menyia-nyiakan masa muda, Welin memulai segalanya dari nol. “Saya awalnya ambil di swasta, Universitas Surabaya jurusan Teknik Industri. Tapi setelah itu saya juga ambil di negeri, ada Unair, lalu ITS,” ujar Welin menceritakan fase-fase awalnya.
Meski terdengar sebagai pencapaian yang mahal, Welin menegaskan bahwa dirinya tidak mau membebani orang tua. "Saya banyak dapat beasiswa. Saya nggak mau membuat orang tua jadi berat. Karena keinginan saya pengen belajar, tapi nanti orang tua yang terbebani," ungkapnya.
Strateginya pun unik; ia gemar berpindah dari satu universitas ke universitas lain, namun dengan catatan akademik yang tetap kinclong.
Dari Insinyur Hingga Ahli Keuangan
Daftar panjang gelar Welin sangat multidisiplin. Sarjana Teknik (S.T.), kemudian Sarjana Ekonomi (S.E.), Sarjana Hukum (S.H.), Sarjana Komputer (S.Kom.), hingga Sarjana Sastra Inggris (S.S.). Tak puas di situ, pada jenjang Magister ia meraih Magister Teknik (M.T.) dari ITS, Magister Sains Manajemen (M.S.M.), dan Magister Kenotariatan (M.Kn.) dari Unair.
Menariknya, justru sertifikasi profesionalnya yang paling "mengerikan". Welin memegang kredensial bergengsi global seperti Certified Management Accountant (CMA) dari ICMA Australia, Certified Financial Planner (CFP), hingga ASEAN Chartered Professional Accountant (ASEAN CPA). Kombinasi langka antara teknik, hukum, dan akuntansi ini membuatnya bisa bekerja sebagai analis keuangan di perusahaan nasional sekaligus praktisi konsultan pajak.
Pantang Berhenti Belajar
Bahkan hingga saat ini, di tengah aktivitasnya yang padat sebagai pekerja dan konsultan, Welin masih tercatat sebagai mahasiswa aktif. Ia sedang menempuh program S1 Teknologi Pendidikan di Universitas Terbuka. "Selalu, pasti saya terdaftar. Jadi kalau nggak S1 ya S2, atau barengan. Saya yakin pengetahuan itu akan berguna bagi kehidupan saya, baik sekarang maupun di kemudian hari," jelasnya.
Mendengar kisah Welin Kusuma, rasanya definisi "haus akan ilmu" telah menemukan wajahnya yang sesungguhnya. Meski namanya kini identik dengan rentetan alfabet yang tak biasa, ia membuktikan bahwa batasan belajar hanya ada dalam pikiran manusia itu sendiri.
(Berbagai Sumber)