![]() |
| Yons Achmad. (Foto: Dok.Pribadi) |
Salah satu kunci menyelamatkan hidup itu resiliensi. Ini jawaban motivasional yang cukup menjadi harapan bagi para profesional dan pebisnis.
Ini mungkin bukan kesimpulan yang berlaku bagi semua orang. Tapi, kesimpulan sementara perbincangan bersama beberapa pelaku bisnis di lingkar pergaulan saya.
Ya, istilahnya, sebut saja dengan resiliensi (daya tahan). Dalam pengertian yang lebih akademik, diartikan sebagai kemampuan seorang individu perusahaan untuk bertahan, beradaptasi, dan tumbuh di tengah situasi sulit, gangguan, atau perubahan yang tidak pasti.
Ini mencakup ketangguhan operasional, manajemen krisis, dan pemulihan cepat untuk melindungi reputasi dan aset dari dampak negatif.
Sebagai pelaku bisnis, saya tentu aware (menyadari) hal ini. Memang, bisnis itu tak gampang. Kalau gampang, semua orang bakal berbisnis.
Tapi, bagi mereka yang benar-benar sudah nyemplung ke dunia bisnis, sebuah daya tahan memang sangat diperlukan. Termasuk di dalamnya, sikap untuk tidak gampang mengeluh menjadi salah satu sikap penting dalam resiliensi itu.
Soal resiliensi ini tentu tidak berdiri sendiri, mesti ada semacam batu pijakan filosofis yang mendasarinya. Saya sendiri sudah memutuskan Jakarta dan sekitarnya sebagai ruang untuk menjalankan bisnis. Konon, untuk bisa tumbuh, berkembang dan maju, memerlukan mentor. Saya juga menjalankannya.
Belajar dari mentor-mentor bisnis, baik secara terang-terangan maupun diam-diam.
Suatu ketika, saya belajar dari seseorang yang saya pandang berhasil dalam bisnis. Saya datang sebagai “seteko kosong”. Berusaha menyerap sebanyak mungkin ilmu bisnisnya. Tanpa membantahnya sedikitpun. Sekian jam berlalu, saya cukup puas dengan advisory bisnisnya.
Tapi, di akhir sesi ia bilang, “Yang kita perlukan sudah saya beberkan ya, satu yang penting jangan bisnis agama,” katanya. Lengkap dengan menyebutkan nama ustaz terpandang sebagai contohnya.
“Deg”. Hati saya langsung berantakan. Dalam hati saya memang sepakat dengan pencerahan-pencerahan bisnisnya. Tapi, ketika sudah dengan mudah mencap orang dengan sebutan “bisnis agama” hati saya mulai sedikit berontak.
Saya kurang begitu sepakat dengan ujaran dan pendapat semacam ini. Tapi, biar tak kehilangan semua ilmunya, saya tetap “Ambil yang baik, abaikan yang dirasa kurang pas.”
Saya kemudian menjadi sedikit sadar juga. Soal resiliensi, saya setuju sebagai sebuah “trik” selamatkan keadaan ini. Tapi kemudian, tetap kudu punya dasar filosofis, satu di antaranya berkaitan dengan religiusitas.
Yang saya maksud di sini, lebih kepada fikroh (pemikiran) keagamaan yang lurus. Bukan anti terhadap pemikiran-pemikiran kegamaan yang ada, istilah-istilah yang konon dinilai kearab-araban, meremehkan “orang bergama” dan seterusnya.
Justru religiusitas ini diperlukan. Sebagai benteng untuk memberi warna pada daya tahan (resiliensi) itu sendiri. Mengawal sebuah usaha agar profesionalitas dan urusan bisnis bisa terus tumbuh, berkembang dan maju. Tapi, tetap terjaga “kebersihannya”.
Tanah Baru, 15 Mei 2026
*) Kolumnis, tinggal di Depok, Jawa Barat.

Posting Komentar untuk "Religiusitas untuk Resiliensi"