![]() |
| Proyek ambisius mobil listrik menjadi salah satu penyebab kerugian pertama kalinya Honda dalam 70 tahun. (Foto: Honda- Indonesia) |
Editor : Dinar Kencana
GEBRAK.ID; JAKARTA-- Produsen otomotif asal Jepang, Honda mencatat kerugian tahunan untuk pertama kalinya sejak menjadi perusahaan publik pada 1957 atau hampir 70 tahun lalu. Kondisi ini menjadi pukulan besar bagi salah satu merek otomotif terbesar dunia tersebut.
Honda melaporkan rugi bersih sebesar 423,9 miliar yen atau sekitar Rp 290 triliun pada tahun fiskal yang berakhir Maret 2026. Kerugian besar itu terutama disebabkan oleh strategi kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) yang dinilai terlalu agresif di tengah melemahnya permintaan pasar global.
Penyebab Honda Merugi
Ada beberapa faktor utama yang membuat Honda mengalami kerugian besar.
1. Investasi EV Terlalu Besar
Honda sebelumnya sangat agresif mengembangkan mobil listrik untuk mengejar ketertinggalan dari produsen seperti Tesla dan BYD.
Namun, pasar mobil listrik global justru melambat. Honda akhirnya harus menanggung biaya penurunan nilai investasi dan pembatalan proyek EV hingga mencapai sekitar 2,5 triliun yen atau sekitar US$16 miliar.
Perusahaan juga membatalkan sejumlah proyek kendaraan listrik, termasuk kerja sama pengembangan EV dengan Sony.
2. Permintaan Mobil Listrik Menurun
Honda menyebut permintaan kendaraan listrik, terutama di Amerika Serikat, turun cukup tajam. Salah satu pemicunya adalah perubahan kebijakan pemerintah AS yang mengurangi subsidi kendaraan listrik dan insentif pengisian daya.
Akibatnya, target penjualan EV Honda tidak tercapai.
3. Persaingan Ketat dari China
Pasar otomotif China juga menjadi tekanan besar. Honda kesulitan bersaing dengan produsen lokal China yang menawarkan mobil listrik lebih murah dan lebih canggih secara teknologi.
4. Dampak Tarif dan Kebijakan Amerika
Tarif impor kendaraan serta komponen otomotif juga ikut menekan profit Honda. Kebijakan perdagangan Amerika Serikat membuat biaya bisnis meningkat.
Langkah Honda Mengatasi Kerugian
Menghadapi kondisi tersebut, Honda mulai mengubah strategi bisnisnya.
1. Fokus ke Mobil Hybrid
Honda kini memilih memperkuat kendaraan hybrid dibanding langsung agresif ke mobil listrik penuh. Perusahaan berencana meluncurkan 15 model hybrid baru hingga 2030.
2. Menunda Proyek EV Besar
Honda menunda proyek pabrik EV dan baterai senilai US$11 miliar di Kanada. Langkah ini dilakukan untuk mengurangi beban investasi besar di sektor EV.
3. Efisiensi dan Penghematan
Perusahaan juga melakukan efisiensi biaya operasional serta restrukturisasi bisnis otomotif agar lebih sesuai dengan kondisi pasar saat ini.
Honda Global
- Mengandalkan Bisnis Motor
Di tengah kerugian mobil, bisnis sepeda motor Honda justru masih sangat kuat. Penjualan motor Honda di India dan Brasil meningkat tajam dan menjadi penyelamat arus kas perusahaan.
- Proyeksi Bisnis Honda ke Depan
Meski mengalami kerugian besar, Honda optimistis bisa kembali untung pada tahun fiskal berikutnya. Perusahaan memproyeksikan laba sekitar 260 miliar yen pada 2027.
Honda juga menegaskan tetap akan mengembangkan teknologi ramah lingkungan, tetapi dengan pendekatan lebih realistis. Strategi baru perusahaan adalah menyeimbangkan penjualan mobil bensin, hybrid, dan EV sesuai kebutuhan pasar global.
CEO Honda, Toshihiro Mibe, mengatakan perusahaan tetap berkomitmen menuju netral karbon, namun akan lebih fleksibel melihat kondisi pasar otomotif dunia.
(berbagai sumber)

Posting Komentar untuk "Honda Rugi untuk Pertama Kalinya dalam 70 Tahun, Strategi Mobil Listrik Jadi Biang Keroknya"