Rektor UI Ungkap 4 Program Studi Tembus Ranking 100 Besar Dunia, Didominasi Sosial Humaniora

 

 4 prodi UI masuk peringkat 100 terbaik dunia. Didominasi prodi Soshum (Foto: ilustrasi) 

Editor: Devona R

GEBRAK.ID; JAKARTA– Universitas Indonesia (UI) patut berbangga. Empat program studi (prodi) kampus ini berhasil menembus peringkat 100 besar dunia versi QS World University Rankings (WUR) by Subject 2026. Yang menarik, tiga di antaranya berasal dari rumpun sosial dan humaniora (soshum).

Rektor UI, Prof. Heri Hermansyah, membeberkan data membanggakan ini secara eksklusif di kantornya, Kampus UI, Depok, Jawa Barat, Senin (4/5/2026).

"Kalau kita lihat di dalam ranking yang ada di Universitas Indonesia, justru yang dalam ranking 100 besar dunia itu ada empat program studi saat ini. Tiga di antaranya sosial humaniora," ujar Heri.

Keempat prodi tersebut adalah:

1. Antropologi

2. Hukum

3. Manajemen Informasi Perpustakaan

4. Kedokteran Gigi (Dentistry)

Prestasi ini sekaligus menjadi respons Heri atas wacana penataan program studi yang dilontarkan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).

Rektor UI: Lulusan Soshum Sangat Dibutuhkan, Tak Harus Linear

Heri menegaskan, ilmu sosial humaniora justru sangat krusial meskipun lapangan kerja tidak selalu linier dengan nama prodi. Ia mengambil contoh nyata.

"Jurusan sosiologi, tidak ada nama pekerjaannya 'sosiologi'. Tetapi, mereka yang memiliki kompetensi sosiologi akan sangat diperlukan di berbagai bidang kerja yang memerlukan dukungan orang-orang multidisiplin," jelasnya.

Ia memberi ilustrasi pembukaan pusat pertambangan. Bisnis inti memang membutuhkan insinyur teknik. Namun, urusan legalitas, HRD, keuangan, hubungan antarlembaga, hingga CSR (Corporate Social Responsibility) dengan masyarakat sekitar membutuhkan lulusan sosiologi, kesejahteraan sosial, psikologi, dan sebagainya.

"Bahkan di perusahaan tambang sekalipun, tidak 100% orang tambang," tegas Heri.

Respons Kemdiktisaintek: Bukan Ditutup, Tapi Dievaluasi dan Diperbarui

Sebelumnya, isu penataan prodi sempat mencuat. Sekretaris Jenderal Kemdiktisantek, Badri Munir Sukoco, pernah menyatakan perlunya perguruan tinggi memiliki "kerelaan hati" menyeleksi prodi yang perlu ditutup. Salah satu yang disebut oversupply (kelebihan pasokan lulusan) adalah prodi kependidikan.

"Keguruan kita meluluskan tiap tahun 490 ribu. Sementara, kebutuhan hanya 20 ribu," kata Badri.

Namun, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto, memberikan klarifikasi. Pemerintah tidak serta-merta menutup prodi, melainkan melakukan evaluasi dan pembaruan berkelanjutan (continuous improvement).

"Alih-alih ditutup, program studi itu kita kembangkan. Kita lakukan evaluasi, kita update substansinya, sehingga terus mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta temuan terbaru," ucap Brian usai memimpin upacara Hardiknas 2026 di lapangan Kemdikbud, Jakarta Pusat, Sabtu (2/5/2026).

Brian mencontohkan, prodi Teknik Elektro harus disesuaikan dengan keberadaan internet of things (IoT) dan komputasi kuantum. Intinya, substansi isi prodi yang diperbarui, bukan serta-merta menutup prodi.

Prestasi UI di kancah global ini menjadi bukti bahwa prodi soshum mampu bersaing dan relevan, selama terus beradaptasi dengan kebutuhan zaman.

(berbagai sumber) 

Posting Komentar untuk "Rektor UI Ungkap 4 Program Studi Tembus Ranking 100 Besar Dunia, Didominasi Sosial Humaniora"