![]() |
| Ironi beras, ketika stok melimpah tapi harga tetap naik. (Foto: kementan.go.id) |
GEBRAK.ID; JAKARTA---Di tengah klaim pemerintah soal stok beras nasional yang melimpah, masyarakat justru dihadapkan pada kenyataan pahit di pasar. Harga beras terus merangkak naik dalam dua pekan terakhir, memicu pertanyaan publik: jika stok aman dan gudang penuh, mengapa harga tetap mahal?
Kementerian Perdagangan (Kemendag) berdalih kenaikan harga beras dipicu naiknya harga gabah di tingkat petani hingga mahalnya kemasan plastik dan biaya distribusi. Namun alasan tersebut mulai menuai sorotan karena dianggap tidak sepenuhnya menjawab persoalan utama di lapangan.
Direktur Bina Pasar Dalam Negeri Kemendag, Nawandaru Dwi Putra, mengatakan harga gabah saat ini berada di kisaran Rp7.600 hingga Rp8.000 per kilogram. Menurutnya, kondisi itu berdampak langsung terhadap harga beras di tingkat eceran.
“Perlu kami laporkan, tingginya harga beras pada kurun waktu dua minggu ini disinyalir karena tingginya harga gabah di pasar,” kata Nawandaru dalam Rapat Pengendalian Inflasi Daerah yang dipantau daring di Jakarta.
Tak hanya gabah, Kemendag juga menyebut biaya transportasi dan harga kemasan plastik ikut menjadi pemicu naiknya harga beras di pasaran.
Namun kondisi ini justru memunculkan ironi besar. Pemerintah sebelumnya berkali-kali mengklaim cadangan beras nasional melimpah. Bahkan Perum Bulog disebut memiliki stok tinggi dan pemerintah sempat menjajaki peluang ekspor beras hingga 200 ribu ton ke Malaysia.
Fakta bahwa harga tetap naik saat stok berlimpah membuat banyak pihak mempertanyakan efektivitas pengendalian pangan pemerintah. Bagi masyarakat kecil, banyaknya stok tidak berarti apa-apa jika harga di pasar tetap membebani pengeluaran harian.
Media nasional bahkan menyoroti kondisi ini sebagai “ironi klasik”, ketika surplus beras hanya terasa di atas kertas dan konferensi pers, tetapi tidak dirasakan di dompet rakyat.
Kemendag sendiri mengakui beras masih menjadi salah satu penyumbang inflasi nasional. Pada April 2026, komoditas beras memberi andil inflasi sebesar 0,02 persen secara bulanan dan 0,18 persen secara tahunan.
Sementara itu, persoalan plastik ternyata memang ikut menjadi perhatian pemerintah. Badan Pangan Nasional (Bapanas) sebelumnya menyebut kenaikan harga bahan baku plastik global bisa mendorong harga beras naik sekitar Rp300 per kilogram. Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, mengatakan lonjakan biaya kemasan berdampak langsung terhadap harga pangan nasional.
Di sisi lain, Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, sebelumnya sempat memastikan harga beras tidak akan naik meski harga plastik dunia melonjak akibat konflik geopolitik global. Pernyataan itu kini menjadi sorotan karena kondisi di pasar justru menunjukkan sebaliknya.
Untuk menekan kenaikan harga, pemerintah mengaku akan mengandalkan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Kemendag meminta pemerintah daerah bekerja sama dengan Perum Bulog agar distribusi beras SPHP lebih merata hingga ke pasar rakyat.
“Kami harapkan pemerintah daerah meminta bantuan Bulog untuk mendeliver secara merata dan kontinyu,” ujar Nawandaru.
Pemerintah juga berencana mengoptimalkan penyaluran beras SPHP langsung ke pedagang pengecer di pasar tradisional agar harga lebih terkendali. Namun hingga kini, masyarakat masih menunggu bukti nyata di lapangan, bukan sekadar janji stabilisasi.
Berdasarkan pantauan Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP), harga beras medium di sejumlah wilayah bahkan sudah melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET). Di zona 2, harga beras medium mencapai Rp14.500 per kilogram atau 3,38 persen di atas HET, sedangkan di zona 3 menyentuh Rp17.500 per kilogram atau 13,05 persen di atas HET. Untuk beras premium, kenaikan bahkan lebih tinggi.
Kondisi tersebut membuat publik semakin mempertanyakan efektivitas tata kelola pangan nasional. Ketika stok disebut aman, tetapi harga tetap naik, masyarakat akhirnya kembali menjadi pihak yang paling menanggung beban.
(berbagai sumber)

Posting Komentar untuk "Stok Beras Melimpah tapi Harga Naik, Alasan Kemendag Dinilai Janggal: Gabah dan Plastik Jadi Kambing Hitam?"