Tak Ada Lagi Celah Curang! UM-PTKIN 2026 Dipagari Detektor Logam, CCTV, hingga Soal Acak

Konferensi pers penerimaan mahasiswa baru Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) di Jakarta, Rabu (3/5/2026). (Foto: Antara)
Editor: Devona R

GEBRAK.ID; JAKARTA – Kasus kecurangan yang mengoyak kredibilitas Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) baru-baru ini meninggalkan trauma mendalam bagi dunia pendidikan tinggi Indonesia. Kini, giliran Ujian Masuk Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (UM-PTKIN) 2026 yang bersiap menggelar seleksi dengan benteng pengawasan berlapis. 

Panitia tak mau kecolongan. Kali ini, tak ada ruang bagi para "joki" dan segala bentuk kecurangan untuk bernapas.

Ketua Panitia Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru PTKIN, Prof. Abd Aziz, menegaskan bahwa pihaknya telah merancang sistem pengawasan super ketat. UM-PTKIN 2026 akan mengandalkan Sistem Seleksi Elektronik (SSE) yang didesain menjamin seleksi berlangsung jujur, objektif, dan efisien.

“Bahwa nanti kita akan ada beberapa alat digital untuk mengawasi kepada mereka, dan tentu kita juga akan mempunyai pengawas SSE yang ada di situ juga,” ujar Aziz dalam Konferensi Pers Pendaftaran UM-PTKIN 2026 di The Grand Platinum Hotel Jakarta, Rabu (13/5/2026).

Lapisan Pertahanan Berlapis, dari Metal Detector hingga Soal Acak

Tak mau sekadar retorika, panitia menyiapkan enam lapis strategi pengawasan. Bendahara Forum Pimpinan PTKIN, Prof. Martin Kustati, merinci langkah-langkah tersebut dalam kesempatan yang sama.

Pertama, verifikasi identitas ketat. Wajah peserta akan dicocokkan dengan kartu identitas di seluruh PTKIN penyelenggara. Ini menjadi gerbang awal untuk membendung praktik joki yang kerap mengirim orang lain untuk mengerjakan ujian.

Kedua, pengawasan ganda melalui pengawas ruang ujian dan pengawas SSE yang memantau lewat CCTV secara real-time. “Pengawas SSE akan ditempatkan pada ruangan khusus dan memantau secara langsung setiap ruangan ujian. Proses ini memungkinkan kecurangan, termasuk praktik joki, bisa terdeteksi dari awal,” jelas Aziz.

Ketiga, sterilisasi barang bawaan menggunakan metal detector. Seluruh barang peserta akan dititipkan di ruang khusus, dan hanya alat tulis yang boleh dibawa masuk. Ini untuk mencegah alat komunikasi atau perangkat elektronik yang bisa digunakan untuk menyontek.

Keempat, sistem pengacakan tempat duduk. Peserta tak bisa lagi mengondisikan posisi duduk dengan teman yang sudah dikenal. “Artinya, bertanya dengan teman yang lain yang sudah dia kenal, atau mereka mencoba untuk bertanya, juga melakukan konfirmasi, apakah duduk berdekatan itu tak mungkin dilakukan,” tegas Martin.

Kelima, sistem pengacakan soal. Setiap peserta akan mendapatkan paket soal yang berbeda dengan peserta lainnya. Ini membuat praktik mencontek antar peserta menjadi sia-sia.

Keenam, pengawas dibekali penguatan integritas. Sebelum ujian dimulai, panitia akan memberikan pembekalan nilai-nilai kejujuran selama 5-10 menit. “Panitia yang ditugaskan untuk mengawas juga memberikan sanksi tegas apabila terdapat ataupun teridentifikasi terjadinya kecurangan selama pelaksanaan kegiatan,” ujar Martin lagi .

Sanksi tak Pandang Bulu: Lulus Pun Bisa Dibatalkan


Prof. Aziz menekankan bahwa panitia tak akan ragu menjatuhkan sanksi berat bagi pelaku kecurangan, termasuk mereka yang terbukti menggunakan jasa joki. “Saya kira sanksinya sudah jelas lah kita akan batalkanlah kelulusan mereka,” tegasnya.

Langkah ini bukan tanpa alasan. Sejarah mencatat, kecurangan dalam seleksi masuk PTKIN pernah terjadi. Pada 2019 silam, dua peserta UM-PTKIN di IAIN Surakarta kedapatan menggunakan joki. 

Kasus serupa juga sempat mengguncang UIN Alauddin Makassar pada 2017. Artinya, modus operandi joki bukanlah hal baru, dan panitia kali ini ingin memastikan tak ada lagi celah yang bisa dimanfaatkan.

Pendaftaran UM-PTKIN 2026 Masih Dibuka

Bagi calon mahasiswa yang ingin menempuh pendidikan di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri, pendaftaran UM-PTKIN 2026 masih dibuka. Panitia mengimbau peserta mempersiapkan diri sebaik-baiknya dan menjunjung tinggi kejujuran selama proses seleksi.

Dengan benteng pengawasan berlapis ini, harapannya UM-PTKIN 2026 bisa menjadi contoh bagaimana seleksi pendidikan tinggi dijalankan dengan integritas tinggi. Seperti pesan Prof. Aziz, “Dari awal kita sudah menanamkan kejujuran. Sikap integritas dan kejujuran juga ditekankan kepada pengawas dan pelaksana PTKIN.” Kini, bola ada di tangan peserta: lulus dengan bangga, atau gagal karena curang.

(Sumber: PTKIN)

Posting Komentar untuk "Tak Ada Lagi Celah Curang! UM-PTKIN 2026 Dipagari Detektor Logam, CCTV, hingga Soal Acak"