Riset Ungkap 1 Skill Penting Penentu Masa Depan Anak tapi Banyak Orang Tua Justru Mengabaikannya

Banyak orang tua fokus mengejar prestasi akademik anak sejak usia dini. Namun, sebuah riset terbaru justru menemukan bahwa ada satu kemampuan mendasar yang berperan besar terhadap kesuksesan anak di masa depan, tetapi seringkali luput diperhatikan dalam pola pengasuhan sehari-hari. (Foto ilustrasi: Freepik)
Editor: Devona R

GEBRAK.ID; JAKARTA — Banyak orang tua fokus mengejar prestasi akademik anak sejak usia dini. Namun, sebuah riset terbaru justru menemukan bahwa ada satu kemampuan mendasar yang berperan besar terhadap kesuksesan anak di masa depan, tetapi seringkali luput diperhatikan dalam pola pengasuhan sehari-hari.

Pelatih pengasuhan anak bersertifikasi asal Amerika Serikat (AS), Reem Raouda, menyebut rasa aman emosional menjadi fondasi utama tumbuhnya kepercayaan diri dan ketahanan mental anak.

Menurut Raouda, anak yang merasa aman secara emosional akan lebih mudah berkembang, mampu mengelola tekanan, serta memiliki hubungan sosial yang lebih sehat ketika dewasa.

“Anak-anak yang merasa aman cenderung tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, tangguh, dan mampu menghadapi tantangan hidup,” ujar Raouda dalam riset pengasuhan yang dikutip dari laporan pendidikan internasional, Jumat (8/5/2026).

Dalam penelitiannya terhadap 200 anak, Raouda menemukan bahwa lingkungan yang membuat anak merasa tidak nyaman atau tertekan justru memicu perilaku membangkang, sulit mengendalikan emosi, hingga munculnya masalah perilaku lainnya.

Kondisi tersebut, kata dia, sering kali muncul bukan karena anak “nakal”, melainkan akibat kurangnya rasa aman dalam hubungan dengan orang tua.

Banyak orang tua tanpa sadar terlalu fokus pada aturan, nilai akademik, atau tuntutan prestasi sehingga mengabaikan kebutuhan emosional anak. Padahal, rasa aman emosional menjadi dasar penting bagi perkembangan otak dan kemampuan sosial anak.

Raouda jugamenekankan bahwa pola komunikasi yang hangat dan suportif memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan mental anak. Anak yang merasa didengar dan diterima cenderung lebih terbuka, mandiri, dan mampu menyelesaikan masalah dengan lebih baik.

Raouda menjelaskan, rasa aman bukan berarti memanjakan anak atau membebaskan mereka tanpa aturan. Sebaliknya, anak tetap membutuhkan batasan yang jelas, tetapi disampaikan dengan pendekatan yang tenang dan penuh empati. “Ketika anak merasa aman, mereka tidak perlu melawan hanya untuk merasa didengar,” katanya.

Raouda menilai banyak orang tua masih menganggap disiplin identik dengan hukuman keras atau tekanan verbal. Padahal, pendekatan tersebut justru bisa membuat anak menarik diri, kehilangan rasa percaya diri, bahkan mengalami stres berkepanjangan.

Sejumlah penelitian psikologi perkembangan juga menunjukkan bahwa hubungan emosional yang sehat antara orang tua dan anak berkaitan erat dengan kemampuan akademik, kecerdasan sosial, hingga kesehatan mental saat dewasa.

Karena itu, para ahli menyarankan orang tua mulai membangun komunikasi yang lebih positif di rumah. Hal sederhana seperti mendengarkan cerita anak, menghindari bentakan, serta memberi ruang bagi anak mengekspresikan perasaan dinilai mampu memperkuat rasa aman emosional mereka.

Di tengah tekanan pendidikan dan persaingan yang semakin tinggi, kemampuan bertahan menghadapi tantangan atau resilience kini dianggap sama pentingnya dengan prestasi akademik.

Bagi banyak ahli pendidikan dan pengasuhan, keberhasilan anak di masa depan tidak hanya ditentukan oleh nilai tinggi, tetapi juga oleh kemampuan mereka merasa aman, percaya diri, dan mampu bangkit dari tekanan hidup.

(Berbagai Sumber)



Posting Komentar untuk "Riset Ungkap 1 Skill Penting Penentu Masa Depan Anak tapi Banyak Orang Tua Justru Mengabaikannya"