Editor: Endro Yuwanto
Guru SDN 7 Getassrabi, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Sitimah, saat bersalaman dengan Mendikdasmen Abdul Mu'ti. (Foto: Humas Kemendikdasmen)
GEBRAK.ID; KUDUS – Pagi bahkan belum benar-benar terang ketika Sitimah mulai menyalakan sepeda motornya dari rumah sederhana di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Udara dingin selepas subuh menjadi teman setianya mengawali perjalanan panjang lintas kabupaten menuju SDN 7 Getassrabi, Kabupaten Kudus, sekolah tempat ia mengabdikan diri selama puluhan tahun.
Rutinitas itu sudah dijalani Sitimah selama lebih dari dua dekade. Setiap hari, perempuan yang kini memasuki usia senja tersebut harus menghabiskan sekitar empat jam di jalan demi bisa berdiri di depan kelas dan mengajarkan anak-anak membaca serta menulis.
“Kurang lebih saya menghabiskan waktu empat jam di jalan. Pagi hari saya jalan habis Subuh, lalu pulang setelah Dzuhur dan sampai di rumah pukul 16.00,” ujar Sitimah saat ditemui para awak media, Jumat (15/5/2026).
Bagi sebagian orang, perjalanan sejauh itu mungkin terasa melelahkan. Namun bagi Sitimah, menjadi guru bukan sekadar pekerjaan untuk mencari nafkah. Ada panggilan hati yang membuatnya tetap bertahan, meski tubuh tak lagi sekuat dulu.
“Kalau saya melanggar sumpah pegawai, saya merasa beban mental,” ucapnya lirih.
Dibayar Rp50 Ribu, tapi Tetap Bertahan Mengajar
Perjalanan pengabdian Sitimah dimulai pada 2004 saat dirinya masih berstatus guru honorer atau Guru Wiyata Bakti. Kala itu, honor yang diterimanya bahkan jauh dari kata cukup.
“Tahun 2004 saya mulai mengajar. Dua tahun kemudian dapat bayaran Rp50 ribu per bulan. Lalu tahun 2008 sampai 2010 dapat bayaran Rp220 ribu,” kenangnya.
Meski penghasilan sangat minim, Sitimah tidak pernah berpikir meninggalkan profesinya. Ia tetap datang ke sekolah, tetap mengajar dengan sabar, dan tetap percaya bahwa pendidikan adalah jalan untuk mengubah masa depan anak-anak.
Harapan baru datang ketika pemerintah membuka formasi CPNS pada 2010. Setahun kemudian, Sitimah resmi diangkat menjadi CPNS dan ditempatkan di SDN 7 Getassrabi, Kabupaten Kudus.
Di sekolah itu terdapat 72 murid dengan enam ruang kelas. Sitimah dipercaya menjadi wali kelas 1, fase yang menurutnya paling menantang sekaligus paling penting dalam pendidikan dasar anak.
Mengajar dengan Kesabaran dan Hati
Mengajar murid kelas 1 bukan perkara mudah. Banyak anak masih berada dalam masa transisi dari PAUD/TK ke sekolah dasar. Tidak sedikit yang belum lancar membaca maupun menulis.
Namun Sitimah memilih untuk tidak menyerah pada keadaan.
Sepulang sekolah, ia kerap meluangkan waktu tambahan selama satu jam untuk mendampingi murid-murid yang tertinggal pelajaran. Semua dilakukan secara sukarela tanpa biaya tambahan.
“Saya mengulang anak yang belum bisa membaca atau nelateni yang ketinggalan menulis. Sebelumnya saya sudah izin kepada orang tua anak,” ungkap Sitimah.
Baginya, keberhasilan seorang guru bukan semata soal nilai akademik, melainkan memastikan tidak ada murid yang tertinggal dalam proses belajar.
Dedikasi itu membuat Sitimah dihormati murid-murid maupun orang tua siswa. Di tengah keterbatasan, ia justru dikenal sebagai sosok yang gemar membantu sesama.
Tunjangan Guru Jadi Berkah untuk Berbagi
Sitimah mengaku bersyukur karena perhatian pemerintah terhadap kesejahteraan guru terus meningkat. Salah satunya melalui kebijakan penyaluran tunjangan profesi guru setiap bulan berdasarkan Permendikdasmen Nomor 10 Tahun 2026.
“Sebelumnya tunjangan cair per tiga bulan. Kalau tahun 2026 ini tiap bulan sesuai gaji pokok,” katanya dengan wajah sumringah.
Tambahan penghasilan itu tak hanya dipakai untuk kebutuhan keluarga. Sitimah rutin membantu anak yatim, kaum dhuafa, hingga murid-murid yang berasal dari keluarga kurang mampu.
“Alhamdulillah berkah. Saya bisa tiap tahun menyantuni anak yatim dan duafa, serta bisa ikut kurban di kampung,” katanya.
Harapan Sederhana di Usia Senja
Di balik keteguhan dan pengabdiannya, Sitimah menyimpan harapan sederhana: bisa mengajar lebih dekat dengan rumah.
Faktor usia dan kondisi kesehatan membuat perjalanan lintas kabupaten setiap hari mulai terasa berat. Ia mengaku sudah dua kali mengajukan mutasi, namun belum dapat direalisasikan karena sekolahnya masih kekurangan guru.
“Njih niku, saya ingin mutasi karena kondisi usia dan kesehatan,” ujarnya lirih.
Harapan itu kembali terbuka ketika Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti mendengar langsung kisah perjuangannya saat kunjungan kerja di Jawa Tengah.
“Dilepas saja jika ada sekolah yang sudah bersedia menerima Ibu pindah. Kasihan terlalu jauh,” ujar Mendikdasmen Abdul Mu’ti kepada perwakilan dinas pendidikan.
Pemerintah kini telah menerbitkan Permendikdasmen Nomor 1 Tahun 2025 tentang redistribusi guru ASN guna membantu pemerataan tenaga pendidik sekaligus menciptakan sistem penempatan yang lebih manusiawi.
Di tengah perjalanan panjang yang setiap hari ditempuhnya, Sitimah tetap percaya bahwa menjadi guru adalah bentuk pengabdian yang tak pernah sia-sia.
Sebab bagi dirinya, perjuangan seorang guru bukan tentang seberapa jauh jarak yang dilalui, melainkan seberapa tulus hati yang diberikan demi masa depan anak-anak Indonesia.
(Sumber: Humas Kemendikdasmen)
Posting Komentar untuk "Kisah Menyentuh Guru SD di Kudus, 22 Tahun Menempuh Perjalanan Panjang demi Murid-Murid Bisa Membaca dan Menulis"