Mahasiswa Cumlaude Jadi Eksekutor Joki UTBK di Surabaya, Tarif Tembus Rp700 Juta untuk Lolos Kedokteran

14 joki UTBK di Surabaya ditangkap polisi. (Foto: detikcom) 

Editor: Dinar Kencana

GEBRAK.ID; SURABAYA -- Sindikat perjokian Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK-SNBT) 2026 di Surabaya terbongkar. Polisi mengungkap jaringan ini telah beroperasi selama hampir sembilan tahun dan meloloskan ratusan calon mahasiswa, mayoritas ke Fakultas Kedokteran.

Kasus tersebut diungkap oleh Polrestabes Surabaya setelah pengawas ujian di Gedung Rektorat lantai 4 Universitas Negeri Surabaya (Unesa) mencurigai identitas salah satu peserta UTBK. Foto pada dokumen administrasi disebut mirip dengan peserta ujian tahun sebelumnya. Temuan itu kemudian dikembangkan hingga membongkar jaringan joki terorganisir. 

Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Luthfie Sulistiawan mengatakan polisi menetapkan 14 tersangka dalam kasus tersebut. Para pelaku dibagi dalam beberapa klaster dengan tugas berbeda, mulai dari pencari klien, broker, joki ujian hingga pembuat identitas palsu. 

Dalam pengungkapan itu, tersangka utama berinisial K disebut sebagai pengendali jaringan. Ia menerima pesanan dari calon mahasiswa maupun orang tua, lalu membagi tugas kepada anggota sindikat lainnya. Tiga tersangka diketahui berprofesi sebagai dokter dan diduga berperan sebagai broker pencari klien. Selain itu terdapat joki lapangan dan kelompok pembuat identitas palsu. 

Polisi juga mengungkap sebagian joki berasal dari kalangan mahasiswa berprestasi. Salah satu pelaku disebut merupakan calon lulusan cumlaude yang memiliki kemampuan akademik tinggi sehingga dipercaya mengerjakan soal UTBK untuk kliennya.

Dalam pemeriksaan, salah satu tersangka mengaku sudah menjalankan praktik perjokian sejak 2017. Selama sembilan tahun beroperasi, ia mengaku memiliki sekitar 150 klien. Pada 2026 saja, sindikat tersebut menerima empat hingga lima permintaan joki UTBK, meski yang benar-benar dikerjakan hanya sebagian. 

Mayoritas klien disebut ingin masuk Fakultas Kedokteran. Polisi menilai praktik tersebut sangat berbahaya karena berpotensi meloloskan calon dokter yang tidak memiliki kompetensi akademik sebenarnya. 

Soal tarif, angka yang dipatok sindikat ini fantastis. Polisi menyebut biaya jasa joki berkisar Rp500 juta hingga Rp700 juta untuk satu kursi kedokteran. Dalam pengakuan salah satu tersangka, ada klien yang membayar hingga Rp112 juta pada tahun sebelumnya. Uang tersebut kemudian dibagi kepada anggota jaringan sesuai perannya masing-masing. 

Dengan jumlah klien mencapai ratusan orang, sindikat tersebut diduga meraup keuntungan ratusan juta hingga miliaran rupiah selama beroperasi. Polisi masih mendalami aliran dana dan kemungkinan adanya kampus lain yang menjadi lokasi operasi jaringan tersebut. 

Untuk melancarkan aksinya, sindikat menggunakan berbagai modus, termasuk pemalsuan dokumen identitas. Polisi menemukan praktik edit foto pada ijazah dan KTP agar wajah peserta diganti dengan wajah joki. Bahkan, ada tersangka yang bekerja di kantor kecamatan dan diduga menjual blanko KTP kosong seharga Rp50 ribu per lembar. 

Pengungkapan kasus ini bermula dari kejelian pengawas UTBK di Unesa yang merasa curiga terhadap data peserta. Setelah dilakukan penelusuran, polisi menemukan pola identitas palsu dan keterlibatan jaringan terorganisir lintas peran. 

Kini seluruh tersangka menjalani pemeriksaan intensif. Polisi juga masih menelusuri kemungkinan adanya jaringan perjokian UTBK lain yang beroperasi lintas daerah dan melibatkan profesi tertentu untuk mencari calon mahasiswa kedokteran. 

(berbagai sumber) 

Posting Komentar untuk "Mahasiswa Cumlaude Jadi Eksekutor Joki UTBK di Surabaya, Tarif Tembus Rp700 Juta untuk Lolos Kedokteran"