![]() |
| Studi terbaru mengungkap bahwa individu dengan status sosial lebih tinggi, berpenghasilan lebih besar dan berpendidikan tinggi jauh lebih dominan menggunakan AI. (Foto: Gebrak.id/AI) |
GEBRAK.ID; JAKARTA – Kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang kian meresap dalam berbagai aspek kehidupan ternyata tidak dinikmati secara merata. Sebuah studi internasional terbaru mengungkapkan bahwa individu dengan status sosial ekonomi tinggi, mereka yang berpenghasilan besar dan berpendidikan tinggi jauh lebih dominan dalam mengadopsi dan memanfaatkan teknologi AI dibandingkan kelompok masyarakat lainnya.
Temuan ini memunculkan kekhawatiran baru tentang "kesenjangan digital" yang semakin melebar di era akselerasi teknologi, di mana AI berpotensi menjadi pisau bermata dua yang justru memperkuat ketidaksetaraan sosial yang sudah ada.
Dua Studi, Satu Kesimpulan: Ada "Jurang AI"
Setidaknya dua penelitian besar dari berbagai belahan dunia secara independen menarik kesimpulan serupa mengenai pola penggunaan AI yang timpang ini.
Pertama, penelitian yang dilakukan oleh Professor Sai Wang dan tim dari Hong Kong Baptist University yang menganalisis data dari lebih dari 10.087 orang dewasa di Amerika Serikat. Survei yang dilakukan oleh Pew Research Center di Washington DC ini mengungkap fakta mencolok: tingkat pendidikan dan pendapatan rumah tangga menjadi penentu utama seberapa besar kemungkinan seseorang menggunakan AI.
"Orang dengan tingkat pendidikan atau pendapatan yang lebih tinggi cenderung lebih sadar akan AI, lebih familiar, dan lebih mungkin menggunakan teknologi ini," demikian kutipan pernyataan Professor Wang dalam publikasinya di jurnal Information, Communication & Technology, sebagaimana dirangkum pada akhir April 2026 .
Studi lain dari Jepang yang dipublikasikan di jurnal Telematics and Informatics pada Januari 2026 juga menemukan hal serupa. Berdasarkan survei terhadap 13.367 orang dewasa, tim peneliti yang dipimpin Atsushi Nakagomi menyimpulkan bahwa individu berpenghasilan tinggi lebih mungkin menjadi pengguna AI. Faktor lain yang memperkuat peluang seseorang menggunakan AI antara lain adalah pendidikan tinggi, tinggal di daerah perkotaan, serta memiliki literasi digital yang baik .
Lebih dari Sekadar Akses: Soal Kesadaran dan Kefamiliaran
Yang menarik, kesenjangan ini tidak semata-mata soal akses terhadap perangkat keras atau internet. Professor Wang menjelaskan bahwa faktor "kesadaran" dan "rasa familiar" justru menjadi prediktor yang lebih kuat dibandingkan sekadar penggunaan teknologi itu sendiri.
"Banyak pengguna tidak menyadari bahwa fitur rekomendasi di Netflix atau Spotify didukung oleh AI, dan menganggap rekomendasi tersebut acak atau netral," ungkap Wang, menggambarkan bagaimana AI seringkali bekerja secara "tersembunyi" dalam aplikasi sehari-hari .
Hal ini menimbulkan risiko serius. Kelompok dengan kesadaran AI rendah tidak hanya kehilangan peluang untuk memanfaatkan teknologi tersebut demi keuntungan mereka, tetapi juga lebih rentan terhadap risikonya.
"Orang dengan kesadaran lebih besar mungkin lebih memahami risiko AI, seperti mengenali dan bahkan membuat deepfake, sementara mereka yang kurang sadar lebih mungkin tertipu atau dimanipulasi," tegas Professor Wang .
Risiko Memperkuat Ketimpangan yang Ada
Para peneliti memperingatkan bahwa fenomena ini dapat menciptakan spiral ketimpangan baru. Di pasar kerja, misalnya, pencari kerja berpendapatan tinggi yang sudah familiar dengan AI akan mengetahui bahwa banyak perusahaan menggunakan perangkat lunak AI untuk menyaring lamaran. Mereka pun bisa mengoptimalkan CV mereka. Sebaliknya, pencari kerja dari kelas bawah yang tidak memiliki kesadaran ini bisa kehilangan kesempatan tanpa pernah mengerti penyebabnya .
Dari sisi ekonomi, studi yang dipublikasikan di jurnal World Development (Maret 2026) bahkan menyebutkan bahwa negara-negara berpendapatan rendah menyumbang kurang dari satu persen lalu lintas penggunaan AI global, terpusat pada penggunaan untuk otomatisasi tugas rutin. Sementara itu, hampir 3 miliar kunjungan per bulan ke 40 alat AI teratas didominasi oleh pengguna dari negara maju dan ekonomi menengah .
Menutup Kesenjangan butuh Edukasi, bukan sekadar Akses
Menghadapi temuan ini, Professor Wang menekankan bahwa solusi tidak bisa sekadar memperbanyak akses ke perangkat atau aplikasi AI. Pendekatan tidak langsung seperti kampanye penyadaran masyarakat dan lokakarya berbasis komunitas dinilai lebih efektif.
"Kita perlu menggunakan bahasa yang jelas dan contoh-contoh praktis untuk membuat AI lebih mudah dipahami dan relevan bagi komunitas berpenghasilan rendah," sarannya .
Ia menegaskan, "Menutup kesenjangan kesadaran AI sangat penting, karena jika hanya orang dengan pendapatan atau pendidikan tinggi yang menyadari AI dan penggunaannya, ini akan memperkuat ketidaksetaraan sosial."
Para ahli dari Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) dalam publikasi akhir tahun 2025 juga menambahkan bahwa tanpa intervensi yang tepat, negara berpenghasilan rendah dan menengah berisiko kehilangan potensi manfaat AI sekaligus menghadapi dampak disruptifnya terhadap pasar tenaga kerja .
(berbagai sumber)

Posting Komentar untuk "Kesenjangan Digital Era AI: Studi Ungkap Orang Kaya dan Berpendidikan Tinggi Lebih Dominan Gunakan Kecerdasan Buatan"